Oleh Gufron Aziz Fuadi *
SAAT saya SD, Mbah saya kalau berdagang ke Pasar Gedungtataan atau ke Pasar Pringsewu masih menggunakan gerobak sapi untuk membawa dagangannya sebelum subuh. Mbah menyusul dengan naik oplet. Begitupun kalau beli pasir dari Kali Bulok. Tetapi saat itu, sopir gerobak sapi, tidak lagi disebut bajingan, tetapi tukang gerobak.
Padahal dulu di jaman Kerajaan Mataram, Abad 16, tukang gerobak disebut bajingan. Ya, bajingan adalah sebutan bagi kusir atau penarik gerobak sapi.
Menurut cerita, nama profesi bajingan berasal dari seorang penarik gerobak senior legendaris, Mbah Jingan. Karena sering terucap kalimat, Mbah Jingan ne ndi (Mbah Jingannya mana)? Seringnya sebutan Mbah Jingan, Mbah Jingan akhirnya berubah menjadi bajingan.
Riwayat lain menyebutkan istilah bajingan itu berasal dari singkatan ungkapan, bagusing jiwo angen-angen ning pangeran atau bagusnya jiwa yang selalu ingat memikirkan Tuhan. Konon, pada waktu itu para bajingan penarik gerobak tersebut meskipun sibuk dan lelah diperjalanan tetap berhenti untuk salat atau sembahyang bila sudah masuk waktunya.
Asal usul kata bajingan menjadi umpatan terjadi karena adanya pergeseran makna kata bajingan pada Abad ke-19, tepatnya sejak tulisan Multatuli memuat kata tersebut dalam buku Max Havelaar. Dalam buku terbitan tahun 1860, kata bajingan mulai berkonotasi negatif. Paling tidak tulisan Multatuli berikut ini mengindikasikan demikian:
Baca juga: PKS Tolak MK Putuskan Syarat Umur Capres Cawapres 35 Tahun: Serahkan ke DPR Saja
"Nak, jika mereka memberitahumu bahwa aku adalah bajingan yang tidak memiliki keberanian melakukan keadilan, bahwa banyak ibu yang meninggal karena kesalahanku…"
Sejak itu kosa kata bajingan bergeser maknanya menjadi ungkapan yang berkonotasi negatif. Setidaknya hal ini bisa dilihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dimana kata bajingan diartikan sebagai penjahat, pencopet atau makian untuk orang yang kurang ajar.
Selanjutnya menurut KBBI, bajingan diambil dari kata bajing yang artinya tupai atau kiasan untuk pencoleng yang mencuri barang muatan dari atas kendaraan (seperti truk, bus) yang sedang berjalan. Belakangan profesi ini dikenal dengan sebutan bajing loncat.
Kemudian, kata bajing diturunkan menjadi kata bajingan yang didefinisikan secara spesifik sebagai penjahat atau pencopet. Istilah tersebut juga dikategorikan dalam adjektiva atau kata sifat kasar yang mengandung arti kurang ajar dan digunakan sebagai kata makian.
Tahun 1974 dirilis film yang dibintangi oleh Krisbiantoro yang berjudul "Bajingan Tengik". Film ini berkisah tentang Karto (Krisbiantoro) seorang preman jagoan yang menjadi kaki tangannya Gerrard V dBrink. Yang suka menjilat tuanya dan menakuti rakyat biasa.
Baca juga: Bima Sakti Pastikan Tim Diturunkan Melawan Kashima Jadi Tulang Punggung Timnas U-17
Dia akan melakukan apa saja asal bisa membuat tuannya suka, termasuk mencarikan daun muda untuk tuannya. Meskipun Karto di luar rumah adalah preman jagoan yang sangat ditakuti tetapi dia sangat takut dengan istrinya, yang diperankan oleh Connie Sutedja.
Perilaku penjilat seperti buzzerp memang cocok disebut dengan istilah bajingan tengik. Karena sosok dengan karakter penjilat ini lebih berpikir untuk kepentingannya sendiri, bukan untuk orang banyak.
Mereka paling suka menyenangkan orang yang sedang berkuasa atau punya kekuasaan, untuk keuntungan dan kesenangan sendiri. Mereka dengan senang hati memuji dan menyanjung tuanya. Disisi lain dia juga sangat bersemangat mengancam dan menindas orang lain yang berani menyerang kehormatan tuannya. Begitulah bajingan tengik.
Perilaku mbajug dan kurang ajar serta menjilat inilah yang kemudian disematkan istilah bajingan tengik. Belakangan istilah bajingan tengik disematkan pada orang yang suka mempermainkan wanita. Hal ini misalnya dalam lagu dangdut yang dinyanyikan oleh Zenita dengan judul "Bajingan Tengik".
Baca juga: Hasil Uji Coba : Timnas Indonesia U-17 Kalah Tipis Dari Kashima Antlers U-18
Tengik adalah sebutan untuk bau atau rasa yang sangat tidak enak. Biasanya sering dipakai untuk makanan yang kadaluarsa, biasanya kue yang berminyak seperti wajik, dodol atau kue lainnya.
Maka ketika sekarang muncul istilah baru, "Bajingan tolol", yang paling marah adalah para bajingan tengik. Mungkin karena takut gelar bajingan tengik nya akan kalah pamor atau untuk mendapatkan perhatian lebih dari tuannya.
Maka kata Apoy, Wali Band:
Aku tahu kamu
Kamu seorang bajingan
Aku tahu kamu
Kau banyak jurus andalan
Tapi ada satu
Hal yang harus kamu tahu
Wanita juga tak mau
Bila terus, terus kau tipu...
Dasar bajingan..
Wallahua'lam bi shawab
* Ketua Wilayah Sumbagsel DPP PKS