Aku Harus Bagaimana

Minggu, 10 September 2023 22:03
Gufron Aziz Fuadi


Oleh Gufron Aziz Fuadi *

ALLAH berfirman dalam surat Ibrahim, 4: "Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana."

Puisinya Gus Mus (1987) yang berjudul "Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana" dibaca oleh Ganjar Pranowo dalam talk show TV nasional. sempat viral. Pembacaan puisi ini viral pada April 2019 karena waktunya tudak terlalu lama dengan pembacaan puisi, 'Ibu Indonesia" oleh Sukmawati Soekarnoputri pada rahun 2018, dalam acara '29 Tahun AnneAvantieBerkarya di Indonesia FashionWeek 2018'. Dalam puisi itu, Sukmawati membandingkan azan dengan kidung dan cadar dengan konde.

Sehingga saat Ganjar membaca puisi yang diantara baitnya berbunyi:
"Kau bilang Tuhan sangat dekat, namun kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara setiap saat." Pada bagian ini kemudian dia dinilai melecehkan suara adzan sebagai panggilan salat yang jamak dilakukan masjid-masjid di Indonesia.

Dan sekarang peristiwa itu kembali menjadi viral, bukan karena Ganjar membaca ulang puisi itu, tetapi karena dia sekarang menjadi pemeran figuran dalam tayangan adzan di RCTI yang HTS, pemiliknya, adalah pendukung Ganjar.

Baca juga: KRT Oking Serahkan SK Persadin Sumsel di Palembang

Jadi, tayangan itu dinilai kontradiktif!
Sehingga ada netizen yang berkomentar, kok mendadak kadrun!
Ada juga yang mengatakan, kok mendadak lupa dengan puisinya?

Begitulah sebuah syair, baik lagu maupun puisi. Maknanya sering kali berbeda tergantung dengan kapan dibacanya dan siapa yang membacanya.

Mungkin bagi kita biasa biasa saja saat melantunkan lagu "Galang rambu anarki", tetapi tidak bagi Iwan Fals. Karena lagu itu betul betul kata hati terhadap kejadian yang dialami oleh Iwan saat menyaksikan kondisi sisial masyarakat dan kelahiran anak pertamanya.

Sama dengan ketika Anang Hermansyah bisa dengan sepenuh jiwa melantunkan:
Separuh jiwaku pergi
Memang indah semua
Tapi berakhir luka
Kau main hati dengan sadarmu
Kau tinggal aku
Benar 'ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati hati ini
Kau curangi aku

Maka saya sering menyarankan kepada caleg muda agar berpempilan sebagaimana aslinya anak muda. Lebih bebas, sesuai dengan jiwanya. Jangan meniru niru tampilan caleg tua yang formal dan established. Atau kadang berpenampilan muda agar terlihat seolah olah sejiwa dengan pemilih muda.

Baca juga: Soal Duet Ganjar-RK, Pengamat : Jika Terwujud Bakal Bikin Pilpres 2024 Lebih Kompetitif

Tetapi bagaimana pun yang asli akan berbeda dengan yang imitasi. Saya beberapa kali bertanya kepada sopir taksi atau tukang ojek, mengapa memilih cagub A bukan cagub B? Apakah cagub lebih pinter atau lebih berwibawa?

Ternyata jawabannya, hanya karena cagub A berbicara sesuai dengan kapasitas akal masyarakat pemilih. Tidak banyak bicara visi misi hanya menjelaskan bagwa saya akan melakukan ini dan menyelesaikan masalah itu sambil memamerkan kartu ini dan kartu itu. Sederhana tapi efektif (komunikasinya).

Ini seperti dengan kata-kata bijak: "Orang pintar, mengubah masalah besar menjadi masalah kecil dan masalah kecil menjadi seperti tidak ada sama sekali."
Oleh karena itu orang tua sering menasihati dengan ungkapan:
"Setengah dari tampak pintar adalah menutup mulut pada waktu yang tepat."

Dalam al Quran ada beberapa bentuk komunikasi efektif yang digambarkan dengan beberapa ungkapan yaitu: 
Qawlan Baligha (perkataan tepat sasaran/efektif), Qawlan Maisura (perkataan yang mudah dicerna), Qawlan Layyina (perkataan yang lemah lembut), Qawlan Ma’rufa (perkataan yang sesuai norma/nilai), Qawlan Kariima (perkataan yang mulia), dan Qawlan Sadiida (perkataan yang jelas).

Baca juga: Bacaleg Ketut Rayakan HUT ke-22 Partai Demokrat di Lamsel

Maka seseorang yang pernah dengan lantang mengucapkan:
"Kau bilang Tuhan sangat dekat, namun kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara setiap saat", kemudian menjadi bintang tayangan adzan di televisi sepertinya kok anomali dan kontradiktif.
Jadi jarus bagaimana?
Ya seperti lanjutan puisinya Gus Mus itu:
Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau
Kau tak mau,
Aku bilang terserah kita
Kau tak suka,
Aku bilang terserah aku
Kau memakiku,
Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana..

Maka benarlah Rasulullah Saw ke ketika beliau bersabda:
“Tidaklah Engkau berbicara dengan suatu kaum dengan suatu perkataan yang tidak bisa digapai oleh akal mereka, kecuali akan menjadi fitnah (kesesatan) bagi sebagian mereka” (HR. Muslim)

Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)

Berita Terkini