HELOINDONESIA.COM -Suasana hangat penuh nostalgia mewarnai pertemuan sejumlah tokoh musik rock Surabaya di Cafe Artotel Surabaya, Selasa, 12 Agustus 2026. Malam itu hadir Pendiri Classic Rock Family (CRF) Piton dan Indra Kumis, serta musisi senior dan guru musik legendaris Priyatna. Turut bergabung pengurus salah satu asosiasi wartawan Adi dan Rama wartawan senior, sambil menikmati penampilan live music yang dibawakan grup DOTAIDI.
Pertemuan tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan juga ruang diskusi tentang perjalanan musik rock Surabaya, semangat komunitas, hingga perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam dunia musik.
Menurut Piton yang juga sang ketua, CRF lahir dari kerinduan para musisi dan penikmat rock era 1980-1990-an yang lama tidak bertemu. Ia menjelaskan bahwa komunitas ini mulai terbentuk pada tahun 2016 setelah obrolan santai dengan Indra Kumis berkembang menjadi gagasan membangun grup WhatsApp untuk mengumpulkan kembali teman-teman lama.
“Setelah 40 tahun baru ketemu lagi. Ya sudah, kita bernostalgia sama teman-teman, kadang bikin acara, manggung, buat panggung,” ujarnya.
Piton mengenang masa ketika Surabaya memiliki tradisi konser rock yang kuat, terutama di kawasan THR yang dahulu menjadi pusat pertunjukan musik. Namun dalam beberapa tahun terakhir, konser rock besar semakin jarang digelar. Dari situlah muncul keinginan untuk menghadirkan kembali ruang bagi para musisi dan penggemar rock klasik.
Komunitas CRF kini berkembang cukup besar. Anggotanya tidak hanya berasal dari Surabaya, tetapi juga Malang, Jakarta, dan kota-kota lain. Sejumlah nama musisi senior disebut pernah bergabung atau berinteraksi dengan komunitas ini, di antaranya Jelly Tobing, Ikang Fawzi, Mel Shandy, Arthur, hingga Utok.
“Intinya kita orang-orang lama yang ingin menjaga lagu-lagu klasik tetap hidup. Terbukti lagu-lagunya masih legend dan masih enak didengar,” kata Piton.
Ia juga melihat fenomena menarik di media sosial. Menurutnya, lagu-lagu Deep Purple, Guns N’ Roses, Bon Jovi, hingga Led Zeppelin justru kembali populer di kalangan remaja SMP dan SMA melalui YouTube dan TikTok.

Bahas aksi rock di Kota Lama
“Cucu-cicit kita malah memainkan lagu-lagu kakek-neneknya. Itu bukti musik rock klasik masih punya tempat,” tambahnya.
Sementara itu, Indra Kumis menegaskan bahwa tujuan utama CRF adalah mengakomodasi seluruh elemen komunitas rock, mulai dari penggemar, talenta muda, hingga para musisi senior.
“Tujuannya membangkitkan semangat musik rock di Surabaya. Surabaya ini barometernya musik rock di Indonesia,” ujarnya.
Menurut Indra, CRF tidak hanya aktif di media sosial, tetapi juga rutin mengadakan berbagai event agar musik rock tetap berkembang dan tidak kehilangan regenerasi. Ia berharap komunitas ini menjadi wadah yang mempertemukan generasi lama dan generasi baru dalam satu semangat yang sama.
Dalam diskusi tersebut, Priyatna juga memberikan pandangan menarik tentang perkembangan teknologi AI dalam dunia musik. Sosok guru musik yang telah melahirkan banyak murid terkenal seperti Piyu, Andra, Ivan, bahkan salah satu murid yang kemudian direkrut grup musik luar negeri Iron Maiden, menilai AI membawa dampak positif sekaligus tantangan bagi musisi.

Priyatna Sang Guru
Menurutnya, AI kini mampu membantu membuat lirik, ide lagu, hingga komposisi sederhana melalui berbagai platform digital dan aplikasi yang mudah diakses masyarakat.
“Sekarang orang biasa yang bisa memakai HP, tahu AI atau ChatGPT, bisa minta dibuatkan lirik tentang cinta, kegagalan, hutan, dan sebagainya,” ujarnya.
Namun Priyatna menekankan bahwa kemampuan teknologi tidak otomatis menggantikan kreativitas manusia. Bagi orang yang tidak bisa membuat lagu, AI dapat menjadi alat bantu yang membuka peluang berkarya. Sebaliknya, bagi musisi yang memang memiliki kemampuan mencipta, AI justru bisa menjadi sarana untuk memperkaya ide dan menghasilkan karya yang lebih baik.
“Ada sisi positif dan negatifnya. Bagi yang kreatif, AI bisa membuat hasilnya lebih hebat. Tetapi musisi tetap diuji oleh kemampuan individunya,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa proses menciptakan lagu tetap membutuhkan inspirasi, pengalaman batin, dan kepekaan artistik yang tidak mudah digantikan teknologi.
Menutup perbincangan, para tokoh musik yang hadir sepakat bahwa rock Surabaya belum kehilangan nyawanya. Komunitas seperti CRF menjadi bukti bahwa semangat persaudaraan, nostalgia, dan regenerasi masih terus bergerak. Di tengah perubahan zaman, dari panggung THR hingga era Spotify dan AI, musik rock klasik tetap menemukan jalannya untuk bertahan dan menjangkau generasi baru.***(AdiG)
