Helo Indonesia

Pengamat: Golkar Prioritaskan Airlangga Jadi Cawawpres, Bisa ke Anies Baswedan

Winoto Anung - Nasional
Selasa, 2 Mei 2023 00:03
    Bagikan  
Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono dan Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto memberikan
Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono dan

Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono dan Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto memberikan - Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono dan Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto memberikan keterangan pers setelah pertemuan dengan SBY di Cikeas, Bogor.

HELOINDONESIA.COM - Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) sudah ditinggal PPP yang gabung dengan PDIP. Menariknya  para petinggi parpol yang tergabung di KIB menyatakan masih solid. Tapi realitasnya Golkar dan PAN tinggal berdua.

Dan Golkar kini kebingungan. Dua hari lalu Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarti mengunjungi Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Suliso Bambang Yudhoyono (SBY). 

Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi mengatakan, dengan kondisi Sekaran Golkar akan memprioritaskan Airlangga menjadi cawapres. Lantas arahnya koalisi mana?

“Golkar saya kira Golkar akan memprioritaskan koalisi yang menempatkan Pak Airlangga sebagai cawapres,” kata Burhanuddin Muhtadi.

Lantas arahnya koalisi mana? Kalau Golkar tidak membuat poros koalisi, maka Airlangga kemungkinannya bisa ditawarkan ke Koalisi yang mengusung Ganjar Pranowo, atau ke Koaliri Indonesia Rakyat dengan capres Prabowo. Bisa juga ke Koalisi Perubahan, dalam hal ini menjadi cawapres Anies Baswedan.

“Bisa Pak Prabowo, bisa Ganjar, kalau ada potensi meminang Pak Airlanggga, bisa juga ke Anies baswedan. Ini misalnya kalau ada salah satu parpol pendukung Koalisi Perubahan masuk angin di tengah jalan, perlu Golkar untuk menutupi syarart teknis presidential Threshold 20 persen, mengapa tidak,” tambah Burhanuddin Muhtadi.

Ditegaskannya, Golkar sendiri kursinya besar, tetapi tiga poros yang tebentuk sudah terpenuhi syarat presidential Threshold 20 persen. Tak perlu tambahan lagi. Maka ketiga poros koalisi, kalau ingin menambah anggota, atau calon cawapres, tentu tokoh yang mempunyai daya dongkrak.

“Jadi yang dibutuhkan Anies, Pak Prabowo, Ganjar, adalah cawapres yang mempunya daya dongkrak electoral,” tuturnya.

Tapi, kalau tiga poros ini tiba-tiba ada yang masuk angin di tengah jalan, dan kekurangan syarat 20 persen, maka Golkar menjadi menentukan.

“Meskipun misalnya elektabilitas Pak Airlangga kurang kompetitif, tapi kalau ada salah satu partai tarik dukungan, maka Golkar masuk dengan membawa term of conditionnya namanya Pak Airlangga,” ujar Burhanuddin Muhtadi. (*)

(A Winoto)