BANJARBARU, HELOINDONESIA - Dibawah sinar hangat mentari yang membelai kawasan Kota Banjarbaru, terdapat sebuah destinasi wisata yang tak hanya memikat mata, tetapi juga menyentuh jiwa. Kebun Raya Banua (KRB), sebuah kebun raya yang melingkupi ratusan koleksi flora, telah menjadi bukan sekadar destinasi wisata alam, melainkan sebuah wahana edukasi yang memikat hati dan layak untuk dikunjungi.
Terhampar luas di atas lahan seluas sekitar 100 hektare, KRB menjulang megah di tengah-tengah pusat perkantoran Provinsi Kalimantan Selatan. Dengan jarak tempuh hanya 15 menit dari pusat kota, KRB menyuguhkan pesona alam yang memikat dan menyejukkan hati.
Berdiri tegak sejak tahun 2012 dan resmi dibuka untuk umum pada tahun 2016, Kebun Raya Banua Kalsel telah menjadi rumah bagi lebih dari 3 ribu tanaman koleksi, termasuk 2.100 tanaman obat, dikotil, monokotil, serta lebih dari 900 spesimen anggrek dari beragam jenis. Meskipun terletak di lahan yang dulunya kurang subur, berupa tanah urukan bekas tambang dan berbatu, namun dengan perawatan yang teliti, kini KRB telah tumbuh subur dengan keanekaragaman pepohonan dan tanaman yang mempesona pengunjungnya.
Muhammad Novian Ramadhan, Kasi Penelitian dan Konservasi Kebun Raya Banua, dengan bangga menyatakan bahwa KRB telah menjadi destinasi favorit para pelajar dan keluarga. Tiap waktu, jumlah pengunjungnya terus meningkat, menandakan daya tariknya yang tak pernah pudar.
KRB bukan sekadar kebun raya biasa, melainkan tempat yang mengkhususkan diri dalam koleksi tanaman obat dan pelestarian tanaman langka khas Kalimantan. Tim ekspedisi KRB secara berkala melakukan perjalanan untuk mengumpulkan tanaman langka, memperkaya koleksi kebun, termasuk tanaman obat-obatan dari berbagai daerah di sekitar provinsi.
Di samping itu, di kawasan KRB juga berdiri dengan megah Pusat Penelitian Tanaman Obat Endemik Kalimantan, yang menjadi pusat penelitian bagi beragam tanaman obat khas daerah tersebut. Tak hanya menawarkan pesona alam yang memesona, KRB juga menyediakan berbagai fasilitas menarik seperti Gedung Konservatorium dan kawasan wisata agro.
Tidak lupa, monumen berbentuk Tugu Reklamasi yang menjulang di tengah-tengah kebun, menjadi saksi bisu bahwa kawasan KRB yang luasnya mencapai 100 hektare ini dulunya adalah lahan tambang yang telah berhasil direklamasi dengan sukses.
Dan tidak berhenti di situ, Kementerian PUPR dan Balai Besar Sungai Wilayah II Kalimantan juga turut berperan dengan membangun embung di kawasan KRB. Embung tersebut bukan hanya sebagai cadangan air untuk kepentingan tanaman koleksi kebun raya, tetapi juga menjadi spot favorit masyarakat, terutama saat senja tiba, untuk menikmati keindahan matahari tenggelam yang mempesona.
Di tengah hamparan hijau KRB, tersedia pula berbagai fasilitas lain seperti labirin, area aromatik, camping ground, dan zona tanaman, yang menjadi tempat berkumpul dan bermain para pengunjung, terutama wisatawan dan keluarga.
Dulunya merupakan kawasan pertambangan emas, KRB kini telah berubah menjadi simbol keberhasilan reklamasi pasca-tambang di Kalimantan Selatan. Penghargaan terbaik tingkat nasional yang diterima KRB menjadi bukti nyata komitmen dan konsistensi dalam menjalankan fungsi-fungsinya sebagai kebun raya.
Dengan jam operasional dari pukul 08.00 hingga 18.00 setiap hari, KRB membuka pintunya untuk semua kalangan dengan harga tiket yang terjangkau. Sebuah pengunjung bernama Anisa bahkan menyatakan bahwa dia sengaja datang bersama rombongan untuk menelusuri keindahan KRB, dalam rangka menyusun rencana piknik bersama keluarga.
KRB, dengan pesonanya yang tak terlupakan, menawarkan pengalaman wisata yang tak hanya menyegarkan mata, tetapi juga menyentuh hati.
