Helo Indonesia

Biarkan Musim Berganti, Kado buat Helo Indonesia Lampung

Annisa Egaleonita - Opini
Minggu, 31 Desember 2023 10:38
    Bagikan  
Biarkan Musim Berganti, Kado buat Helo Indonesia Lampung

Prof. Sudjarwo

Oleh Sudjarwo*

JUDUL tulisan ini terinspirasi judul film tahun 1971 yang disutradarai oleh Motinggo Boesje -- novelis asal Kota Bandarlampung -- dan dibintangi antara lain oleh Lenny Marlina dan Ida Abdi. Sinopsis film ini berawal dari kecemburuan Jono (Iwan Gunawan) yang pacarnya, yakni Lina (Ida Abdi), direbut pria lain.

Gelap mata, Jono menikam pria yang merebut kekasihnya. Dia lalu kabur ke desanya. Di desa, dia menemukan tambatan hati lagi sampai akhirnya memutuskan nikah dengan Ningsih (Lenny Marlina), meski kedua orangtua mereka bermusuhan.

Kehidupan rumah tangga Jono dan Ningsih masuk babak baru ketika Karjo (Farouk Afero), sopir truk, yang mondar-mandir dari kampungnya ke Jakarta, mengetahui kisah Jono hingga bisa bertemu lagi dengan Lina.

Lina membujuk Jono kembali ke Jakarta. Sampai di Jakarta, ternyata, Lina masih terikat perkawinan. Suami Lina yang cacat dianiayai Jono memutuskan balas dendam. Dengan tubuh penuh luka dan kritis, Jono kembali ke desa dan meninggal di pangkuan Ningsih.

Baca juga: Kapolri Pimpin Upacara Kenaikkan Pangkat 22 Pati dan 211 Kombes 


Film ini termasuk film berwarna generasi pertama perfileman Indonesia; oleh karena itu jika dilihat dari kacamata masa kini, tentu sangat menggelikan. Namun semua berproses menuju kesempurnaannya masing-masing.

Ibarat musim yang selalu berganti, tulisan ini juga menjadi penutup tahun 2023 dan mudah-mudahan akan muncul kembali gagasan-gagasan, pemikiran-pemikiran baru sejalan pergantian tahun 2024 sebagai kodratullah yang harus diterima dengan lapang dada.

Helo Indonesia Lampung telah banyak memuat gagasan-gagasan penulis. Media ini juga mengucapkan terimakasih. Pengalaman bersama Helo Indonesia Lampung tahun 2023 telah menunjukkan jurnalis senior yang dimiliki media ini, Herman Batin Mangku (HBM) ternyata memang penjaga gawang tangguh.

Walau telah melalui berbagai era media, dari cetak hingga digital, dirinya tak lekang oleh jaman dan hancur lewat waktu. Idealisme yang sangat kentara dari pola kritik “tipis-tipis” yang beliau lakukan adalah laku jurnalis senior yang jadi barang langka.

Baca juga: Panglima TNI: Selalu Berdoa Dalam Setiap Kegiatan dan Berbuat Baiklah Kepada Semua Orang


Ibarat menarik rambut ditumpukan tepung, perlu teknik tersendiri dan itu dimiliki HBM sebagai personal. Kemampuan memberi “topi” pada artikel sehingga menjadi menarik, juga kelebihan beliau dalam kejurnalistikannya.

Melalui tangan dingin HBM, dua tulisan penulis dibaca oleh lebih dari sepuluh ribu pembaca. Bukti, redaktur sekelas beliau bukan kaleng-kaleng, mampu memberikan rasa sehingga melambungkan tulisan hingga diminati publik karena jadi tambah "gurih" dan "bergizi".

Seperti judul film di atas, Biarkan Musim Berganti, namun HBM tidak boleh berganti apalagi melarutkan jati dirinya pada kepentingan pragmatis. Napas Helo Indonesia Lampung adalah napas HBM.

Baca juga: Pj. Bupati Lambar Jadi Inspektur Upacara Pemakaman Dan Pelepasan Almarhum Ahmad Sater


Menjadi persoalan serius adalah regenerasi penulis sebagai kontributor yang tulus tanpa bertanya “apa dan berapa”. Karena pengaruh kapitalisme dan hedonisme kekinian yang begitu masif, banyak mengubah kiblat orang dari yang tulus menjadi bulus.

Semoga tahun baru ini membawa keberkahan tersendiri buat Helo Indonesia Lampung bersama “pasukannya”. Ucapan khusus buat HBM, semoga tetap terus berkarya sampai tarikan napas terakhirmu, sehat selalu, bahagia bersama orang-orang terkasih.

Selamat Tahun Baru 2024

* Guru Besar Universitas Malahayati Lampung