Helo Indonesia

Kearifan Lokal NU Banua

Nicko Fariski - Opini
Kamis, 12 September 2024 07:34
    Bagikan  
Kalsel
Sarbaini Haira

Kalsel - M Syarbani Haira, Ketua Tanfidziah PWNU Kalsel periode 2007 – 2012 dan 2012 - 2017 (ist)

oleh : M. Syarbani Haira )

 

Dalam banyak keseharian ber-interaksi, khususnya dengan jama’ah nahdliyyin dan masyarakat luas, saya kerapkali mendapatkan pertanyaan pendek, “bagaimana kabar NU ?” Meski mendapatkan pertanyaan pendek, saya lumayan susah menjawabnya. Secara basa-basi, saya jawab: “baik-baik saja” (!), walau dalam hati, saya merasakan beban berat untuk menyebut “baik-baik saja”.

 

Bagaimana pun saya tak bisa melupakan, jika saya salah satu yang pernah berinteraksi, berkomunikasi, dan berdialog langsung, bahkan mendapatkan amanah, untuk tak pernah jenuh, mengawal perjalanan NU di masa depan, minimal untuk banua ini. 

 

Dalam interaksi yang berlangsung sejak tahun 1970-an, 80-an, dan 90-an, saya pernah ketemu beberapa tokoh NU hebat di banua ini, seperti Allah Yarham Abdul Ghani Madjidie, Guru Ramli (Martapura, alm), Guru Syukur (Martapura, alm), Kyai Mukeri Gawith (alm), Mualim Hamdan Khalid (alm), Mualim Syafriansyah (alm), Mualim Umairah Baqir (alm), (Husin Kasah (alm), Samir Syukur (alm), Hijaz Yamani (alm), Asnawi Tomas (alm) dan beberapa nama lain yang pasti beribu-ribu kilometer panjangnya jika ditulis satu satu.

 

Di tahun-tahun 70-an hingga 90-an itu, tokoh NU umumnya aktivis PPP. Baru pada tahun 90-an, tepatnya 80-an akhir, mulai muncul elite NU dari kalangan pegawai, PNS. Biasanya mereka dianggap kader Golkar. Terlebih setelah Ketua Umum PBNU, Allah Yarham Abdurrahman Wahid, rada memaksakan agar NU tak lagi dipimpin orang partai.

 

Ini terlihat ketika PWNU Kalsel hasil konferwil di Barabai, Hulu Sungai Tengah, tahun 1987.  PBNU meng-SK-kan Kyai Saleh Fauzi sebagai Ketua PWNU, bukan Mualim Haji Syafriansyah yang terpilih dalam konferwil. Abuya Syafriansyah, begitu biasa saya memanggil, adalah tokoh PPP, dan menjadi anggota DPRD Kalsel kala itu.

 

Selama PWNU Kalsel dipimpin para aktivis PPP, Kantor Sekretariat PWNU Kalsel di Jalan Hasanuddin HM relative ramai. Selain elite NU yang rata-rata aktivis PPP itu ready di markaz NU, juga diramaikan oleh anak-anak muda NU dari IPNU, IPPNU, PMII, Fatayat. Ansor,  dan sebagainya. Kantor NU Hasanuddin HM kala itu telah berfungsi sebagaimana lazimnya sebuah perkantoran, walau pun masih tradisional, belum modern.

 

Meski pada Konferwil NU di Balai Diklat Guru, Banjarbaru tahun 1997, terpilih seorang PNS, dosen Fakultas Ekonomi ULM, KH Taberani Baseri sebagai Ketua Tanfidziah. Terpilih sebagai Rais Syuriah Kyai Haji Guru Syukur dari Darussalam, Martapura. Kala itu, markaz Hasanuddin HM tetap ramai. Bahwa ada kios-kios yang disewa pihak lain, sama sekali tak mengganggu aktivitas NU dan sejumlah banom dan lembaga NU keluar masuk, hingga malam hari.

 

Persoalan muncul setelah Konferwil NU di Kotabaru tahun 2003. Ketua Tanfidziah terpilih, Kyai Rusdiansyah Asnawi (alm), seorang PNS, Ketua  PTA Kalimantan Selatan. Sedang Rais Syuriah-nya adalah KH Hamdan Khalid (alm), juga PNS, Kepala Pengadilan Agama Kabupaten HSU.

 

Dengan alasan ingin dekat, untuk memudahkan rapat, ketua terpilih  menggagas menyewa sebuah rumah di kawasan Gatot Subroto, untuk dijadikan kantor. Gubernur Kalsel Syahriel Darham (alm), kala itu, berbaik hati, berkenan membayar sewa kantor. Sejak itu markaz NU Hasanuddin HM pun ditinggalkan.

 

Gara-gara ada markaz NU di Gatot Subroto, hampir semua aktivis dan elemen NU mulai jarang ke Hasanuddin HM. Akibatnya, markaz di situ mulai digunakan oleh pihak luar. Ada yang jualan bensin,  premium, stempel, dan ada pula yang diduga melakukan transaksi illegal. Ini berlangsung hingga tahun 2007.

 

Konferensi Wilayah NU Kalsel tahun 2007 di Banjarmasin, mempercayakan kepemimpinan Tanfidziah pada kami, dan KH Ahmad Supian sebagai Rais Syuriah. Sejak itu, Markaz Hasanuddin HM kembali dimakmurkan. Kita undang para aktivis NU, meramaikan, sekaligus memperlihatkan pada public, jika pemilik areal itu masih ada. Masih hidup.

 

Sayangnya, penggunanya sudah kadung enak. Mereka tak mau pindah. Pedagang liar yang menutupi pintu masuk Kantor NU sama sekali tak hirau. Bahkan suatu hari pernah mengajak anak-anak duel, jika berani mengganggu kenyamanan mereka. Keadaan ini juga dimanfaatkan para penyewa, dengan mengklaim jika areal yang mereka sewa itu sudah menjadi miliknya, walau mereka tak bisa membuktikan surat hak kepemilikiannya.

 

Kejadian ini mengingatkan saya pesan sejumlah senior NU, yang sebagian namanya disebut di atas, agar semua asset NU harus dipelahara, diselematkan dan dijaga dengan baik. Abuya Syafriansyah bahkan lebih ekstrem, dengan menyebut lebih 5 ribu  sekolah milik NU hilang, karena tak terurus.

 

Di sisi lain, ada kejadian, sebuah perkantoran yang sejak tahun 1960-an sudah dikenal sebagai markaz NU. Belakangan hak miliknya bukan lagi atas nama NU, melainkan kelompok, menggunakan yayasan.

 

Selain itu, yang harus tetap diperhatikan, ada pula asset NU yang dijual  pengurus, dengan nilai yang luar biasa (nilai era itu), tetapi semua asetnya kini tak jelas. Karena sengaja dalam setiap pertanggung-jawaban pengurus, atau konferensi, tak pernah mereka menuliskan laporan soal asset.

 

Hal seperti inilah yang harus diperhatikan Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziah terpilih Konferwil NU Kalsel Juli lalu. Jangan sampai aset yang lumayan tinggi nilainya itu hilang tak berbekas. Pimpinan NU ke depan harus bertanggung jawab terhadap semua asset NU. Untuk itu menjadi sempurna, agar mereka yang menjadi pengurus adalah orang yang memang care dan peduli pada NU.

 

Bagaimana pun, akibat globalisasi ini, banyak orang yang belakangan hanya ingin numpang di NU. Dia tak pernah mikir NU, juga asetnya. Padahal ada di antara mereka itu yang sudah menduduki jabatan elite, pimpinan.

 

Menjadi sedih, jika ada lembaga milik NU justru dipimpin para pendatang, orang kost-kostan, yang tak pernah ada interaksi dengan NU, baik secara ideologis, mau pun organisatoris. Mereka dengan mudah mengaku NU, hanya karena neneknya, gurunya, atau bahkan hanya karena tetangganya. Padahal sesungguhnya mereka sama sekali tak pernah benar menjadi NU secara Ikhlas.

 

Duet Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziah sekarang, adalah figure hebat di banua ini. Harapan besarnya, keduanya minimal mengamankan asset-aset NU, mulai dari wilayah hingga kabupaten kota. Selain itu, tetap memberikan posisi penting kepada orang yang benar-benar memahami perjuangan NU. Karena mengaku NU itu mudah, tetapi ideologi bisa berbeda. Buktinya, ada orang NU karib dan sefaham dengan orang yang menjadi rival  NU. Karena amanah pendiri NU itu adalah menjadi wadah untuk melestarikan dan menyebarkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah, yang instrument-nya bisa dilihat dan diperhatikan dalam kepribadian dan perilakunya sehari-hari. Semua itu bisa dipertimbangkan dari sisi kearifan local yang selama ini sudah menyatu dengan dirinya, bukan pendatang yang walau pun terdidik tinggi, tetapi jauh dari kearifan ideologis organisatoris NU itu sendiri. Wallahu’alam bis-sawab… !!!

 

*M Syarbani Haira, Ketua Tanfidziah PWNU Kalsel periode 2007 – 2012 dan 2012 - 2017