Helo Indonesia

Tugas Ayah, Antarkan Anaknya ke Surga atau Jadi Wapres?

Herman Batin Mangku - Opini
Senin, 16 September 2024 12:41
    Bagikan  
Gufron
Gufron

Gufron - Gufron

Oleh Gufron Azis Fuandi*

SUATU ketika, dengan nada agak cemburu, Aisyah RA bertanya kepada Rasulullah SAW tentang betapa setianya cinta beliau kepada Khadijah RA, istri pertamanya yang sudah lama wafat. Padahal dia janda dan Aisyah RA seorang gadis perawan.

Kesannya, kalau kata anak sekarang, Nabi Muhammad SAW seperti belum move on.

Mendapat pertanyaan tersebut beliau SAW menjawab: “Dia (Khadijah) beriman kepadaku saat orang-orang mengingkariku, dia membenarkan aku selagi orang-orang mendustakan aku, dia mendukung aku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberikan sesuatu kepadaku, dan Allah menganugerahiku anak darinya, berbeda dengan istri-istriku yang lain.”, sebagaimana diriwayatkan Ahmad dalam Musnad-nya.

Memang hanya dari Khadijah RA Rasulullah SAW memiliki anak, yaitu Al Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah az Zahra, dan Abdullah.

Dialog tersebut sebelum Rasulullah SAW menikah atau belum memiliki anak dengan Mariyah al Qibtiyah. Dari Mariyah RA, Nabi Muhammad SAW memiliki seorang anak laki laki yang bernama Ibrahim, tetapi meninggal saat berumur 2 tahun bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari.

Diantara ketujuh anak Rasulullah SAW, kita hanya mengenal Fatimah RA yang kemudian dinikahkan dengan Ali bin Abu Thalib. Bukan hanya karena dari rahimnya sampai saat ini kita bisa bertemu dan menyaksikan para dzuriat nabi, Fatimah memang memiliki banyak keistimewaan.

Fatimah RA lahir 5 tahun sebelum kenabian dan meninggal 6 bulan setelah Rasulullah SAW wafat.

Sehingga Fatimah menjadi anak nabi yang paling lama hidup bersama Rasulullah SAW, 28 tahunan.

Saat Rasulullah SAW menjelang wafatnya, Fatimah RA menangis dan kemudian Rasulullah SAW memanggil dan membisikinya sehingga kemudian Fatimah RA tersenyum senang.

Aisyah RA bertanya kepada Fatimah RA apa yang dibisikkan Rasulullah SAW sehingga kamu tersenyum senang? "Beliau SAW membisikan bahwa aku adalah yang pertama menyusulnya dari kalangan ahlul bait..." jawab Fatimah RA.

Fatimah RA adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah SAW, baik dari wajahnya, tutur katanya, kesederhanaannya, empatinya bahkan cara berjalannya.

Kesederhanaan hidup Fatimah RA bukan kaleng kaleng. Bukan pencitraan. Meskipun putri kesayangan Nabi, Fatimah RA mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri tanpa pembantu, dari mulai mengambil air sampai menggiling gandum hingga tangannya kasar dan kapalan.

Suatu hari, Ali RA pulang dari suatu peperangan bersama Rasulullah SAW dan berkata kepada Fatimah RA agar segera menemui ayahnya karena dalam perang tersebut membawa pulang banyak rampasan perang termasuk tawanan.

Ali RA menyarankan agar Fatimah RA meminta tawanan perang untuk membantu pekerjaan di rumahnya. Lantas Fatimah pun pergi menemui ayahnya.

Fatimah RA lantas ditanya oleh ayahnya, "Apa keperluanmu wahai Putriku?" Namun Fatimah tetap diam, malu dan tidak kuasa untuk mengatakan maksud kedatangannya.

Kemudian Fatimah RA berkata, "Tidak ada, wahai Rasulullah. Aku ke sini hanya menyampaikan salam kepadamu," lalu ia kembali ke rumahnya.

Setibanya di rumah, Ali RA sudah menunggunya dan kabar tentang usulannya tadi. Namun, Fatimah RA hanya bisa menjawab bahwa dirinya malu untuk meminta budak/pembantu kepada Rasulullah SAW sehingga tidak mengatakannya.

Keduanya lantas memutuskan untuk mendatangi Rasulullah SAW untuk meminta pembantu tersebut. Fatimah RA masih tidak berani berkata pada Rasulullah SAW hingga suaminya yang mengambil alih.

Ali RA berkata, "Aku akan memberi tahumu, ya Rasulullah. Ia (Fatimah RA) memutar kincir angin hingga membekas pada tangannya. Ia menuangkan air dengan geriba hingga membekas di dada atasnya,"

"Ketika para budak/pembantu (tawanan) datang, aku menyuruhnya untuk mendatangimu dan meminta budak/pembantu yang akan membantu pekerjaannya dan menjaganya dari beratnya pekerjaan yang dilakukannya."

Hemm, berapa kira kira budak/pembantu yang akan diberikan kepada putri tersayangnya? Mari kita lihat respon atau jawaban beliau, ayahnya.

Mendengar itu, Rasulullah SAW berkata, "Bertakwalah kepada Allah, Fatimah. Tunaikanlah kewajiban Tuhanmu dan laksanakanlah pekerjaan keluargamu. Jika engkau hendak berangkat ke pembaringan, berdoalah dengan membaca tasbih sebanyak 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 34 kali. Semuanya berjumlah 100. Itu semua lebih baik bagimu daripada pembantu rumah tangga.'

Fatimah berkata, Aku rela (ridha) atas apa yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya.' Fatimah tidak dibantu oleh budak/ pembantu." (HR Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Rasulullah SAW mengatakan itu dengan mata berkaca-kaca sambil memegang tangan kasar putrinya.

Padahal Rasulullah SAW memiliki hak 1/5 bagian dari harta rampasan perang. Tidak sulit dan tidak melanggar aturan apalagi harus merubah aturan bila akan memberikan satu atau dua orang budak serta beberapa dirham atau dinar.

Sehingga, Fatimah RA bisa flexing glamour dengan harta pemberian ayahnya sang pemimpin besar.

Tetapi Rasulullah SAW membiarkan Fatimah RA terus bekerja keras. Beliau SAW juga membiarkan dapur Fatimah RA tidak selalu ngebul sebagaimana dapur Beliau SAW.

Begitulah Rasulullah SAW mengantarkan putrinya ke puncak kehidupan bukan sebagai anak yang aji mumpung mentang-mentang ayahnya seorang pemimpin tertinggi. Tetapi menjadi anak yang pekerja keras, sederhana dan perindu ridha Allah.

Seorang komedian pernah mengatakan bahwa tugas seorang ayah yang baik itu bukan yang bisa mengantarkan anaknya ke sekolah, tetapi yang bisa mengantar anaknya jadi wapres.

Bila itu ukurannya adalah "mengantarkan", maka Rasulullah Saw adalah ayah terbaik karena mampu mengantarkan anaknya bukan sekedar masuk surga, tetapi bahkan menjadi pemimpin para wanita di surga.

Rasulullah bersabda, “Pemimpin wanita ahli surga ada empat. Ia adalah Maryam binti Imran (ibunya Nabi Isa), Fatimah binti Rasulullah, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah (istri nya Fir'aun).” (HR. Hakim dan Muslim).

Heh, memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya...!
Shallu 'ala nabi...

Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)

* Ustadz

 -