Helo Indonesia

Ironi Petani Lambar, Gratiskan Wortel buat Kambing Tetangga

Herman Batin Mangku - Opini
Kamis, 3 Oktober 2024 15:03
    Bagikan  
PETANI
Helo Lampung

PETANI - AR

Oleh Ali Rukman*

AWALNYA, saya tidak percaya mendengar cerita kakak yang mempersilahkan para tetangga yang memiliki ternak kambing atau sapi memanen sendiri wortel di kebunnya, Pekon Sukarami, Kecamatan Liwa, Kabupaten Lampung Barat, pekan lalu.

Setelah melihat beberapa video viral di media tiktok milik petani di Lampung Barat, saya baru haqqul yaqin, percaya kalau hasil kebun wortel petani setempat benar-benar diberikan kepada kambing karena sangking nggak ada harganya.

Kenapa cerita hasil pertanian dibuang kembali terulang? Sebelumnya, tahun 2023, petani meletakan begitu saja labu di pinggir jalan lalu di waktu berbeda petani tomat membuang hasil panennya ke jurang berpeti-peti.

Saya sendiri, beberapa kali melintas di dua jalur Jl Sukarno-Hatta, Kabupaten Lampung Barat, melihat beberapa karung sayuran digeletakan begitu saja pinggir jalan digeletakan begitu saja oleh si empunya.

Padahal, sayur-sayuran tersebut, apa lagi wortel adalah salah satu produk unggulan petani sayuran di Kabupaten Lampung Barat, selain labu, sawi, kol, tomat, rampai, cabe, dll.

Selain itu, wortel digandrungi banyak orang. Selain karena rasanya, menurut para ahli, wortel mengandung vitamin A yang sangat baik bagi mata. Tak heran, wortel dari Lampung Barat menembus pasar Palembang hingga Kota Bandarlampung.

Namun, harganya murah sehingga petani lebih suka mempersilahkan siapa yang menghendakinya tinggal ambil gratis. Apakah Kedepan kejadian ini akan Kembali dan Kembali terulang?

Untuk menanam wortel seluas 12 rantai/0,5 hektare, petani harus mengeluarkan modal setidaknya Rp15.000.000. Dengan modal yang tidak sedikit, secara logika, tidak masuk akal petani membuang hasil panennya begitu saja kecuali memang harganya yang begitu murah.

Ironis, petani Lampung Barat malah membuang wortel, labu, dan tomat. Kenyataan getir ini merupakan potret begitu rapuhnya kehidupan petani sekaligus mempertontonkan kegagalan kebijakan dalam mensejahterakan petani.

Nasib petani benar-benar sangat tergantung pada pasar yang menganut sistem pasar bebas. Dulu, petani masih bisa tidur nyenyak dengan pola pertanian 3 N (ngebun, nyabah, nyebak).

Seiring bertambahnya kepadatan penduduk dan keterbatasan lahan, mereka tak bisa lagi menerapkan pola tersebut. Kalaupun masih ada, hanta beberapa petani saja.

Ngebun/berkebun yang di dalamnya ada budidaya tanaman keras dan sayur mayur. Nyabah/bersawah adalah budidaya tanaman pani dan ikan. Nyebak/nyadap adalah kegiatan nyadap aren adalah pola yang saling berseyawa dan saling topang.

Sehingga jika ada satu bidang mengalami kegagalan akan ditutupi oleh bidang lainnya. Bertahun-tahun pola ini terbukti telah mensejahterakan masyarakat adat Lampung Barat dan mengantarkan generasi 50-80 Bumi Skala Brak menembus jenjang pendidikan tinggi.

Dulu, meskipun padi hanya panen sekali tetapi tersimpan di lumbung-lumbung yang didirikan di areal khusus cukup untuk makan sekeluarga sampai panen lagi.

Hasil ikan yang ditebar pada sela-sela padi yang rumpunnya sangat besar cukup untuk kebutuhan hari-hari besar dan perhetalan sosial seperti nayuh/pesta, hasil panen kopi yang hanya sekali setahun cukup untuk biaya membuat rumah dan biaya bulanan anak kuliah.

Sayuran yang ditanam di sela kopi atau sebelum kopi membesar cukup untuk kebutuhan sehari-hari, hasil menjual gula aren cukup untuk menutupi kebuhan sehari-hari dan tambahan biaya kegiatan sosial di masyarakat.

Tak banyak teori, tak banyak basa-basi, dan tak perlu membungkusnya dengan kata ketahanan pangan. Cukup ada kemauan, tekun, dan bermasyarakat, sehingga setiap akan memulai nanam dan memanen selalu memanggil jiran tetangga dan saudara untuk bebatok (gotong royong) semua tuntas kebutuhan teratasi dan kekerabatan keluarga dan adat terjaga.

Sebagai anak petani, yang lahir dan besar di Lampung Barat, kejadian wortel hanya untuk makanan kambing tentu membuat saya sangat sedih.

Aaah, mungkin, karena saya bukan politisi bisa nulis seperti ini. Kalau politisi,saya akan selalu bilang bangga jadi anak petani. Apatah lagi sekarang, masa kampanye Pilkada 2024.

* Penggiat sosial kemasyarakatan, putra Lampung Barat tinggal di Kota Bandarlampung

 -