OLEH GUFRON AZIS FUANDI
{ ۞ إِنَّ ٱللَّهَ یَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَـٰنِ وَإِیتَاۤىِٕ ذِ ی ٱلۡقُرۡبَىٰ وَیَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَاۤءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡیِۚ یَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ } [Surat An-Nahl: 90]
“Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
Ayat di atas adalah ayat yang hampir selalu dibaca oleh khatib Salat Jumat ketika akan berakhir khutbah. Ayat ini juga merupakan wasiat khatib kepada jamaah Salat Jumat.
Menurut sejarahnya, masa awal berdirinya Dinasti Bani Umayyah sampai sebelum Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, akhir khutbah jumat diisi dengan caci maki kepada sahabat Ali bin Abi Thalib yang dipandang sebagai musuh dinasti Bani Umayyah.
Kemudian, di masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz yang merupakan pemimpin yang adil, saleh dan amanah, kalimat cacian iti diganti dengan bacaan surat An Nahal ayat 90.
Ayat ini merupakan perintah Allah dan menjadi dasar bagi pembangunan masyarakat atau peradaban rabbani.
Oleh karena itu meskipun Umar baru menjadi khalifah setengah masa, hanya 2 tahun 137 hari, tetapi mampu membangun budaya adiluhung yang bertumpu pada perilaku ta'abudi bukan pada perilaku yang mengedepankan masalah-masalah material duniawi.
Digambarkan, percakapan antar anggota masyarakat tidak berkisar pada berapa pendapatan mu sebulan, berapa kendaraan mu, besok mau nongki di kafe mana, siapa gebetan yang baru dan sebagainya.
Saat itu, dari masyarakat biasa hingga para elitenya, biasa ngobrol tentang bagaimana meningkatkan kualitas ubudiyah semisal bagaimana salat malammu, berapa juz Alquran yang sudah dihafal, berapa hadits yang sudah dipelajari, bagaimana hubungan dengan tetangga dan sebagainya.
Sehingga dalam kepemimpinannya yang baru memerintah 2,5 tahun, baitul mal kesulitan untuk menyalurkan zakat karena merasa masyarakat tidak pantas menerima zakat. Mereka merasa sebagai orang yang berkecukupan, merasa sebagai orang yang mampu, bukan orang miskin apalagi fakir.
Adanya perasaan sebagai orang mampu bukan orang miskin adalah tanda bahwa mereka bukanlah masyarakat yang serakah dan materialistis.
Mengingatkan kembali pada materi lama, bahwa ayat diatas merupakan pondasi bagi tegaknya peradaban rabani yaitu:
PERTAMA
Tegakkan keadilan (iqamatul adl). Keadilan adalah tema universal yang dicita-citakan oleh seluruh manusia, apapun bangsa dan warna kulitnya.
Tegaknya keadilan akan membuat setiap orang mendapatkan perlakuan yang sama, mendapatkan hak dan kewajibannya. Sedangkan ketidakadilan akan mempercepat terjadinya kehancuran sebagaimana dijelaskan Rasulullah Saw: Sesungguhnya generasi terdahulu hancur karena meninggalkan sangsi bagi para pembesar (elit) yang melakukan pelanggaran akan tetapi bila rakyat jelata yang melakukan pelanggaran diberikan sangsi yang berat..."
Ini menunjukkan bahwa tegaknya keadilan merupakan sendi peradaban manusia.
KEDUA
Menumbuhkan sikap dan perilaku baik dengan sesama (al ihsan). Saat ini kita sering mendengar betapa banyak anak sekolah yang menderita akibat di-bully oleh kawan kawannya.
Ada juga caci maki antar kelompok, antara rakyat dengan pemerintah dan anggota masyarakat yang saling lapor ke polisi bahkan ada juga antar anak dengan orang tua serta wali murid dengan guru.
Kejadian ini terjadi akibat prinsip egoisme yang ingin menangnya sendiri. Oleh karena itu Allah memerintahkan agar pergaulan dilakukan dengan prinsip kebaikan dan saling berbuat kebajikan. Ustadz Hilmi dulu sering mengatakan, carut marutnya masyarakat sekarang ini karena defisit kesejahteraan.
Dimana orang yang memproduksi lebih sedikit dari orang yang ingin mendapatkan (mengkonsumsi) kekayaan. Sehingga yang terjadi adalah surplus kejahatan, sehingga berita tindak kejahatan terdengar dan ter????na mana.
KETIGA
Saling menghubungkan silaturahim dengan sesama. Islam mengajarkan agar umatnya selalu menjalin silaturahim untuk berkomunikasi saling mengenal, saling memahami dan saling menerimJa keadaan yang sehingga bisa saling tolong menolong. Dan silaturahim adalah kebutuhan asiyah bagi umat manusia.
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta,dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."
(An Nisa : 1)
KEEMPAT
Menjauhkan diri dari perbuatan keji (al ibti'an anil ma'shiyah). Perbuatan keji kaum terdahulu apa yang sekarang belum kita dengar dilakukan oleh manusia jama sekarang? Memfitnah, menipu, mengurangi pengukuran atau ukuran, zina dan LGBT, maling dan korupsi dan sebagainya.
Bahkan banyak kegiatan keji yang sudah Allah tutup malah dibuka sendiri oleh pelakunya agar viral dan banyak cian yang masuk. Mungkin hanya di jaman sekarang, pelaku zina yang videonya viral, saat keluar penjara akibat video tersebut, disambut meriah dikuar pintu penjara bak pahlawan.
KELIMA
Mencegah kemungkaran (an nahyu anil munkar). Perbuatan mungkar adalah segala perbuatan yang dapat menjauhkan diri kita dengan Allah serta bertentangan dengan nilai-nilai Agama dan norma dalam masyarakat. Islam bertekad tegas pada perbuatan mungkar karena perbuatan ini akan membawa bencana buruk bagi kehidupan manusia. Contoh "ringan" misalnya, gosip yang sekarang tidak lagi dianggap tabu. Pernahkah kita mendengar bahwa hidup masyarakat taraf menjadi lebih sejahtera sejak adanya acara gosip?
Karena itu Islam meminta umatnya untuk mencegah kemungkaran sebelum kemungkaran itu terjadi. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangan. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hati, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR.Muslim)
KEENAM
tidak ada permusuhan (adamul baghyu). Hidup akan terasa sangat tidak nyaman bila permusuhan ada dimana-mana. Karena sikap permusuhan akan menimbulkan perasaan cemas, waspada, curiga dan akhirnya stres. Oleh karena itu Islam mengajarkan untuk tidak saling bermusuhan sebagaimana sirat al Hujurat, 11-13:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.
Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang tidak siapa yang bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu menggunjing sebagian yang lain.
Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, Sungguh, Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.”
Peradaban yang tidak memberi tempat tumbuhnya permusuhan akan menghadirkan kehidupan yang damai, aman dan nyaman.
Wallahualam bi shawab
(Gaf)
* USTADZ
