Helo Indonesia

Kredibilitas versus Jarkoni

Herman Batin Mangku - Opini
Jumat, 15 November 2024 07:01
    Bagikan  
Gufron Aziz Fuadi
Gufron Aziz Fuadi

Gufron Aziz Fuadi - Gufron Aziz Fuadi

Oleh Gufron Azis Fuandi *

DALAM berbagai Kitab Sirah Nabawiyah diceritakan, saat Nabi Muhammad Saw mengalami puncak didustakan sebagai nabi pembawa risalah Islam, menjelang hijrah, para penduduk Kota Mekah masih saja menitipkan barang-barang berharganya kepada Beliau.

Sehingga, ketika Nabi hijrah ke Madinah, Beliau meminta Ali bin Abi Thalib untuk tidak segera hijrah dan menugaskannya untuk mengembalikan barang-barang orang-orang Quraisy yang dititipkan kepada Nabi Saw.

Perilaku Kaum Quraisy yang tetap menitipkan barangnya kepada Nabi Saw -- padahal secara ideologi atau agama mereka mendustakan dan memusuhinya -- karena kredibilitas yang tinggi.

Memang sejak usia remaja, Beliau  dikenal memiliki kredibilitas yang tinggi. Hal ini bisa dilihat dari gelar al amin (yang terpercaya) yang disematkan kepada Beliau Saw, jauh sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul.

Kredibilitas adalah tingkat kepercayaan atau keyakinan yang diberikan kepada seseorang atau sesuatu. Kredibilitas juga dapat diartikan sebagai kualitas, kapabilitas, atau kekuatan untuk menimbulkan kepercayaan. 

Jadi kredibilitas adalah  karakteristik seseorang yang dianggap oleh orang lain sebagai terpercaya atau dapat dipercaya.

Kata kredibilitas berasal dari Bahasa Inggris credibility yang pengertiannya hampir sama dengan trust (kepercayaan akan kemampuan sesuatu atau seseorang).

Khalid bin Walid, sahabat Nabi, memiliki kredibilitasnya tinggi sebagai panglima perang. Para prajurit mujahid bahkan sampai beranggapan bahwa selama yang menjadi panglima perang adalah Khalid, pasti akan menang.

Karena memang rekam jejak (track record) sepanjang karir militernya, baik semasa jahiliah maupun setelah masuk Islam, pasukan yang dipimpinnya tidak pernah terkalahkan.

Termasuk saat dia memimpin sisa pasukan kafir Quraisy yang akhirnya mampu memporak-porandakan pasukan kaum muslimin dalam Perang Uhud.

Kredibilitas memegang peranan penting dan sangat dibutuhkan dalam dunia bisnis, politik dan sebagainya. Para pengemplang hutang yang sering tidak segera melunasi hutang-hutangnya saat jatuh tempo, dimasa depan akan banyak kehilangan mitra bisnisnya.

Para politisi yang lupa dengan janji janji kampanyenya juga akan ditinggal oleh para pemilihnya.

Itulah mengapa di zaman sekarang profesi pendengung (buzzerp) mendapat tempat, karena bisa meningkatkan "kredibilitas" seseorang atau lembaga.

Kredibilitas juga sangat dibutuhkan untuk menunjang kesuksesan karir para pemimpin, guru, dai dan profesi lainnya. Hal ini karena kredibilitas memiliki beberapa dimensi, seperti: Kehandalan, Keahlian, Keberanian, Integritas. 

Pemimpin, guru, murabi dan dai adalah sumber informasi bagi masyarakat, peserta didik atau jamaah. Bisa kita bayangkan bagaimana keadaannya bila masyarakat memiliki tingkat kepercayaan yang rendah kepada pemimpinnya.

Bila para murid tidak memiliki keyakinan bahwa gurunya bisa mengantarkannya menjadi orang yang pintar, beradab dan sukses. Begitupun bila jamaah tidak percaya apa yang disampaikan oleh ustadz adalah benar dan bermanfaat.

Maja sesuatu yang seharusnya menjadi tuntunan, akhirnya hanya menjadi tontonan!

Boleh jadi banyak kasus murid yang berani melawan guru disebabkan karena me-rendahnya kredibilitas guru dimata murid dan wali murid. Karena guru tidak lagi tampil sebagai sosok yang digugu dan ditiru.

Suatu sosok yang kepada muridnya seperti orang tua yang memiliki ikatan cinta dan kasih sayang, tidak seperti seorang syaikh yang membimbing mental spiritual nya dan tidak menjadi seperti seorang pemimpin yang akan mengarahkan masa depannya.

Guru kehilangan kredibilitas nya karena fungsi guru seperti diatas, sudah ditinggalkan, dan hanya fokus mentransfer ilmu dan urusan administrasi sertifikasi.

Pemimpin, guru dan da'i atau ustadz adalah sumber informasi atau komunikator. Oleh karena itu sangat dituntut untuk selalu menjaga kredibilitas nya dengan selalu berusaha untuk meningkatkan kehandalan, keahlian dan integritasnya.

Kredibilitas seorang komunikator sangat menentukan keberhasilan suatu proses komunikasi. Orang akan lebih mudah dipengaruhi oleh orang yang dianggap mempunyai kredibilitas. 

Orang yang jarkoni, iso ngajar ora iso nglakoni, tentu kredibilitasnya rendah. Meskipun orasi dan narasi menarik. Karena menurut Mehrabian Model, kesuksesan komunikasi verbal hanya menunjang 7%, selebihnya visual body language 55% dan vocal, tone of voice 38%.

Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Kiyai Hasan tentang 40 kewajiban seorang aktivis dakwah. Dimana dari 40 kewajiban hanya ada dua poin yang terkait dengan komunikasi verbal, termasuk melalui tulisan:

7. Hendaklah engkau menjadi orang yang selalu jujur dalam berkata dan jangan sekali-kali berdusta.
15. Hendaklah engkau meningkatkan kemampuan membaca dan pandai menulis, memperbanyak bacaan...

Perilaku jarkoni yang rendah integritas, tidak hanya tidak sukai orang lain tetapi juga dibenci Allah sebagaimana firman Nya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan"
(Ash Shaf: 2-3)

Asbabun nuzul ayat ini berkaitan dengan sesumbar (janji) beberapa orang yang katanya akan memnebaskan pedang, menusukkan tombak dan membunuh musuh dalam perang Uhud, tetapi ternyata lari dari medan perang yang sedang berkecamuk.

Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)

 -