LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -
Oleh Gufron Azis Fuandi
PILKADA telah usai, meskipun keseluruhan prosesnya masih berlanjut sampai nanti pemenangnya ditetapkan oleh KPUD. Banyak cerita, terlebih bagi yang menang, karena cerita memang dibuat dan dimiliki oleh pemenang.
Beberapa hari sebelum hari H, ngobrol dengan beberapa timses dari beberapa paslon. Menyimak cerita dari timses yang bakal menang dan yang diperkirakan kalah memang berbeda.
Bagi calon yang optimis dan yakin menang, mereka tidak ragu ragu untuk menggelontorkan dananya. Untuk mengamankan kepentingan, katanya. Ini "keyakinan", namanya.
Sedangkan bagi calon yang tidak yakin menang, setelah berjibaku berhari hari, beberapa hari sebelum hari H, sudah mulai membatasi pengeluaran dananya bahkan ada yang meng-close dananya.
Mereka berpikir, pilkada boleh kalah, tapi tidak boleh bodoh. Hanya orang bodoh yang tahu 'pasti' bakal kalah tetapi terus menggelontorkan dananya. Ini juga "keyakinan" namanya.
Seseorang akan bersedia berkorban tanpa ragu, bila yakin ada keuntungannya atau bakal tercapai tujuannya. Begitupun sebaliknya, untuk apa berkorban mengeluarkan dana kalau tidak yakin ada keuntungannya atau tidak bakal tercapai tujuannya.
Berkorban, mengeluarkan dana miliaran dalam pilkada sebenarnya sama saja perasaan berat dan ringannya dalam berinfak, yakni tergantung dengan keyakinannya pada keuntungan yang akan didapatkan.
Hanya karena orientasi hidup kita kebanyakan adalah duniawi, maka keuntungannya selalu dilihat dan dihitung secara materiil.
Berbeda dengan para sahabat yang orientasi hidupnya akhirat, sedangkan dunia, baik harta maupun kekuasaan hanya sekedar camilan yang menemani kopi yang diletakkan diatas meja.
Bukan di dalam hati yang dalamnya lebih dari laut, sehingga susah mengeluarkannya. Karena bagi mereka dunia itu sekedar mampir, sekedar jangan lupa... Sebagaimana firman Nya:
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan". (Al Qasas: 77)
Karena itulah kita bisa melihat dalam berbagai riwayat betapa para sahabat nabi berinfak mengeluarkan hartanya secara nggak karu-karuan. Seperti kisah tentang Abu Dahdah.
Dikisahkan sahabat Abu Dahdah ra, yang memiliki banyak sekali pohon kurma dan menukar pohon kurma tersebut dengan sebatang kurma milik seseorang.
Kisah ini bermula dari dua orang yang bertetangga dan terlibat pertikaian karena merebutkan sebatang pohon kurma. Salah seorang di antara mereka ingin menggarap tanah akan tetapi terhalang oleh pohon kurma milik tetangga yang tumbuh di pekarangannya.
Keduanya masih bertikai sehingga pertikaian tersebut terdengar oleh Rasulullah. Salah seorang dari mereka berseru kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, si fulan memiliki pohon kurma yang tumbuh di pekaranganku."
Tolong perintahkan kepadanya agar ia memberikan pohon kurma itu kepadaku agar aku bisa melanjutkan penggarapannya.”
Kemudian, Rasulullah berkata kepada si pemilik satu pohon kurma, “Berikanlah pohon itu untuknya, maka bagimu sebuah kebun kurma di surga.” Namun, orang tersebut tetap kukuh dan menolak tawaran Rasulullah.
Kemudian hal itu terdengar oleh Abu Dahdah dan ia langsung menghampiri Rasulullah, “Benarkah itu, ya Rasulullah? Benarkah apa yang Engkau sabdakan itu, ya Rasulullah?” Rasulullah pun mengiyakan.
Lalu Abu Dahdah menemui orang yang bersengketa itu dan berkata, “Juallah satu pohon kurma itu kepadaku, kubeli dengan semua pohon kurma di kebunku.”
Si pemilik satu pohon kurma itu terkejut. Siapa yang tidak kenal dengan Abu Dahdah si pemilik 600 pohon kurma di kebunnya dan di dalamnya terdapat sumur dan taman-taman yang indah.
Rasulullah pun terkesima dengan apa yang dilakukan Abu Dahdah, “Alangkah banyaknya tandan kurma di surga milik Abu Dahdah,” sabda Rasulullah dan mengulang-ulang ucapannya.
Abu Dahdah kemudian pulang menemui istrinya dan menceritakan apa yang sudah dilakukannya. Mendengar cerita Abu Dahdah, sang istri pun tersenyum dan membenarkan perilaku suaminya itu.
Kemudian Abu Dahdah beserta istri dan anak-anaknya keluar dari kebun kurma itu karena kebun tersebut sudah menjadi milik orang lain, sambil tersenyum... Karena yakin dengan janji Allah dan rasul-Nya tentang surga sebagai penggantinya.
Adapun kita, sering merasa berat untuk berinfak atau berinfak secara alakadarnya, karena tidak terlalu yakin dengan janji surga Nya. Ya, seperti calon kada yang tidak optimis menang.
Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)
