Oleh Herman Batin Mangku*
PERGURUAN tinggi masih kebanyakan terkesan seperti "Menara Gading". Áktivitas kampusnya masih terasa terpisahkan dari realitas sosial sekitarnya. Kampus yang belum bisa diharapkan memberikan banyak kontribusi penyelesaian masalah-masalah sosial secara jitu.
Ketika petani menjerit akibat mahalnya pengolahan lahan pertanian, ancaman puso, dan tak selalu menentunya harga pascapanen selama bertahun-tahun, Lampung seakan tak memiliki para pakar bergelar profesor dan doktor pertanian.
Hanya segelintir dosen via media massa yang bersedia membantu masyarakat melihat fenomena sosial, hukum, dan politik. Mereka juga kerap khawatir kena tegur walau pandangannya secara tak langsung ikut membangun citra kampus sebagai gudangnya ahlinya ahli.
Padahal, sejak masuk kampus, setiap civitas akademika harus paham betul apa itu Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kampus sebagai pabriknya proses belajar mengajar, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Soal fasilitas proses belajar mengajar, sebagian besar kampus sudah oke. Jika pun ada masalah, hanya soal ruang kelas yang mulai terasa kurang akibat tumbuhnya berbagai jurusan baru. Tentang penelitian, saya yakin juga sudah berlemari-lemari dokumennya.
Berbanding terbalik pada pengabdian masyarakat itu, hingga kini tampak masyarakat belum merasakan keberadaan perguruan tinggi sebagai problem solver. Kampus terkesan asyik dengan dirinya sendiri, para pengajar banyak yang hanya mengejar pangkat, mengoleksi gelar semata, dan berburu proyek penelitian.
Menuangkan isi kepalanya ke media massa untuk pengabdian masyarakat, selain gak dapat cis, nilainya juga nol koma. Pikirannya,, bagaimana menembus pubikasi internasional yang nilainya besar walau tak dibaca rakyat di Suoh.
Padahal, dari tumpukan hasil penelitian para pengajar dan mahasiswa, ada yang sebetulnya dapat menjadi inspirasi pemegang kebijakan dan yang dibutuhkan masyarakat dalam memecahkan persoalan mereka, baik politik, ekonomi, hukum, dan sosial, serta budaya.
Di posisi tersebut, sebenarnya media dapat menjadi mitra agar masyarakat mengetahui banyak yang dihasilkan dari isi kepala maupun hasil penelitian civitas Universitas Lampung.
Tidak seperti selama ini, ada kesan jarak antara media dengan pihak kampus. Universitas kebanyakan menghamburkan kabar tentang keberhasilan meraih prestasi ini dan itu, kampus dengan predikat ini dan itu yang salah satu ukurannya jumlah gelar, penelitian, kerja sama antarkampus, dll.
Padahal, bagi masyarakat, mungkin, yang mereka harapkan dan tunggu-tunggu adalah menjadi teman berpikir, menyajikan padangan ilmiahnya dalam memecahkan persoalan-persoalan kehidupan yang kerap menghantui mereka setiap hari.
Misalnya, bagi masyarakat di Kabupaten Lampung Barat, mungkin, mereka tak peduli Unila berada di peringkat berapa di Indonesia atau dunia sekali pun. Bagi mereka, bagaimana ongkos produksi tidak tinggi, mengatasi hama tanpa bahan kimia, dan jaminan harga menguntungkan pascapanen.
Demikian pula mengenai pandangan-pandangan politik, penemuan-penemuan teknologi, tata kelola ekonomi masyarakat, hingga kepedulian terhadap terhempasnya marwah guru akibat intimidasi orangtua murid hingga siswanya.
Media dapat menjadi mediator antara kampus dengan masyarakat. Sinergisitas ini yang perlu dibina agar kampus tak lagi menjadi "Menara Gading". Salah satu misi media adalah pendidikan, tak hanya hiburan dan sosial kontrol.
Media yang memiliki multifungsi tak hanya dapat digunakan untuk mendongkrak citra dan mensosialisasikan kinerja tapi juga dapat dimanfaatkan untuk mempublikasi pikiran-pikiran dari kampus sebagai gudangnya ilmu pengetahuan agar dapat mencerahkan masyarakat dan banyak pihak.
Perguruan Tinggi dalam bermitra dengan media sebagai ujung tombak penyampai informasi, sudah sangat perlu memulainya sejak dari perencanaan yang baik agar dapat sama-sama mencapai tujuan bersama hingga 2045: IndonesiaIndonesia Emas.
Adanya sinergisitas antara media dengan perguruan tinggi serta sinergisitas banyak pihak, apa yang menjadi mimpi bersama Indonesia Emas hanya dapat meraih Indonesia Perak atau Perunggu. Atau, bisa jadi, tak mendapatkan medali akibat masing-masing institusi lebih mengedepankan egonya.
Kini saatnya membangun sinergisitas antara media dengan universitas agar masyarakat tak merasa selalu sendirian menghadapi permasalahan politik, ekonomi, hukum, sosianl, hingga budaya. Dan, betapa indahnya jika itu dimulai dari Universitas Lampung yang memiliki segudang ilmuwan dan mahasiswa.
Terobosan Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof. Lusmeilia Afriani via Warek IV Unila Prof. Ayi Ahadiat menggelar Sarasehan Unila dengan Media Massa di Hotel Emersia Bandarlampung, Selasa (26/11/2024), angin segar bagi insan pers dan masyarakat.
Ayi yang juga aktivis masa kuliahnya berharap lewat sarasehan bertema "Sinergitas Unila dan Media Massa dalam Wujudkan Indonesia Emas 2045" terjadi dialog konstruktif antara Unila dan media untuk membangun daerah.
Menurut dia, media massa sebagai salah satu pilar demokrasi berperan sentral dalam membentuk pola pikir masyarakat, edukasi berkualitas, serta kekuatan dalam menciptakan perubahan baik secara regional, nasional, maupun global.
Setidaknya, Universitas Lampung ini tak lagi menjadi Menara Gading di mata insan pers, media massa. Semoga Universitas Lampung serta perguruan tinggi lainnya senantiasa bersinergis menyongsong Indonesia Emas 2024 dengan menara-menara gadingnya pindah dari ruang-ruang kampus ke relung hati masyarakat. Aamiiin.
* Pimred Helo Indonesia.
** Anggota Pimred Club.
-
