Helo Indonesia

Pesan Tipis Om buat Iyay Mirza

Herman Batin Mangku - Opini
Senin, 2 Desember 2024 16:50
    Bagikan  
*
Helo Lampung

* - HBM

Oleh Herman Batin Mangku*

KAPAL terlihat indah dan damai ketika bersandar di dermaga. Sinar matahari dan rembulan membuatnya bermandikan kemilau cahaya dari pantulan ayunan gelombang tipis dermaga. Mereka yang ada dalam kapal dan dermaga ikut bersuka cita.

Begitu mungkin sudah banyak yang tahu tentang sepotong quote indah dan damainya kapal ketika bersandar di dermaga. Seperti usainya masa Kampanye Pemilihan Kepala Daerah Serentak 2024 selama dua bulan sejak 23 September hingga 23 November 2024.

Apalagi dihitung sejak sebelum kampanye, para calon kepala daerah telah berjibaku kesana kemari merebut sebanyak mungkin rekomendasi partai, lobi koalisi, pendaftaran, hingga selesainya tahapan pemilihan yang begitu menguras tenaga, pikiran, dan dompet dalam-dalam yang puncaknya pada 27 November 2024.

Seperti itu gambaran singkat perjalanan penuh keringat dua anak muda Rahmat Mirzani Djausal (RMD) yang berusia 44 tahun bersama Jihan Nurlela Chusnunia (JNC) yang berusia 30 tahun agar setiap warga dan elemen masyarakat, termasuk insan pers berpihak pada visi misinya. 

Setelah dua bulan keliling menyapa 9,3 juta rakyat Provinsi Lampung ke 850 titik, siang dan malam, jam kerja dan tanggal merah, mereka akhirnya tiba di dermaga perjuangannya dengan hasil quick count menang telak 82,68 persen atau 3.299.170 suara dari 6.539.128 pemilih.

Mirza langsung bersimpuh di kaki ibunya, keluarga menangis bahagia, para tim sukses terharu, 82 persen rakyat daerah ini senang, 12 partai politik (non-PDIP) pendukung bangga, euforia itu seperti kata bijak usaha tak mengkhianati hasil.

Ibarat kapal, Tim 02 Koalisi Lampung Maju berhasil sampai ke dermaga perjuangannya yang sangat luar biasa dengan penuh kemilau. Hari ini, Kota Bandarlampung berhiaskan papan bunga dan baleho ucapan selamat atas terpilihnya Mirza-Jihan.

Kembali ke sepotong quote awal tulisan ini, pesan hakikinya, kapal tidak dibuat untuk bersandar di dermaga, tapi diciptakan buat mengarungi samudera, ombak, dan badai yang setiap saat melumat kapal bersama kru dan penumpangnya.

Keputusan sudah diambil sejak bertahun-tahun memilih terjun ke politik. Mirza-Jihan sudah memutuskan dan direstui rakyat untuk berlayar berarti keduanya juga harus siap untuk menghadapi segala resiko. A Thousand Miles of a journey begin with the first step.

Mereka yang terburuk dalam hidup ini bukanlah orang yang gagal dalam usaha mencapai tujuan melainkan mereka yang tidak pernah mau mencoba untuk keluar dari zona nyaman. Ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan: harapan dan tantangan.

Harapan dan tantangan seperti pesan Adinda Iskardo P Panggar yang dititipkan kepada saya via WA Grup Media Bawaslu Lampung, Selasa (26/11/2024), sehari sebelum Pilgub Lampung: Pemilihan tidak selesai saat pemungutan suara dan pelantikan calon terpilih, tapi pasca itu selama lima tahun tentang komitmen dan kesungguhan mengimplementasikan janji dan program saat kampanye.

Beberapa jam setelah itu, Rabu (27/11/2024), pukul 17.30 WIB, jelang magrib, saat suara hitung cepat hampir selesai, sepotong dialog Iyay Mirza dengan Jihan di Gedung Graha Wangsa yang dipenuhi gema selawat mengingatkan bahwa jabatan adalah beban tanggungjawab:

Kita menang telak Yai, tapi saya takut. Saya bilang juga sama Jihan, Saya juga takut. Kami terus terang takut tidak bisa menjaga amanah rakyat.

Pasalnya, 4 juta orang yang milih Mirza-Jihan akan bertanya di akhirat, dan akan menjadi musuh, kalau kita tidak bekerja dengan benar.

HARAPAN DAN TANTANGAN

Ada 4 juta rakyat yang menitipkan harapan perubahan dan menginginkan Lampung lebih maju. Namun, ibarat pepatah lama, sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Ada 4 juta warga yang mengawal untuk mendukung kerja-kerja Mirza-Jihan.

Ada baiknya, sebelum dilantik Februari tahun depan menjadi kapten kapal Lampung, ada pesan Buya Hamka yang buat vitamin sebelum kerja kerja kerja: Nahkoda yang baik bukanlah yang paling pandai mengemudikan kapal, tapi yang mengetahui rahasia lautan.
 
Dalam dunia pelayaran, seorang nahkoda tidak hanya bertugas mengendalikan kapal, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi awaknya. Kapal terbaik tidak ditentukan oleh ukurannya, tapi oleh kebijaksanaan nahkodanya.

Seperti lautan yang kadang tenang kadang bergejolak, nahkoda kapal mengajarkan tentang pentingnya kesiapan menghadapi berbagai kondisi. Seorang pemimpin sejati tahu kapan harus mendengarkan angin dan kapan harus melawannya.

Nahkoda yang baik tidak dilahirkan di pelabuhan yang tenang. Seperti navigator, pemimpin selalu mencari jalan terbaik, bukan jalan termudah. Di lautan, kita memimpin dengan tindakan, bukan hanya dengan perintah.

Masih ratusan lagi filosofis tentang kapal dan kaptennya, tapi ya sudahlah, insya Alloh, Iyay Mirza sebentar lagi yang jadi kapten kapal birokrasi Pemprov Lampung dan nahkoda 9,3 juta rakyat provinsi ini yang mudah-mudahan tangguh, satrio piningit masyarakat Lampung yang ditunggu selama ini.

Ucapan selamat via papan bunga sudah betebaran, baleho dimana-mana, mereka yang ingin merapat antre, izin, Om yang selalu "mengawasi" dari jauh hanya ingin menyampaikan satu kalimat saja: Selamat berlayar semoga sampai ke dermaga berikutnya dengan ridho Alloh Lampung Maju dan selalu hikmah, aamiiin.


* Pimred Helo Indonesia.
* Komunitas Pimred Lampung

 -