Helo Indonesia

Catatan Pergantian Tahun 2024-2025 buat Helo Indonesia Lampung

Annisa Egaleonita - Opini
Selasa, 31 Desember 2024 08:13
    Bagikan  
Catatan Pergantian Tahun 2024-2025 buat Helo Indonesia Lampung
Helo Lampung

Prof. Sudjarwo. Foto: Helo Lampung

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -

Oleh Prof. Sudjarwo*

TIDAK terasa sudah di penghujung tahun 2024 dan memasuki tahun baru 2025. Makna pertamanya, jatah kita hidup telah berkurang setahun di dunia. Namun, tidak untuk media masa seperti Helo Indonesia Lampung, yang menapaki usia tahun kedua.

Media online yang digawangi oleh Herman Batin Mangku (HBM) ini makin hari makin menunjukkan jati dirinya. Saat dilahirkan tampak biasa-biasa saja, namun seiring perjalanan waktu mulai menunjukkan kelasnya.

Semakin menjadi-jadi manakala pandai memposisikan diri harus dimana, bersama siapa, waktu apa. Tentu saja konsekwensinya tidak semua dapat berterima dengan keadaan seperti itu.

Orang bijak mengatakan “baik buruknya kita itu tergantung siapa yang cerita” ternyata benar adanya sebab cara pandang dan sudut pandang-lah sebenarnya yang membuat sesuatu itu berbeda pada tataran perspektif.

Dalam dunia filsafat hal seperti itu adalah lumrah saja, dan tidak perlu diperdebatkan. Demikan halnya denga Helo Indonesia Lampung; saat kontestasi pemilihan presiden sampai pemilihan pimpinan daerah; warna itu tampak nyata di halaman media ini.

Ada teman yang mengatakan HBM dan medianya tidak netral, namun bersamaan itu pula teman sebelah mengatakan HBM bagus dengan medianya bisa menjaga jarak dengan yang sedang “bermain”. Tentu, dua ujung yang berbeda itu tidak bisa dipertemukan, namun dapat dipahamkan.

Harus diakui bahwa Helo Indonesia Lampung tanpa digawangi sekelas HBM tentu bukan apa-apa, dan tampak-tapak kejurnalistikan yang melekat pada insinyur pertanian ini-lah yang membuat asam garam dan “bumbu” semakin sedap.

Diksi “tipis-tipis, mengulik”, dan banyak lagi yang dimunculkan pencipta karikatur “Pak De dan Pak Ho” di Lampung Post, surat kabar legend daerah ini, begitu menarik, menjadikan yang bersangkutan berselancar bahkan menari-nari di atas ombak kejurnalistikan Indonesia.

Banyak media kehilangan “ombak” setelah selesai hajat demokrasi di negeri ini, akhirnya informasi yang disajikan datar-datar saja, bahkan cenderung “mandeg”; namun tidak untuk Hello Indonesia Lampung.

Sebagai contoh, persoalan benteng pertahanan Dai Nippon Jepang di penghujung Perang Dunia II bisa diangkat oleh HBM menjadi “bumbu masak” sedap untuk “gulai raboh” kejurnalistikan Hello Indonesia Lampung.

Persoalan-persoalan yang menghangat di daerah ini sering dikuliti oleh Helo Indonesia Lampung dengan caranya. Metode yang dipakai bukan "Belah Bambu", bukan pula "Tendangan Kungfu", namun semua dirangkul.

Namun, jika memang tidak bisa didamaikan, ya jika diperlukan “diadu kepala” nya agar sadar akan tugasnya.

Warna lain yang juga menjadi ciri khas dari media ini adalah tidak kehilangan “warna dan rasa kedaerahan” dalam pengertian khas Lampung, tetapi bukan etnis Lampung. Memberi “nyawa” media kepada sesuatu yang khas tidak banyak dimiliki oleh redaktur.

“Kelakuan” seperti ini menjadi sangat khas melekat pada HBM. Oleh karena itu tidak salah jika ada orang yang berpersepsi “miring” terhadap beliau, namun banyak juga yang “tegak”; jadi itu bukan persoalan karena hanya beda selera saja.

Sama halnya, ada teman yang selera dengan “sambal sruit”, namun ada juga yang selera dengan “gulai taboh”. Kita tidak bisa membuat gradasi bahwa Sambal sruit lebih tinggi dari gulai taboh; karena “maqom” keduanya berbeda.

Menarik di simah, tahun 2025, adakah rencana Helo Indonesia Lampung untuk memasukinya; hanya Tuhan dan HBM yang tahu. Namun sebagai pembaca setia rasanya punya hak untuk bicara, bukan hanya hak membaca.

Untuk itu ijinkan penulis mengajukan selembar daun sirih yang berisi petitih; Teruslah maju wahai media-ku; karena bersamamu rasa diri ini menjadi satu. Jagalah marwah sampai dirimu menjadi debu, karena hanya itu yang mampu menegakkan jati dirimu.

Soal apa cerita dan bagaimana lakonnya pada tahun 2025, itu sudah ada sebelum kita ada; hanya keihlasan dan kesabaran yang diminta dari kita untuk menapakinya. Semoga sisa usia ini masih diberi kesempatan untuk melihat lakon dari Hello Indonesia Lampung bersama HBM ditahun hadapan.

Orang bijak berpesan “jika dirimu ikan gabus maka permukaan tempatmu, jika dirimu ditakdirkan sebagai batu, maka dasar laut tempat bermukimmu”. Selamat menjemput takdir, karena apapun yang datang dari Tuhan itulah yang terbaik untuk mahluk-NYA. SELAMAT TAHUN BARU 2025

* Guru Besar Universitas Malahayati Lampung



 -