LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - PEMPROV Lampung telah sukses menguasai kembali lahan miliknya di kawasan "Kepala Burung", Sabah Balau, perbatasan Kabupaten Lampung Selatan dengan Kota Bandarlampung. Namun bagi seratusan penghuni 41 rumah yang telah hancur, awal penderitaan memasuki Bulan Suci Ramadhan 2025.
Bagaimana tidak, pagi itu, Rabu (12/2/2025), truk mengangkut alat berat menderu menuju kawasan permukiman warga yang telah dihuni sekitar 15 tahun. Warga dibantu para mahasiswa, aktivis, dan ormas berusaha memblok kedatangan alat berat yang hendak memasuki "Kepala Burung".
Sia-sia, petugas gabungan dari Satpol PP, TNI-Polri, Damkar, dan Dishub jauh lebih banyak dari warga. Ada warga yang sampai bibir jontor, kepala terluka berusaha menahan laju kekuasaan merangsek permukimanpermukiman saat masalah ini dalam proses hukum.
Seorang nenek renta ditandu petugas keluar permukiman. Seorang ibu dengan sisa tenaga dipapah aparat mencari polisi minta dirinya ditebak saja. Tidak ada satupun pemimpin yang baru mereka pilih mendengar suara-suara rintihan dan doa mereka yang tergusur pagi itu.
Dalam beberapa jam saja, semua rumah rata dengan tanah. Sebagian warga tak menyangka kejadian yang telah menjadi mimpi buruk mereka bertahun-tahun mendadak terjadi hari itu. Sebagian besar warga tak sempat lagi mengemasi barang-barangnya.
Sabtu (15/2/2025), ketika saya melihat kembali kondisi pascapenggusuran, dari kejauhan, semua rumah sudah hancur bak kena bom Israel di Palestina. Sebelum masuk kawasan, pos pejagaan yang didirikan tim gabungan menanyakan keperluan saya.
Petugas tak mengijinkan siapa pun masuk kawasan karena masih banyak perabotan rumah tangga menumpuk di puing-puing rumah. Warga yang berhak terhadap perabotannya saja yang diijinkan mengevakuaasi sisa hartanya.
Petugas khawatir ada peralatan warga yang hilang. Agaknya, mereka yang tergusur masih stres harus menerima kenyataan rumah yang mereka bangun secara bertahap satu per satu lenyap dalam hitungan jam.
Warga sudah kehabisan air mata. Para pemimpin seakan tak melihat penderitaan yang sedang terjadi kepada warganya. Spanduk-spanduk meminta pertolongan penguasa tak terdengar sama sekali seolah tenggelam dengan suara mesin eskavator dan robohnya rumah mereka. .
Entah bagaimana nasib tanaman-tanaman pertanian buat menyambung hidup di sekitar permukiman mereka. Pemerintah mengkliem tanah seluas 60 hektare kawasan tersebut aset Pemprov Lampung berdasarkan alas hak tiga sertifikat.
Pada hari yang sama, muncul pemberitaan Penjabat Gubernur Lampung Samsudin pamit kembali ke tempat asalnya Kementerian Pemuda dan Olahraga RI sebagai staf ahli. Selamat jalan, Bapak memang "ahli".
* Wartawan Helo Indonesia, Kota Bandarlampung
