Oleh Herman Batin Mangku*
HARI ini, Indonesia "milik" Gerindra. Meski baru saja merayakan ultah sweet seventeen (6/2/2025), partai besutan Prabowo Subianto ini dipercaya rakyat jadi partai papan atas dan sukses mengajak 10 partai bergabung ke Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang mengantarkannya jadi RI-1 periode 2025-2030.
Di daerah (provinsi), Partai Gerindra tak kalah moncer. Di Provinsi Lampung, dipimpin Rahmad Mirzani Djausal (RMD) alias Mirza, partai ini bersama KIM berhasil mengantarkan ketua Partai Gerindra Lampung itu jadi gubernur Lampung dengan meraih 82,7 persen suara.
Gubernur yang masih berusia 45 tahun ini juga tak kaleng-kaleng. Dibuktikannya, Lampung berhasil menyumbang dukungan hampir 2 juta suara untuk Prabowo pada Pilpres 2024. Wajar kemudian sang presiden terlihat sayang dengan RMD sebagai pemimpin muda masa depan: "Sang Fajar".
Pada saat puncak HUT ke-17 Partai Gerindra di Sentul, Bogor, Sabtu (15/2/2025), Prabowo menampilkan pemimpin muda Lampung itu membacakan teks Pancasila. Mata Indonesia menyorot tajam kemunculan RMD yang penuh percaya diri dan lantang memimpin pembacaan teks Pancasila.
Kebanggaan bagi masyarakat Lampung, pemimpin muda daerahnya tampil di panggung nasional. Hari ini, Indonesia "milik" Gerindra dan KIM menuju Indonesia Maju. Pada acara tersebut, Sang Presiden blak-blakan menyatakan kebanggaannya terhadap RMD.
Awal yang baik buat masyarakat Lampung. Namun, seiring baru mulai "menasionalnya" pemimpin muda dari Lampung, angin mulai bertiup kencang. Ibarat pepatah, pohon semakin tinggi, semakin kencang angin menerpa.
Beberapa media dari luar daerah bertiup mulai membangun stigma miring pembacaan sila Pancasila tak lengkap. Ada yang memotong video RMD seolah tak membacakan sila keempat Pancasila.
Untung, gubernur baru Lampung kali ini tak baperan. Kapal baru berlayar, nahkoda muda masih harus menghadapi gelombang dan angin samudera yang lebih besar. Jauh panggang dari api, isu tipis-tipis, gelombang kecil itu tak mungkin menghalangi laju kapal.
Prabowo saja baru dilantik sudah langsung menghadapi badai dari Selat Karimata. Langkahnya langsung disergap pagar laut, di-framing tak lebih dari boneka rezim lama, hingga upayanya cuci piring dari tumpukan hutang harus berisiko dirinya dinilai tega memotong anggaran.
Untungnya, untuk di Lampung, media daerah yang walau sebagian telah ditangani banyak anak muda sudah jauh lebih dewasa. Banyak yang mungkin sudah berpikir mulai nih gaya-gaya lama mendegradasi pemimpin penuh harapan dari Lampung.
Cukup Bima Yudho Saputro dari kos-annya di Australia yang telah mengharubirukan Lampung dengan berita jalan buruknya yang kemudian datang "super hero" dari Solo sebagai satu-satunya pemimpin yang bisa memperbaiki jalan dan eng-ing-eng sang putra mahkota kini jadi wapres. Bimo pun kembali ke laptop.
Lampung harus kompak menuju Lampung Maju. Jika gubernur dari Solo bisa menguasai Indonesia selama 10 tahun, kenapa tidak dari Lampung pun kelak muncul "Sang Fajar" yang akan ikut mengawal bangsa ini menuju Indonesia Emas.
Saatnya kita tinggalkan, anekdot lama sifat seperti kera, saling menjatuhkan ketika ada kawan yang hendak naik. Beda dengan mengingatkan walau dalam bungkus kritik, niatnya justru agar tak terpleset jatuh lebih dalam.
Di Amerika yang katanya nenek moyangnya demokrasi saja, medianya berpihak ketika urusannya kepentingan bangsanya. Beberapa media terkenal Amerika selalu mendukung kebijakan luar negerinya.
Walau medianya bisa dibagi tiga kategori (konservatif, liberal, bisnis), mereka garda terdepan membangun opini publik terhadap kebijakan negaranya, pemimpinnya:
Media Konservatif
1. Fox News yang dikenal sebagai salah satu media konservatif terbesar di Amerika seringkali mendukung kebijakan luar negeri Amerika yang lebih agresif.
2. The Wall Street Journal, meskipun tidak selalu konservatif seringkali mendukung kebijakan luar negeri Amerika yang pro-bisnis dan pro-keamanan.
3. National Review yang menjadi majalah konservatif ini seringkali mendukung kebijakan luar negeri Amerika yang lebih agresif dan pro-keamanan.
Media Liberal
1. The New York Times meskipun tidak selalu liberal seringkali mendukung kebijakan luar negeri Amerika yang lebih diplomatik dan pro-hak asasi manusia.
2. The Washington Post seringkali mendukung kebijakan luar negeri Amerika yang lebih diplomatik dan pro-keamanan.
3. CNN walau tidak selalu liberal seringkali mendukung kebijakan luar negeri Amerika yang lebih diplomatik dan pro-hak asasi manusia.
Media Bisnis
1. Bloomberg, media bisnis ini seringkali mendukung kebijakan luar negeri Amerika yang pro-bisnis dan pro-keamanan.
2. Forbes, majalah bisnis ini seringkali mendukung kebijakan luar negeri Amerika yang pro-bisnis dan pro-keamanan.
Tak selalu, tapi secara umum, mereka ikut berjuang demi kepentingan nasionalnya. Sudah saatnya, Lampung yang diberikan anugerah pemimpin muda yang relejius, mereka yang dari "luar" yang hendak mendegrasi atau mengadudomba antar warga di Lampung, ngilu maaf pay, minggir dulu wir.
Lampung ingin maju, ingin ikut arus besar menuju Indonesia Maju, ingin mendapatkan kesempatan putra daerahnya berbuat untuk Indonesia, insya Alloh
* Pimred Club
