Oleh Ustadz Gufron Azis Fuandi
ADAKAH manusia yang terbebas dari kesalahan dan dosa? Kecuali para nabi yang mashum, mungkin tidak ada. Maka ada ungkapan yang sering kita dengar: Al-Insanu mahalul khata wan nisyan, manusia adalah tempat salah dan lupa.
Allah memang menciptakan manusia dengan sifat seperti itu, salah dan lupa. Sebagaimana dijelaskan oleh nabi Saw, "Setiap bani Adam sering berbuat salah, tetapi sebaik baiknya orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat". (H.R. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Karenanya Allah mengajarkan kita sebuah doa dalam Alquran sebagai berikut:
"Robbana, janganlah Engkau siksa kami andaikan kami lupa atau berbuat keliru (tidak sengaja)." (Al-Baqarah: 286).
Karena manusia merupakan tempatnya salah dan lupa, maka dengan kasih sayang Nya, Allah mensifati Diri-Nya dengan Maha Pemaaf dan Maha Pengampun. Gandengan kedua Asmaul Husna ini ada dalam beberapa ayat al Quran diantaranya,
ذٰلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوْقِبَ بِهٖ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللّٰهُۗ اِنَّ اللّٰهَ لَعَفُوٌّ غَفُوْرٌ ٦٠
"Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan (kezaliman) penganiayaan yang pernah dia derita kemudian dia dizalimi (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun." (Al Hajj: 60)
Memperbanyak membaca istighfar adalah upaya kita untuk mendapatkan ampunan Allah. Dan dalam bulan Ramadhan, selain banyak beristighfar biasanya kaum muslimin juga banyak memohon permaafan dari Yang Maha Pemaaf, Allah SWT.
Seperti diriwayatkan dari Aisyah ra, dia berkata, “Wahai Rasulullah Saw, beritahukan kepadaku jika aku menemui malam al-Qadr, doa apa yang aku katakan/panjatkan?
“Beliau menjawab,“ katakanlah, Allahumma innaka ‘afuwwun, tuhubbil ‘afwa fa’fu ‘anni (Wahai Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Maaf, Engkau suka memberi maaf, maka maafkanlah aku).
Mencermati sabda Rasulullah Saw tersebut, mari kita belajar membedah makna ‘afuwwun pada doa di atas. Derivasi ‘afuwwun sangat banyak dalam Alquran. Beberapa di antaranya ialah ‘afaa (7x), ‘afau (1x), ‘afaunaa (2x), ta’fuu (3x), na’fu dan ya’fu (masing-masing 1x), ya’fua (2x), ya’fuu (14x), wal-ya’fuu (1x), ya’fuuna (1x), a’fu- ‘ufiya (1x), ‘afwa (2x), ‘afuwwun (2x), ‘afuwwan (3x), ‘afiina (1x).
Dari sekian banyak lafadz di atas, yang paling menggambarkan salah satu sifat Allah ialah ‘afuwwun (Rabb yang Maha Pemaaf). Berikutnya, dari dua lafadz yang diterjemahkan sebagai sifat Allah; ‘afuwwun seringkali bersanding dengan ghafur.
Hanya satu yang bersanding dengan qadiiran. Mengapa demikian? Beberapa pakar bahasa, Syaikh Raghib al-Isfahani misalnya, membedakan kedua lafadz tersebut meski terkesan sama.
Beliau melihat bahwa ‘afuwwun, dalam beberapa derivasi yang sudah disebutkan di atas, lebih kepada ‘pemaafan’ Tuhan dari sifat-sifat manusiawi hambanya yang lebih sering diliputi salah dan dosa setiap harinya.
Karena itu, lafadz ‘afuwwun, jika kita mengacu kepada surah Ali ‘Imran/3: 134 misalnya.
Disitu terdapat lafadz wal’afina ‘anin naas (memaafkan kesalahan orang lain) dalam konteks orang-orang yang diprioritaskan Allah untuk memeroleh surga yang luasnya seluas langit dan bumi, salah satunya adalah mereka yang mudah, ringan, enteng, ikhlas, memaafkan kesalahan dan kekhilafan orang lain.
Sementara itu, ghafur, dalam banyak derivasinya lebih merujuk kepada dosa-dosa yang akan terus abadi dalam buku catatan amal manusia, namun karena Allah yang Maha Ghafur mengampuni, maka Allah mengampuni segala salah dan khilaf manusia tersebut.
Bukan hanya mengampuni pasca hamba tersebut berbuat dosa, saking luar biasa baiknya Allah, maka Allah pun ‘menutupi’ dengan sempurna, aib-aib manusia.
Dengan demikian, gha-fa-ra yang secara Bahasa menutupi, berarti maknanya Allah adalah Tuhan yang Maha Menutupi aib-aib seluruh manusia.
Jadi, dimana perbedaan ‘afuwwun dan ghafur?
Kembali ke makna dasar ayat, ‘afuwwun ialah Maha Belas Kasihnya Allah, Maha Pemaafnya Allah, maka hanya Dialah yang maha memaafkan orang-orang yang memohon maaf pada-Nya. Bukan hanya memaafkan, Allah pun akan menganugerahi maaf-Nya yang tiada batas kepada kita semua hingga bersih dari catatan khilaf dan dosa di hadapan pengadilan Allah Swt kelak.
Dengan kata lain, maaf Nya Allah bentuknya adalah dihapuskannya catatan dosa dan kesalahan manusia, orang yang dimaafkan. Sehingga catatan buruknya hilang dari buku raport.
Sementara al-Ghafur Ghafur, Allah yang Maha Pengampun, Dia tidak hanya mengampuni dosa-dosa hambanya yang memohon ampun, tapi Dia juga menutupi secara sempurna aib-aib manusia, sehingga tidak terlihat oleh orang lain bahkan dosa dan kesalahan orang yang mendapatkan ampunan Nya, meskipun tidak dihapus tetapi juga tidak direken. Ditutupi dan tidak dihitung.
Jika saja satu aib atau dosa yang diperbuat manusia ditandakan dengan satu titik hitam di wajahnya, maka akan terlihatlah berapa titik hitam yang nemplok menghias wajah semua manusia.
Sebab tidak manusia yang terlepas dari salah dan dosa. Seseorang dimuliakan dan dihormati oleh orang lain disebabkan karena Allah telah menutupi kesalahan dan dosanya.
Karenanya seorang Muhamad bin Wâsi’ berkata, “Seandainya dosa-dosa itu ada baunya maka tidak seorangpun yang mau duduk bersamaku”
Allah adalah al-Ghafur yang bermakna bahwa Allah mengampuni dosa, khilaf dan kesalahan manusia, namun catatan dosa itu akan tetap ada.
Sedangkan, Allah Yang Maha Pemaaf (‘Afuwwun), tak cukup hanya memberi maaf saja, tetapi Allah juga menghapuskan seluruh amal-amal buruk (dosa) yang pernah dilakukan manusia, dan menghapusnya secara permanen dan abadi dalam buku catatan amal perbuatan kita.
Oleh karena itu Rasulullah mengingatkan kepada kita, agar setelah Allah mengampuni kita dengan menutupi aib dan dosa kita, jangan kemudian malah membukanya.
Beliau Saw bersabda,
“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di paginya ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu padahal Allah telah menutupinya (mengampuninya) dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah atas dirinya.” (HR Bukhari Muslim)
Ibnu Abdil Barr ketika menjelaskan hadis ini dan sejenisnya, menjelaskan: “Dalam hadis ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa ketika seorang muslim melakukan perbuatan yang keji wajib baginya menutupinya, dan begitu juga ia wajib menutupi aib orang lain.
Boleh jadi, seseorang yang selama ini dipandang sebagai orang yang baik bukanlah orang yang sedikit atau tidak punya kesalahan. Tetapi lebih karena Allah telah menutupi aibnya. Dan ditutupinya seseorang lantara orang tersebut serius meminta penutup nya dari Yang Maha Pengampun melalui istighfar yang banyak diwiridkan. Astaghfirullahal 'adzim innallaha ghafurur rahim...
Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)
