Helo Indonesia

NAKAL

Herman Batin Mangku - Opini
Jumat, 4 April 2025 18:00
    Bagikan  
.
HELO INDONESIA

. - .

Oleh Prof. Sudjarwo*

DIKSI ini muncul pada tulisan Herman Batin Mangku (HBM) di media ini, Kamis (4/4/2025). Dia mengulas kata "nakal" setelah menerima telepon ucapan selamat lebaran dari mitranya.

Uraiannya singkat namun menohok karena berkaitan dengan kerja-kerja kejurnalistikan. Sekaliber HBM tentu dalam memilih diksi begitu bernas, sehingga tulisan tadi padat dan “menggigit”.

Baca juga: Pikiran-Pikiran Nakal, Harimau Mangsa Opor Ayam

Saya ikut terinspirasi melihat lebih jauh lagi tentang “nakal” yang dimaksud dalam uraian HBM namun dari sudut pandang yang berbeda, yaitu dari sudut pandang filsafat manusia.

Karena, tanpa itu, kita akan terjebak pada “konotasi". Sementara konotasi sendiri sering terjebak pada penilaian baik dan buruk. Oleh karena itu bisa jadi sesuatu itu sebenarnya ada pada wilayah “denotatif”.

Dalam filsafat, makna "nakal" dapat ditinjau dari berbagai perspektif tergantung pada konteks dan aliran pemikiran yang digunakan. Berikut adalah beberapa sudut pandang yang bisa digunakan untuk memahami konsep "nakal":

1. Etika dan Moralitas

Etika Aristotelian: Aristoteles berbicara tentang "keutamaan" (virtue) sebagai jalan tengah antara dua ekstrem. "Nakal" bisa dianggap sebagai perilaku yang menyimpang dari kebajikan, tetapi tidak selalu buruk jika itu merupakan ekspresi dari kebebasan atau keberanian dalam batas yang tepat.

Sementara itu Utilitarianisme (Jeremy Bentham & John Stuart Mill): Tindakan "nakal" dinilai berdasarkan dampaknya terhadap kebahagiaan atau penderitaan. Jika kenakalan meningkatkan kebahagiaan tanpa merugikan orang lain, maka bisa dianggap netral atau bahkan positif.

Dari kacamata Deontologi (Immanuel Kant): Dari perspektif Kantian, "nakal" bisa dianggap sebagai pelanggaran terhadap kewajiban moral yang universal, terutama jika itu bertentangan dengan prinsip moral yang harus dijunjung tinggi oleh semua orang.

2. Eksistensialisme dan Kebebasan Individu.

Jean-Paul Sartre: "Nakal" bisa dilihat sebagai bentuk ekspresi kebebasan individu. Jika seseorang bertindak "nakal" untuk menegaskan keberadaannya (existence precedes essence), itu bisa menjadi bentuk perlawanan terhadap norma sosial yang menekan.

Friedrich Nietzsche: Dalam konsep "Übermensch" (Manusia Unggul), "nakal" bisa menjadi simbol penolakan terhadap moralitas budak dan penciptaan nilai-nilai baru yang lebih sesuai dengan kehendak pribadi dan kekuatan diri.

3. Perspektif Sosial dan Budaya

Dalam filsafat postmodernisme (misalnya Michel Foucault), "nakal" bisa dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap struktur kekuasaan yang mengontrol individu. Apa yang dianggap "nakal" sebenarnya bisa menjadi alat untuk membongkar norma-norma yang menekan kebebasan manusia.

4. Perspektif Mistisisme dan Spiritualitas Timur

Dalam filsafat Timur seperti Taoisme, "nakal" bisa dipandang sebagai ekspresi spontanitas dan harmoni dengan dao (jalan alam). Jika kenakalan dilakukan dengan kesadaran akan keseimbangan, maka itu bukanlah sesuatu yang negatif, melainkan bentuk permainan yang alami dalam kehidupan.

Secara umum, "nakal" dalam filsafat bukan sekadar tindakan melawan norma, tetapi juga bisa menjadi simbol kebebasan, kreativitas, atau bahkan refleksi kritis terhadap aturan sosial. Maknanya tergantung pada bagaimana tindakan itu dipahami dalam konteks moral, sosial, atau spiritual.

Sayangnya tidak semua kita, termasuk penguasa; yang mau memahami eksistensi berfikir nakal. Justru kebanyakan terjebak pada perilaku nakal; padahal keduanya sangat berbeda makhomnya. Oleh sebab itu berfikir nakal adalah karunia keilahian yang dilimpahkan kepada manusia; termasuk kepada sedikit jurnalis , termasuk didalamnya HBM.

Sementara perilaku nakal adalah hasil proses interaksi kehidupan yang salah duduk. Tidak salah jika ada tokoh bihavioris yang mengatakan bahwa “orang pandai itu adalah mereka yang diberi kelebihan oleh Tuhan untuk berfikir nakal”.

Salam Waras

* Guru Besar Universitas Malahayati Lampung