Helo Indonesia

Catatan Samping Perjalanan Haji (2) Kabah Baitullah

Annisa Egaleonita - Opini
Senin, 12 Mei 2025 22:18
    Bagikan  
Catatan Samping Perjalanan Haji (2) Kabah Baitullah

Gufron Azis Fuandi

Oleh Gufron Azis Fuandi

SAAT Muhammad bin Abdullah berusia 35 tahun, belum diangkat menjadi nabi, orang orang Quraisy sepakat untuk merenovasi Ka'bah. Sebabnya karena Ka'bah yang dibangun dimasa nabi Ibrahim dan nabi Ismail sekitar tahun 2000 SM sudah mulai rapuh dan kota Mekkah mengalami banjir besar hingga meluap sampai ke Baitul Haram yang membuat Ka'bah sewaktu waktu bisa roboh.

Renovasi Ka'bah dimulai oleh Walid bin Mughirah, kemudian menunggu beberapa hari. Dan kemudian setelah itu ternyata tidak terjadi apa apa (tidak kualat) yang menimpa Walid, maka semuanya ikut merobohkan. Dan pembangunannya kembali diarsiteki oleh arsitek dari Romawi yang bernama Baqum Pachomius. Saat pembangunan kembali ini masyarakat Mekkah kekurangan dana sehingga menyisakan Hijir Ismail. Sebabnya karena masyarakat Mekkah bersepakat bahwa untuk merenovasi Ka'bah ini harus menggunakan dana yang benar benar halal. Panitia pembangunan tidak menerima dana dari hasil judi, jual beli riba, korupsi atau rampasan dan juga tidak menerima dana dari mas kawin para pelatjur. Dan ternyata sejak dulu mencari dan mengumpulkan dana halal itu memang sulit. Tapi ternyata hal tersebut ada hikmahnya, yaitu kita, yang bukan presiden atau kepala negara, bisa shalat di "dalam Ka'bah" tanpa melalui pintunya yakni shalat di Hijr Ismail.
Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Daud, Aisyah ingin shalat di dalam Ka'bah, namun Rasulullah SAW membawanya ke Hijir Ismail dan bersabda, "Shalatlah di sini jika kamu ingin shalat di dalam Ka'bah, karena ini termasuk bagian dari Ka'bah".

Dalam proyek renovasi ini juga Allah menunjukkan kepada masyarakat Mekkah bahwa Muhammad yang kelak diangkat menjadi nabi adalah sosok yang kuat leadershipnya, adil dan bijaksana tindakan dan keputusannya. Hal ini dibuktikan dalam menyelesaikan sengketa tentang siapa yang berhak menempatkan kembali Hajar Aswad ke tempat semula. Saat itu masing masing kabilah sudah berikrar dengan cap jempol darah, eh mencelupkan jarinya ke mangkok berisi darah sebagai pertanda siap tempur sampai ritik darah penghabisan. Tetapi nabi bisa menyelesaikannya dengan cara damai tanpa pertumpahan darah setetes pun.

Setelah itu Ka'bah sempat mengalami pembangunan kembali oleh Abdullah bin Zubair pada tahun 683 M. Setelah dihancurkan oleh Hajaj bin Tusuf Ats-Tsaqafi.
Kemudian dibongkar dan dibangun kembali oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan (692 M) sampai kini.

Sebagai syariat yang diwariskan oleh nabi Ibrahim, haji juga dilaksanakan oleh keturunannya dari jalur nabi Ishaq. Menjelang kelahiran Islam, haji dilaksanakan secara semrawut dan brutal. Mereka bahkan melakukan thawaf sambil telanjang, menyanyi dan bertepuk tangan.
Menurut hadits riwayat Muslim no. 1185, kalimat talbiyah yang diucapkan kaum musyrikin ketika mereka berhaji pun ditambahkan dengan:
لبيك لا شريك لك، إلا شريكا هو لك، تملكه وما ملك

“Aku menjawab panggilan-Mu, ya Allah; tiada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu; Engkau menguasainya dan ia tidak berkuasa.”

Ungkapan itu dibaca setelah bacaan talbiyah yang kita baca sekarang:
"Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, la syarika lak".
"Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji dan nikmat adalah milik-Mu, dan kerajaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu"

Ka'bah adalah bangunan tempat ibadah yang pertama dibangun manusia ( nabi Adam). Kemudian ditinggikan oleh nabi Ibrahim dan nabi Ismail. Ka'bah adalah kiblat umat Islam. Banyak keistimewaannya dalam berbagai tinjauan sudut pandang ilmu pengetahuan. Tak cukup sehari untuk diceritakan, tak cukup seribu bila dituliskan. Bersyukurlah bagi yang sempat menjadi tamu Allah, datang ke Baitullah. Jangan sia siakan waktu dengan dihabiskan untuk berbelanja. Bila lelah bersimpuh di depan rumah Nya, datanglah ketempat bersejarah bagi kelahiran dan perkembangan Islam. Agar kita lebih mencintai Islam.

Saat melihat Ka'bah, bangunkan tekad untuk suatu ketika kembali lagi dan bisikkan doa:
"Allahumma zid haadzal bayta tasyriifan wa ta'zhiiman wa takriiman wa mahaabatan, wa zid man syarrafahu wa karramahu min man hajjahu aw i'tamarahu tasyriifan wa takriiman wa ta'zhiiman wa birran."

"Ya Allah, tambahkan kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan kehebatan pada Baitullah ini. Tambahkan juga kemuliaan, kehormatan, keagungan, dan kebaikan untuk orang-orang berhaji atau berumroh yang memuliakan dan menghormati Ka'bah."

Semoga Allah, dalam sisa ini, memberi kesempatan untuk kembali bersimpuh didepan rumahNya, Ka'bah Baitullah.