Oleh Herman Batin Mangku*
SAYA tak pernah bertemu secara fisik Datuk Zainal Abidin Pagaralam (ZAP), gubernur pertama yang lahir dari rahim Bumi Lampung (1966-1972). Apalagi Gubernur Mirza yang malah belum lahir. Keduanya memimpin Lampung terpisah setengah abad lebih, satu generasi.
Namun, dari catatan tangan, ketikan, dan dokumen (piagam, raport, ijazah, dll) yang sudah lusuh di gudang rumah putra ketiganya, Sjachrazad ZP, tahun 2010, saya bersama Anshori Djausal dan Dino Noviandi tak hanya menemui jejak perjalanan hidupnya.

Dari puzle-puzle dokumen ditambah kisah dari anak-anaknya, cucu, dan teman-temannya yang berinteraksi langsung dengan kepemimpinan Datuk Zainal, saya akhirnya mengenal lebih dalam kepribadiannya hingga ke watak dan semangatnya untuk "Lampung Maju".
Datuk Zainal, setelah selesai sekolah guru HIK (Hollandsche Indische Kweekschool) lanjut Mosvia (Middlebare Opleiding School Voor Inlandche Ambtenaren) tahun 1941, pemuda kelahirkan Kedaton 29 Februari 1916 itu telah bertekad mulang tiuh untuk Lampung Maju.
"Dengan pengalaman2 di sekolah serta minat penuh untuk bekerdja bagi suku kami jang sangat ketinggalan, dengan badan jang sehat mulailah saja menjadi ambtenaar," tulisnya ketika mulai jadi PNS.
Zainal Abidin Pagaralam tak tergoda jabatan di Pemerintah Pusat yang kala itu tinggal milih mau di kementerian apa. Dia memilih pulang kampung untuk membangun daerahnya dari nol, benar-benar dari nol, tanpa ada APBD, bank, perkantoran, universitas, dan sumber daya manusia mumpuni.
Biar rakyatnya cerdas, Datuk Zainal menggagas berdirinya Universitas Lampung tahun 1962. Bagimana caranya, lagi-lagi kreativitasnya memunculkan gagasan kolaborasi dengan dunia usaha yang kampus awalnya bekas sekolah ELS di Cimeng, Telukbetung.
Datuk Zainal lalu merayu Subki E Harun yang masih kuliah hingga diberi ongkos di FE UGM agar kembali ke Lampung untuk merintis Bank Lampung dari modal dan kantor pinjaman pengusaha Coa Ki Meng di Telukbetung, Kota Bandarlampung pada tahun 1966.
Masih banyak kreativitas untuk awal Lampung Maju dengan "kantong kempes", mulai dari membuat sekolah, memperbaiki rumah sakit dan bandara udara warisan Kolonial, Kota Satelit Pahoman, infrastruktur jalan, dll.
Jelang purna tugasnya (1972), Datuk Zainal mempersembahkan karya akhirnya sebelum pensiun adalah Kantor Gubernur Lampung yang kini ditempati Iyay Mirza.
Darimana saya tahu itu semua, ya, dari puzle-puzle yang kami kumpulkan beberapa bulan hingga menjadi buku yang telah dijadwalkan cetakan keduanya diluncurkan bertepatan dengan peresmian Perpustakaan Daerah (Perpusda) Lampung "Nuwa Baca Zainal Abidin Pagaralam" oleh Iyay Mirza di Jl. Zainal Abidin Pagaralam, Kedaton, Kota Bandarlampung, Jumat (23/5/2025), pukul 18.30 WIB.
Walau terpisah setengah abad lebih, Iyay Mirza jelang seratus harinya menjabat gubernur Lampung begitu cepat mengeksekusi penantian puluhan tahun untuk tidak melupakan sejarah gubernur yang pertama merintis Lampung Maju.
Buku Zainal Abidin Pagaralam adalah jejak perjalanan pemimpin pertama yang lahir dari Bumi Lampung. Dari buku tersebut, ada catatan budaya dan pendidikan era penjajahan hingga pemerintahan dan bagaimana pembangunan dimulai dari nol pascakemerdekaan RI.
Datuk Zainal bukan milik keluarga ZP lagi. Dia milik masyarakat Lampung. Dari bukunya, setiap generasi kelak bisa belajar dan tahu sejarah agar senantiasa mewarisi semangatnya untuk Lampung Maju dan senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Lampung juga bersyukur adanya Iyay Mirza sebagai gubernur yang juga lahir dari Bumi Lampung dan memiliki jiwa yang sama dengan Datuk Zainal: Lampung Maju. Sejak menjadi nahkoda Pemprov Lampung awal tahun, para awak kapal riang gembira mengejar visi Iyay Mirza.
Terasa, bagaimana Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Thomas Americo langsung membereskan masalah-masalah sepele yang selama ini jadi polemik sambung menyambung seperti tertahannya ijazah hingga berjuang keras bersama jajarannya meningkatkan Indek Pembangunan Manusia (IPM) Lampung yang terpuruk selama ini.
Saya melihat langsung bagaimana Kepala Bappenda Lampung Slamet Riyadi mencari uang buat pembangunan sampai nongkrongin kebijakan pemutihan pajak agar masyarakat mendapatkan pelayanan terbaik hingga mengejar pengusaha nakal yang selalu ngeles bayar pajak.
Kita bisa melihat bagaimana Marindo Kurniawan mengatur lalu lintas dompetnya Pemprov Lampung agar mencapai keseimbangan antara pemasukan dengan belanja. Jelang 100 hari kepemimpinan Iyay Mirza, realisasi APBD 2025 telah mencapai Rp2, 2 triliun atau 30,23 persen dari target.
Iyay Mirza tak kalah energik, dari rapat ke rapat, pertemuan ke pertemuan, undangan ke undangan, hingga masuk TNBBS dari pagi hingga malam dijambaninya dengan selalu riang gembira dan senantiasa salat dan berdoa bersama jajarannya menuju Lampung Maju.
Insya Alloh Lampung Maju dengan pemimpin yang telah dirintis Datuk Zainal dan kini estafetnya ada di tangan Iyay Mirza. Masih juga ada yang hendak melupakan sejarah Datuk Zainal serta mau "menghogor-hogor" untuk "ngerecokin" kerja-kerja Iyay Mirza dkk hingga tahun 2030?
Terima kasih, tabik pun
*Koordinator Pemred Club
-
