Helo Indonesia

Catatan Samping Perjalanan Haji (12) Syafaat di Madinah

Annisa Egaleonita - Opini
Minggu, 25 Mei 2025 23:25
    Bagikan  
Catatan Samping Perjalanan Haji (12) Syafaat di Madinah

GAF

Oleh Gufron Azis Fuandi*

BILA Mekkah adalah tempat lahirnya Islam, maka Madinah adalah tempat berkembangnya Islam ke berbagai penjuru. Sejak kelahiran Islam pertama kali sampai 13 tahun kemudian, tidak sampai 200 orang yang memeluk agama Islam di Mekah. Sedangkan di Madinah, hanya dalam kurun 10 tahun Islam berkembang sampai keseluruh jazirah, mulai dari Yaman di bagian Selatan, Irak di di bagian Timur, dan Yordania di Utara.

Ketika Rasulullah SAW hijrah, penduduk Madinah selain beragama Islam, juga ada yang beragama Yahudi, Nasrani dan paganisme atau penyembah berhala. Maka saat beliau hijrah di Madinah selain segera melakukan konsolidasi internal umat Islam dengan mempersaudarakan para sahabat dan membangun masjid.

Kemudian, Beliau juga melakukan konsolidasi nasional lewat Piagam Madinah (622 M) yang menyatukan penduduk Madinah yang plural menjadi satu kesatuan dengan hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara serta memberikan kebebasan beragama dan hidup yang layak kepada penduduknya.

Piagam Madinah berisi 47 pasal yang mengatur berbagai aspek kehidupan masyarakat Madinah, termasuk hak asasi manusia, hak dan kewajiban dalam bernegara, bela negara, perlindungan hukum, dan toleransi antar agama.

Untuk itu, Rasulullah SAW juga mengangkat seorang dari Bani Qainuqa, salah satu kabilah Yahudi menjadi sekretarisnya. Meskipun akhirnya diberhentikan ketika kemudian bani Qainuqa mengkhianati perjanjian Piagam Madinah.

Sosiolog dan sejarawan Amerika penulis buku Religious Evolution.., Robert N. Bellah, menyebut Piagam Madinah sebagai konstitusi modern pertama di dunia.
Karena piagam Madinah memuat nilai nilai egaliter, tidak berkasta, persamaan didepan hukum dan tidak rasialis. Suatu nilai yang baru digaungkan oleh dunia pada saat revolusi Prancis pada tahun 1799 dengan semboyan Liberte, Egalite dan Fraternite.

Sebagai basis perkembangan Islam, Madinah memiliki banyak situs bersejarah yang berkaitan dengan Islam. Yang pertama tentu adalah Masjid Nabawi. Masjid yang pertama kali dibangun nabi Saw saat pertama kali tiba hijrah ke Madinah.

Tanah yang awalnya milik dua anak yatim dibeli oleh beliau dengan harga diatas pasar, kemudian dibangun masjid seluas 22 x 15 meter. Bangunan awal itulah yang sekarang kita kenal dengan Ar Raudhah. Tempat yang ditandai dengan karpet hijau. Dan tiang yang berbeda dengan tiang yang lain.

Sekarang untuk masuk ke Raudhah harus antri dan mendaftar secara on-line.
Rasulullah Saw bersabda:
"Apa yang berada di antara rumahku dan mimbarku merupakan taman dari taman-taman surga”, ( HR. Bukhari dan Muslim).

Raudhah adalah taman surga yang ada didunia. Raudhah juga satu tempat yang mustajab untuk berdoa. Dari luar kita bisa nyireni Raudhah ini dengan kubahnya yang berwarna hijau, beda warna dan bentuknya dengan kubah yang lainnya.

Masjid yang awalnya hanya 330 meter kemudian diperluas 1452 meter pada tahun ke 7 H, setelah beliau pulang dari perang Khaibar. Benteng terakhir kaum Yahudi di jazirah Arabia.
Kemudian Umar bin Khattab RA memperluas lagi dengan menambah kawasan pada tiga bagian sisinya, yaitu 5 meter di sebelah selatan, 10 meter di sebelah barat, dan 15 meter di sebelah utara. Selanjutnya beberapa khalifah, sulthan dan raja memperluas masjid ini sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan.

Terakhir Raja Fahd bin Abdul Aziz memperluas dan perbaikan Masjid Nabawi. Dan kini luas keseluruhan masjid tersebut mencapai 165.000 m2, dengan jumlah menara menjadi 10 buah serta beberapa kubah yang bisa bergeser. Terakhir masjid yang memilki 69 pintu dan luas total, 40.000 m2 beserta area halamannya mampu menampung 1 juta jama'ah.

Tepat di sebelah Raudhah inilah Rasulullah tinggal bersama dengan Siti Aisyah istri beliau, di sebuah bangunan sederhana berukuran 3,5 x 5 meter, tinggi 2,5 meter beratapkan pelepah kurma dan berdinding batu yang direkatkan dengan tanah liat. Tanpa hiasan, tanpa lukisan. Tanpa anyelir, tanpa melati pun tanpa bunga bakung...
Tetapi meskipun bukan kastil atau istana megah, namun nabi Saw menyebutnya sebagai "baiti jannati", rumahku surgaku!

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari Muslim dijelakan:
"Bahwa suatu hari Umar bin Khattab pernah menemui baginda Nabi Muhammad SAW. saat itu beliau sedang berbaring di atas tikar kasar yang terbuat dari pelepah kurma. dengan berbantalkan kulit kasar yang berisi serabut ijuk kurma. melihat keadaan Nabi Muhammad yang seperti itu Umar pun menangis" .

Kemudian Nabi Muhammad SAW pun bertanya: Mengapa Engkau menangis?"
Umar RA menjawab: " Bagaimana aku tidak menangis, tikar ini membekas pada tubuhmu. Engkau adalah Rasulullah SAW, Utusan Allah SWT. Kekayaanmu hanya seperti in sedangkan kisra dan raja-raja lainnya hidup bergelimangkan kemewahan."

Nabi Muhammad SAW menjawab: "Apakah Engkau tidak rela jika kemewahan itu untuk mereka di dunia dan untuk kita di akhirat nanti?"

Begitulah Nabi SAW, sederhananya asli, bukan pencitraan. Karenanya kesederhanaannya bukan hanya pada tempat tinggalnya saja, tapi juga pola hidupnya pun pola makannya. Bahkan rumahnya pun tidak setiap hari ngebul!

Tidak jarang Nabi SAW memilih berpuasa karena di rumahnya tidak ada makanan. Bukan miskin, tetapi semua kekayaan memang tidak pernah menginap lebih dari tiga hari di rumah Beliau.

Mungkin satu satunya yang yang berkelas hanya kuda dan ontanya, karena ini merupakan kebutuhan transportasi dakwah dan berjihad. Bukan untuk flexing atau pamer

Di rumah itu, sekarang bersemayam jasad termulia, Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Berhentilah sejenak untuk berdoa dan bershalawat ketika lewat di depan makam Beliau. Semoga kita masuk kedalam daftar penerima syafaatnya kelak!

Shallu 'ala nabi...

Wallahua'lam bi shawab
(Gaf).