Helo Indonesia

Alquran dan Kita (1) Kenapa Mualaf Islamnya Kuat

Herman Batin Mangku - Opini
Jumat, 20 Juni 2025 20:59
    Bagikan  
Gufron Azis Fuandi
Gufron Azis Fuandi

Gufron Azis Fuandi - Gufron Azis Fuandi

OLEH USTADZ GUFRON AZIS FUADI*

SETELAH beredar kabar meninggalnya Ustadz Yahya Waloni, mantan pendeta yang kemudian menjadi mualaf dan banyak mengislamkan kaumnya dulu, ada yang bertanya, mengapa banyak mualaf yang kemudian Islam sangat kuat?

Mereka mendakwahkan Islam tanpa kenal takut, padahal banyak diantara mereka yang sumber ekonominya diputus atau diboikot oleh saudara saudaranya. Semoga mereka selalu istiqomah dalam lindungan Allah.

Pada kesempatan lain, ada juga teman yang bertanya, mengapa banyak anak anak sekarang yang etos dakwahnya sangat rendah. Padahal banyak diantara mereka hafal Alquran, ada yang 5 juz, 10 juz bahkan 30 juz.

Sementara kita dulu hanya menghafal beberapa ayat gacoan (andalan/pilihan) tetapi sangat bersemangat dalam berdakwah!

Kemarin, ngobrol dengan seorang ustadz yang datang silaturrahim ke rumah, ternyata pertanyaan di atas jawabannya sederhana tapi berbobot, yaitu karena mereka beriman dulu baru belajar Alquran. 

Dalam Sirah, kita bisa membaca bagaimana Abu Bakar RA hanya dibekali 5 ayat pertama Surat al Alaq oleh Nabi Muhammad SAW tetapi kemudian berhasil mengislamkan hampir 30 orang sahabat assabiqunal awalun diantaranya Utsman, Zubair, Saad bi Abi Waqash, Abdurahman bin Auf dan Thalhah bin Ubaidillah.

Mengajarkan iman sebelum Alquran bukan saja dilakukan (diajarkan) ketika masih di Mekah tetapi juga dilakukan Nabi Muhammad SAW saat Islam mulai jaya di Madinah.

Dua riwayat berikut bisa disimak:
Jundub bin Abdullah ra, berkata,"Dahulu, saat kami masih anak-anak bersama Rasulullah SAW, kami belajar iman sebelum belajar Alquran. Setelah itu kami baru belajar Alquran. Sehingga iman kami pun semakin bertambah kuat.” (HR. Ibn Majah dan dinilai sahih oleh al-Albaniy)

Yang dimaksud belajar iman adalah belajar nilai-nilai yang terkandung di dalam Alquran, itu seharusnya didahulukan sebelum mengajarkan cara membaca Alquran. Sehingga, di saat anak mulai belajar makharijul huruf, tajwid dan cara yang benar dalam membaca Alquran, saat itu anak sudah mengerti secara global ajaran yang terkandung di dalam ayat-ayat yang dipelajarinya.

Riwayat lain, Abdullah bin Umar berkata:
Kami mengalami masa di mana kami belajar iman sebelum belajar Alquran. Saat diturunkan surah Alquran kepada Nabi Saw, kami mempelajari hukum halal dan haram yang terkandung di dalamnya.

Juga perintah dan larangannya serta aturan-aturan yang harus dipatuhi. Seperti detilnya kalian sekarang mempelajari cara membaca Alquran. Namun hari ini aku menyaksikan orang belajar Alquran sebelum belajar iman.

Ia lancar membaca surah al-Fatihah hingga surah an-Nas. Namun tidak mengerti perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi.” (Hr. Al-Baihaqiy dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga adz-Dhahabiy)

Melihat bagaimana sikap para sahabat Radhiallahuma berinteraksi dengan Alquran, Sayid Qutub dalam buku "Ma'alim fi Thariq" menulis para sahabat Nabi Muhammad SAW dahulu menerima ayat ayat Alquran yang turun bagaikan menerima perintah harian komandan yang harus dilaksanakan..."

Sementara itu sekarang tidak sedikit umat Islam yang mempelajari Alquran hanya untuk menambah tsaqafah, menambah ilmu pengetahuan. Banyak diantara kita yang mengenal Islam secara kafah di usia sekolah atau kuliahan melalui berbagai kegiatan Rohis.

Saat itu, kita seolah-olah merasa tersengat iman yang sebenarnya. Sehingga mendengar dan menghayati beberapa ayat pilihan saja sudah terjadi pembaharuan iman Islam dalam diri kita. Dan melahirkan sebuah kesadaran tentang keindahan, kemuliaan dan ketinggian Islam.

Serta kesadaran bahwa Islam hanya akan tegak bila diperjuangkan. Karenanya kita sebagai umatnya wajib memperjuangkan nya. Pengalaman spiritual ini sebenarnya fenomena umum yang merasuku qalbu orang orang yang berhijrah (maknawiyah).

Setidaknya pengalaman spiritual ini juga dialami oleh RA. Kartini saat dia mulai belajar pemahaman al Quran melalui KH. Sholeh Darat As-Samarani dari Semarang. Kartini terpincut dengan ayat 257 surat Al Baqarah, minadz dzulumat ila nur, Dari gelap menuju cahaya.

Ayat ini kemudian mempengaruhi bahkan merubah cara pandanya terhadap Islam. Ayat ini juga menjadi ayat pilihan yang kemudian menjadi tema yang sering ditulis dalam surat-suratnya, yang dalam bahasa Belanda-nya: "Door Duisternis tot Licht".
Sayangnya terjemahan puitis dari Amyn Pane, "Habis Gelap Terbitlah Terang" agak mengaburkan maknanya.

Bila diterjemahkan secara apa adanya sebenarnya lebih aktif dan dinamis, "Dari Gelap Menuju Cahaya".

Kartini dalam surat kepada seorang aktivis perempuan Belanda, Stella Zeehandelaar bertanggal 6 November 1899 dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang menulis:
"Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Alquran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap muslim. Di sini, tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca. Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?"

Kemudian pada surat 2 juli 1902 kepada Ny. Jacoba Maria Petronella Van Kol Kartini menulis:"Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama yang disukai."

Tulisan ini bagian pertama dari (entah) beberapa tulisan tentang "Alwuran dan Kita".
Mohon masukannya.

Wallahu a'lam bi shawab
(Gaf).

 -