Helo Indonesia

Kita dan Alquran (6) Minhajul Hayah, Pedoman Hidup

Annisa Egaleonita - Opini
Jumat, 1 Agustus 2025 11:25
    Bagikan  
Kita dan Alquran (6) Minhajul Hayah, Pedoman Hidup

GAF

ALQURAN bukanlah kitab suci yang hanya berisikan aturan tentang bagaimana berhubungan dengan Allah, Tuhan Yang Maha Esa atau ibadah mahdhah saja. Tetapi Alquran juga mengatur bagaimana hubungan antar sesama manusia dan alam sekitarnya yang sering disebut sebagai ibadah ghairu mahdhah atau hablum minannas.

Alquran bukan kitab sejarah meskipun banyak mengungkapkan kisah dan fakta sejarah. Ia juga bukan kitab sastra meskipun nilai sastranya sangat tinggi. Sangat berkelas!

Alquran juga bukan teks book ilmu pengetahuan meskipun banyak informasi ilmiah didalamnya, bahkan yang sangat mutakhir dan ilmuwan modern belum mampu menyingkapkan semua nya.

Diatas semua itu, Alquran adalah minhajul hayah (pedoman hidup) bagi  manusia. Pedoman hidup ialah sekumpulan ketentuan, aturan atau petunjuk yang memberi arah kepada kita tentang bagaimana hidup kedepannya agar dapat mewujudkan kehidupan yang adil, damai, bahagia dan sejahtera. Sebagaimana ungkapan:

Kehidupan yang tata tentrem kerta Raharja, yakni suatu keadaan wilayah yang tertib, tentram, serta sejahtera dan berkecukupan segala sesuatunya. Atau dalam istilah Alquran dalam surat Saba': 15, "Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur"  yang berarti "negeri yang baik (subur makmur karta raharja) dan dalam lindungan Tuhan yang Maha Pengampun".

Alquran adalah wahyu Allah karenanya sangat layak dijadikan sebagai pedoman hidup manusia. Karena baik Alquran maupun manusia, keduanya berasal dari sumber yang sama, Allah Swt. Karenanya keduanya merupakan ayatullah
(ayat ayat Ayat) yang, seharusnya, tidak mungkin saling bertentangan satu sama lain serta tidak mungkin tidak cocok.

Alquran memberikan petunjuk hidup tentang bagaimana berhubungan dengan sesama manusia apapun suku, bangsa, ras dan warna kulitnya. Mengatur bagaimana hubungan antara sesama muslim serta antara muslim dengan non muslim.

Bahkan masalah iptek, sosial, ekonomi, politik dan kenegaraan.
Pendeknya, bila pedoman hidup atau way of life itu adalah seperangkat aturan seperti ungkapan "deso mowo coro, negoro mowo toto" (desa punya cara, negara punya aturan) maka bahkan Al-Quran lebih dari itu. Ia sangat lengkap!

Tentang petunjuk hidup dari Allah untuk manusia sudah diingatkan Allah kepada nenek moyang manusia, Adam dan Hawa, saat memerintahkan mereka berdua untuk turun ke bumi sebagaimana dalam surat Thoha ayat 123, Allah berfirman: Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Jadi petunjuk-Ku (Allah) bila diikuti dijamin tidak akan tersesat dan tidak akan celaka.

Al-Quran, misalnya , memberikan petunjuk bagaimana menjaga keberlangsungan spesies manusia yaitu dengan menikahnya laki laki dengan perempuan, dari jenisnya sendiri (manusia).

Oleh karena itu pernikahan sejenis (LGBT) dipastikan tidak akan memperpanjang perkembang biakkan manusia tetapi justru mempercepat kepunahan nya. Karena ini (LGBT) bertentangan dengan petunjuk Allah dalam al Quran surat At Rum, 21:
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang."

Dan surat An-Nahl, 72:
"Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri, dan menjadikan bagimu dari pasanganmu anak-anak dan cucu-cucu, serta memberikan rezeki yang baik-baik kepadamu. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?"

Dari jaman kaum Sodom di masa nabi Luth, kaum Pompeii pada abad pertama Masehi sampai saat ini belum ada berita yang mengabarkan pasangan LGBT berhasil hamil dan melahirkan keturunan.

Alquran mengatur siapa yang boleh dan yang tidak boleh dinikahi, baik karena sedarah atau yang lainnya. Alquran mengatur poligami bukan mempelopori poligami. Karena praktek poligami sudah ada sejak laaama sekali. Setidaknya sejarah mencatat bahwa Raja Fir'aun Ramses ll  (hidup pada 1300 SM) memiliki 8 orang istri dan salah satunya adalah putrinya sendiri.

Raja Ashoka di India  (hidup 268 SM hingga 232 SM), memiliki 5 istri dan beberapa selir. Begitupun kaisar Qin Shi Huang (200 SM)  memiliki puluhan selir, meskipun tidak mengangkat satupun permaisuri.

Kemudian Alquran datang untuk mengatur syarat dan ketentuannya.

Dalam berbangsa dan bernegara Alquran mengatur kewajiban, tanggung jawab dan hak seorang pemimpin serta sebaliknya kewajiban rakyat warganegara kepada pemerintah atau pemimpin.
Allah berfirman:

“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”
(Al Hajj, 22: 41)

Dalam ayat lain,
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu..." (An Nisa: 59)

Bahkan masalah yang sering diremehkan tetapi krusial dan sering menjadi penyebab renggangnya pertemanan pun mendapat perhatian dalam Alquran, yaitu masalah hutang piutang.

Hal ini tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 282. Ayat terpanjang dalam al Quran ini memerintahkan orang-orang yang melakukan transaksi hutang piutang untuk menuliskannya dihadapan saksi.

Benarlah Nabi SAW dengan sabdanya:
"...Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah  (al Quran) dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik; Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm).

Setelah kegagalan ideologi/pedoman hidup komunisme dan kapitalisme mewujudkan tatanan dunia yang adil dan damai serta gagal mewujudkan kebahagiaan umat manusia, mengapa kita tidak memberikan kesempatan kepada Al-Quran untuk dicoba?

Wallahu a'lam bi shawab
(Gaf)