Helo Indonesia

Mengenal Rasul Allah (Bagian 1) Maulid Nabi Bukan Sekadar Tradisi

Annisa Egaleonita - Opini
Jumat, 3 Oktober 2025 15:15
    Bagikan  
D
D

D - Gufron Aziz Fuandi

Oleh Ustadz Gufron Azis Fuandi*

MASYARAKAT negeri kita dalam memeringati Maulid Nabi dengan berbagai tradisi: Gerebeg Mulud di Solo, Sekatenan di Jogjakarta, Panjang Jimat di Cirebon dan Bante, Endog Endogan di Banyumasan, dan lain sebagainya. Tetapi, umumnya, pengajian dan shalawatan untuk mengenang kelahiran hingga perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Tujuannya agar umat Islam mengenal Nabi dengan lebih baik dan mendalam sehingga meningkatkan rasa cintanya kepada Beliau. Ibarat pepatah, tak kenal maka tak cinta. Dan cinta yang jujur dengan segala macam perilakunya menjadi bukti tinggi rendahnya keimanannya kepada Rasulullah SAW.

Tanpa iman dan cinta takkan tergerak hati untuk ittiba', mengikutinya. Apalagi menjadikannya qudwah, contoh tauladan.

Memang memeringati Maulid Nabi sebaiknya bukan hanya sekedar tradisi tetapi tetapi ajang untuk berkontemplasi mengukur kecintaan dan keimanan kita kepada Beliau. Karena, tanpa iman dan cinta, kita tidak akan pernah merindukannya, tidak merasa membutuhkannya dan tidak merasa perlu mengikuti apa yang dimauinya.

Apakah benar kita  mencintai Rasulullah SAW, kita sendiri yang bisa menjawabnya.

Apakah kita sering bershalawat untuknya, apakah kita senang mengulik kisah hidupnya, apakah kita ingin selalu mengikuti keinginannya atau rindu ingin bertemu dengan nya, adalah beberapa clue untuk menakar cinta kita. Kalau tidak itu tidak ada, sangat boleh jadi cintanya palsu.

Karena cinta itu, kata Lord of Broken Heart Didi Kempot adalah adanya rasa ingin tahu, rasa ingin bertemu sebagaimana diungkapkan dalam lagu Sewu Kuto, 

"Yo mung siji dadi panyuwunku,
Aku pengin ketemu,
Senajan wektumu mung sedhela,
Senajan sak kedeping moto,
Tak nggo tombo kangen jroning dodo..."

Mengapa kita tidak merasakan perasaan seperti di atas? Tentu karena kita kurang ta'aruf. Jadi sesungguhnya kita tidak tahu, kita tidak kenal siapa, apa dan bagaimana Rasul panutan kita. Kita hanya kenal nama saja. Padahal pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang (tak cinta).

Siapa Rasul?

Dia adalah seorang laki-laki yang dipilih dan diutus Allah untuk membawa risalah kepada manusia. Definisi ini menunjukkan bahwa rasul adalah manusia terbaik diantara manusia yang lain. Sehingga apa yang dibawa,  dikatakan, dilakukan, dan disampaikan adalah yang terbaik dibandingkan yang lainnya.

Dalam hadist riwayat Muslim dari Watsilah bin Asqa', di mana Rasulullah SAW menyatakan bahwa Allah mengutamakan beberapa pilihan, yaitu mengutamakan Kinanah dari Bani Ismail, mengutamakan Quraisy dari Kinanah, mengutamakan Bani Hasyim dari Quraisy, dan mengutamakan dirinya (Nabi Muhammad SAW) dari Bani Hasyim.

Rasulullah, dia adalah pembawa risalah Allah untuk manusia dan dia juga adalah contoh utama bagaimana melaksanakan risalah Allah yang dibawanya tersebut. Rasulullah tidak seperti tukang paket yang lebih banyak tidak tahu terhadap apa yang dibawanya.

Allah berfirman:
"Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya." (Al Kahfi:110)

Beberapa tahun lalu, ada seorang perempuan yang mengaku nabi dan memiliki beberapa orang pengikut. Bagaimana ini?

Klaim tersebut tertolak dengan beberapa hal. Pertama, seorang
(seluruh) nabi yang diutus Allah adalah adalah laki laki, tidak ada yang perempuan. Bahkan seandainya Allah mau mengutus malaikat menjadi seorang nabi pun maka Allah akan mewujudkan malaikat tersebut sebagai laki-laki (lihat surat Al An'am: 9).

Kedua, Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir dan penutup para nabi. (Al Ahzab: 40). Jadi baik laki-laki apalagi perempuan yang nengaku nabi setelah nabi Muhammad Saw adalah dusta dan palsu.

Ketiga, setiap nabi memiliki 'alamat atau ciri-ciri sebagai berikut:
1). Shifatul asasiyah yaitu akhlak dasar mulia yang meliputi sidik (selalu jujur dan benar), tabligh (menyampaikan, tidak ada yang disembunyikan), amanah (dapat dipercaya) dan fathanah (cerdas, kompeten dan bijaksana).

2). Semua rasul memiliki mukjizat. Yaitu sesuatu baik peristiwa, kejadian atau yang lainnya yang diluar kemampuan manusia dan tidak dapat ditiru atau dikalah oleh daya upaya manusia.

Mukjizat terbesar para nabi adalah mukjizat Nabi Muhammad SAW yang berupa Al-Quran. Karena sampai hari ini mukjizat tersebut masih bisa kita saksikan, nikmati dan tidak pernah bisa dipalsukan dan tidak pernah tertandingi oleh kitab apapun ciptaan manusia. Adapun mukjizat para nabi yang lain sudah tidak bisa kita saksikan lagi seiring dengan wafatnya nabi tersebut.

3). Al Mubasyarat.

Kehadiran seorang nabi selalu diberitakan oleh nabi sebelumnya. Jadi tidak muncul ujug ujug begitu saja.

4). An Nubuwah.
Yaitu berita kenabian seperti membawa perintah dari Allah untuk manusia. Misalnya perintah haji yang dibawa oleh nabi Ibrahim, atau berbagai perintah Allah dalam Al-Quran yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW.


5). Ats Tsamarat.
Adanya hasil atau buah dari kenabian. Dan adanya para sahabat adalah bukti nyata dari perubahan yang terjadi di jazirah dan belahan dunia lainnya. Perubahan dari jahiliyah (menyekutukan Allah) menjadi bertauhid, meng-esakan Allah. 

Para sahabat adalah bukti nyata keberhasilan dakwah dan tarbiyah nabi, sehingga mereka menjadi kader tangguh.
Mereka menjadi "Ruhbanun fil lail wa fursanun fin nahar" menjadi rahin (ahli ibadah) dimalam hari dan menjadi penunggang kuda (prajurit) disiang hari.

Wallahu a'lam bi shawab
(Gaf).