Oleh Ustadz Gufron Azis Fuandi*
APA jadinya bila tidak ada Rasul yang diutus? Kondisi kemanusiaan, setelah Nabi Isa As dan sebelum diutusnya Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul, dalam kondisi kejahiliyahan. Jahiliyah adalah istilah dalam Al Quran untuk menyebut suatu kondisi (bukan waktu) dimana manusia bodoh atau tidak tahu tentang Allah, tuhannya secara benar.
Jadi jahiliyah bukan hanya kondisi yang terjadi pada Bangsa Arab, khususnya Mekah, sebelum diutusnya nabi Muhammad SAW tetapi terjadi kepada siapa saja dan dimana saja selama mereka tidak mengenal Allah sebagai Tuhan nya secara benar.
Bangsa Arab pada waktu itu mereka mengenal Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara tetapi mereka juga mempercayai berbagai berhala sebagai tuhan yang berhak disembah.
Di Romawi, mereka mempercayai Allah sebagai Tuhannya tetapi juga mengadakan Konsili di Nicea untuk menggagas dan meresmikan bahwa Tuhan ada tiga, salah satunya adalah anaknya (tuhan). Di peradaban besar lainnya, India, mereka juga memiliki berbagai Tuhan yang tidak hanya satu. Sedangkan di Persia, negara superpower saingan Romawi, mereka menjadikan api sebagai tuhannya.
Karena sosok tuhan adalah hadir dari gagasan mereka, maka peraturan hukum dan akhlak atau moral standarnya adalah berdasarkan keinginan mereka yang (saat itu) kuat dan berkuasa. Dengan demikian hukum dan moral adalah apa mereka sukai dan yang menguntungkan.
Oleh karena itu, kejahiliyahan itu tidak hanya berlaku di Mekkah dan Arab tetapi di seluruh dunia pada waktu itu, meskipun dibelahan dunia yang telah maju ilmu pengetahuan dan teknologinya. Ini karena standar jahiliyah bukan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi tentang pengetahuan dan sikapnya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa dan Yang berhak disembah.
Apakah demikian, jahiliyah bisa terjadi dijaman modern seperti saat ini?
Ya, bahkan kata Syaikh Muhammad Qutub, dalam buku "Jahiliyah Abad 20", kejahiliyahan modern adalah kejahiliyahan yang lengkap. Dimana tidak hanya manusia sekarang tidak mengenal Allah secara benar tetapi juga perilaku kejahiliyahan semua yang dihadapi semua nabi terdahulu (seperti perzinahan, LGBT, curang dalam bisnis, rasialisme, riba, menuhankan materi/benda dll) terkumpul pada kejahiliyahan sekarang.
Kejahiliyahan terjadi karena tidak ada nabi yang diutus untuk memperkenalkan Allah sebagai Pencipta, Pemelihara, Pemberi Rezeki dan Yang paling berhak disembah. Dan bila setelah diutusnya nabi, manusia tetap tidak mau beriman kepada Allah, dengan berbagai atribut-Nya, itu karena hatinya tertutup (ada covernya). Dan orang yang hatinya ter-cover disebut kafir atau ingkar tersebab hatinya tertutup untuk menerima kebenaran.
Begitulah manusia, secara nurani mereka menginginkan bergantung dan menyembah Tuhan. Bertuhan adalah fitrah manusia, hal ini digambarkan Allah dalam al Quran:
"Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (dan berlayar) di lautan. Sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, dan meluncurlah (kapal) itu membawa mereka (orang-orang yang ada di dalamnya) dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya; tiba-tiba datanglah badai dan gelombang menimpanya dari segenap penjuru, dan mereka mengira telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa dengan tulus ikhlas kepada Allah semata. (Seraya berkata), “Sekiranya Engkau menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, pasti Kami termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Yunus, 10: 22).
Tetapi bila tidak berdasarkan petunjuk Allah melalui rasul utusan Nya, maka manusia akan tersesat. Mereka akan menuhankan sesuatu yang sesungguhnya tidak berhak. Tidak berhak karena para tuhan itu adalah hasil imajinasi manusia dan para tuhan itu tidak punya prestasi yang sangat super dan luar biasa, misalnya pernah atau bisa menciptakan dunia dan alam semesta. Jangankan alam semesta, bahkan Allah menantang mereka untuk menciptakan makhluk kecil yang sering diremehkan, lalat .
Tantangan tersebut terdapat dalam Surat Al-Hajj ayat 73, "Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya".
Ayat ini digunakan untuk menunjukkan betapa lemahnya sesembahan selain Allah, bahkan tidak mampu menciptakan makhluk sekecil lalat, apalagi merebut kembali sesuatu yang diambil oleh lalat tersebut.
Tanpa adanya Rasulullah maka kita akan tersesat, kita tidak akan mengenal Allah, Tuhan Yang sebenarnya. Karena dengan mengandalkan cipta, daya, karsa dan karya manusia hanya menuhankan sesuatu yang tidak memiliki prestasi yang super luar biasa.
Jadi Rasul Allah adalah kebutuhan manusia, Hajatul insan ilar rasul. Tanpa adanya Rasul Allah, maka manusia akan tersesat!
Wallahu a'lam bi shawab
(Gaf)
-
