Helo Indonesia

Mengenal Rasul Allah (Bagian ke 4) Apa Kewajiban Kita Kepada Rasul Allah!

Herman Batin Mangku - Opini
Sabtu, 4 Oktober 2025 15:50
    Bagikan  
Gufron Azis Fuandi
Gufron Azis Fuandi

Gufron Azis Fuandi - Gufron Azis Fuandi

Oleh Ustadz Gufron Azis Fuandi

KEIMANAN adalah sesuatu peristiwa atau perbuatan besar. Karena, peristiwa atau perbuatan besar pasti memiliki konsekuensi sebagai dampak ikutannya. Konsekuensi adalah akibat, dampak, atau hasil dari suatu tindakan, keputusan, atau peristiwa yang dapat terjadi sekarang maupun di masa depan.

Beriman kepada Rasul Allah juga memiliki beberapa konsekuensi yang harus kita jalani. Ada beberapa konsekuensi dari beriman kepada rasul Allah secara serius.

Pertama, Tasdiqu fima akhbar (membenarkan apa apa yang dibawa/disampaikan oleh nya). Beriman kepada Rasul berarti kita harus membenarkan apa yang dibawanya. Karena apa yang disabdakan dan apa yang dilakukan adalah berdasarkan bimbingan wahyu Allah. Dia Saw ada maksum, terhindar dari salah dan dosa.
Lihat Az Zumar: 33.

Kedua, tha’atuhu fima amar (mentaati apa yang beliau perintahkan). Pengakuan iman kepada Rasulullah mengharuskan kita mentaati nya. Jangan seperti kaum Yahudi Bani Israil, dimana sikap mereka kepada para nabi, mendengar tapi tidak mengacuhkannya, sami'na wa 'ashayna.
Allah berfirman,
Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. ‘Kami mendengar, dan kami patuh’. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51). Lihat juga Al Ahzab: 36.

Ketiga, ijtanabu ma naha ‘anhu (menjauhi apa yang dilarang olehnya). Allah Ta’ala berfirman,
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (Al-Hasyr: 7)

Sedangkan sikap kaum terdahulu (bani Israel) tidak meninggalkan larangannya atau ngakal ngakalinya sehingga seolah olah tidak melanggar delik hukum.

Keempat, la na’budullaha illa bima syara’a (kita tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa-apa yang disyariatkan [dicontohkan] oleh beliau).
Dari Ummul Mu’minin Aisyah ra, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak’.” (Hr. Bukhari dan Muslim).

Demikianlah sesungguhnya iman. Ia bukan omon-omon, tetapi suatu perkataan dan pernyataan berbobot yang memiliki konsekuensi. Menyatakan beriman tetapi tidak memahami konsekuensinya membuat orang tersebut tidak merasa memiliki tanggungjawab apalagi kewajiban.

Setelah kita memahami konsekuensi beriman kepada rasul Allah maka selanjutnya kita perlu mengulik apa kewajiban kita kita kepada rasul Allah. Karena konsekuensi melahirkan kewajiban.

Pertama, al-imanu bihi (beriman kepadanya) dengan keimanan yang tidak disisipi oleh keraguan sedikitpun. Lihat surat Al Hujurat ayat 15.

Kedua, mahabbatuhu (mencintainya). Lihat surat At Taubah ayat 24.
Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda: "Tidak beriman salah seorang dari kalian, sehingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, orangtuanya dan seluruh manusia.” (HR. Muslim)

Oleh karena itulah Beliau mengingatkan kepada para orang tua agar sejak dini anak-anak harus dikenalkan dan ditanamkan rasa cinta kepada Allah dan rasul-Nya, baru cinta kepada yang lainnya.

Ketiga, ta’dhimuhu (memuliakannya).
Ta’dhimuhu, artinya memuliakan dan mendahulukan sabda beliau Saw atas segala ucapan makhluk serta mengagungkan sunnah-sunnahnya. Lihat surat Al Hujurat ayat 1.

Keempat, ad-difa’u anhu (membelanya).
Ad-difa’u anhu adalah membela nabi, risalahnya beserta sunnah-sunnahnya dari gangguan orang-orang kafir dan jahil (bodoh), sebagaimana pembelaan hawariyyun terhadap risalah Nabi Isa As. Termasuk membela nabi Saw adalah tidak membiarkan orang orang jahil melecehkan dan memfitnahnya.

Kelima, mahabbatu man ahabbahu (mencintai orang-orang yang mencintainya) yaitu keluarganya, sahabatnya dan para pengikutnya.

Orang yang mencintai nabi pastilah orang yang beriman. Oleh karena itu sebagai sesama hamba beriman dan sebagai sesama pecinta nabi maka kita harus saling mencintai dan menyayangi. Allah berfirman,
Muhammad adalah utusan Allah; dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…”
(Al-Fath: 29)

Keenam, ihya-u sunnatih (menghidupkan sunnahnya).
Beliau Saw bersabda: "Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun“ (Hr. Ibnu Majah no. 209, Ibnu Majah no. 173).
Dalam beberapa hal, menghidupkan sunnah hukumnya adalah wajib bukan sunnah.

Ketujuh, iktsarus shalawati ‘alaihi (memperbanyak bershalawat kepadanya). Dalam surat Al Ahzab ayat 56, Allah dan para malaikat pun bershalawat kepada nabi. Lantas sudahkah kita hari ini meluangkan waktu (sejenak) khusus untuk bershalawat atas nabi? Padahal Rasulullah Saw bersabda:
"Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)” (Hr. An-Nasa’i no. 1297)

Kedelapan, ittiba’u manhajihi (mengikuti manhajnya).
Secara bahasa kata “manhaj” berasal dari kata “nahaja” yang berati jalan yang terang (Al Jauhari, Al-Shihah, 1/346 ). Bisa juga berarti jalan yang ditempuh seseorang. Ibnu Abbas ra berkata:
"Demi Allah, Rasulullah tidak meninggal dunia, hingga meninggalkan jalan yang jelas” (Hr Al-Darami: no. 83 )

Kesembilan, wiratsatu risalatihi (mewarisi risalahnya). Artinya kita harus melanjutkan dakwah menyebarkan risalah beliau sehingga dikenal dan diikuti keunggulannya oleh seluruh umat manusia. Karena Islam adalah agama untuk seluruh manusia tanpa batasan bangsa, ras dan wilayah teritorial. Allah berfirman:
"Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Saba: 28)

Dalam ayat lain:
"Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.” (As-Shaff: 9)

Mewarisi risalah nya juga berarti mewarisi musuh musuh risalah nya. Karena risalah kenabian selalu memiliki musuhnya. Ini aksiomatik!

Wallahu a'lam bi shawab
(Gaf)

 -