Oleh: Herman Batin Mangku*
BANYAK yang kepo: apa sebenarnya yang dibicarakan dua tokoh besar negeri ini, Presiden ke-7 Joko Widodo dan Presiden ke-8 Prabowo Subianto, dalam pertemuan empat mata yang berlangsung dua jam, Sabtu (4/10/2025), di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan?
Pertemuan yang berlangsung pukul 13.00–15.00 WIB itu seketika menjadi buah bibir. Tak ada pendamping, tak ada staf, hanya mereka berdua—dua sosok yang dulu bersaing keras dalam dua kali pilpres, kini berada dalam satu garis pemerintahan.
Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Faldo Maldini menyebut pertemuan itu sekadar silaturahmi dua tokoh besar bangsa. “Pasti pembicaraannya tak jauh dari soal kebangsaan dan tantangan yang dihadapi negara saat ini,” ujarnya.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin juga mengamini: “Silaturahmi biasa.” Namun, publik kian bertanya-tanya ketika usai pertemuan, Prabowo langsung memanggil dua menterinya — Menhan dan Mendiksaintek — ke Kertanegara.
Direktur Charta Politika, Yunarto Wijaya, menduga pertemuan itu berkaitan dengan rencana pelantikan pengurus baru PSI, partai yang kini banyak diisi orang dekat Jokowi. Ada juga yang menduga dalam rangka undangan HUT TNI.
Namun, publik tak mudah percaya begitu saja. Dengan label “pertemuan empat mata”, banyak yang merasa pasti ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar silaturahmi. Dalam politik, tak ada obrolan yang benar-benar netral.
Hampir setahun pasca pemilu, suhu politik Tanah Air masih panas. Dinamika pemerintahan Prabowo-Gibran belum sepenuhnya tenang. Berbagai manuver politik, terutama dalam pembentukan kabinet dan arah kebijakan ekonomi, terus memicu spekulasi.
Di media sosial, perdebatan lebih brutal. Ada yang memuja, ada yang mencibir, ada pula yang terus mengungkit bayang-bayang masa lalu Jokowi dan Gibran. Lebih sadis lagi, Prabowo diisukan dikendalikan Jokowi.
Catatan kecil di kantong kiri saya, ada catatan terbaru bagaimana Jokowi mengerahkan para relawan mendukung duet Prabowo-Gibran untuk dua periode. Bennernya pun sampai ke pojok-pojok Kota Bandarlampung.
Seakan gayung bersambut, pada moment pidatonya, Prabowo justru menegaskan belum berpikir sejauh itu. “Saya hanya ingin fokus menjalankan amanah sebaik-baiknya,” katanya lugas.
Sementara catatan di kantong kanan saya, penuh dengan rencana besar sang jenderal: reformasi Polri, percepatan pembahasan RUU Perampasan Aset Tindak Pidana, hingga janji berani memburu koruptor sampai ke Antartika.
Namun di kantong celana saya, catatan lebih panas lagi. Perdebatan soal ijazah Jokowi yang diduga palsu kembali muncul, merembet ke Gibran. Lalu tudingan soal keterlibatan Jokowi dalam sejumlah kasus: tambang, mafia migas, hingga isu “Geng Solo” dan kabar kudeta politik yang tak pernah surut.
Terbaru, Jumat (3/10/2025), sehari sebelum pertemuan empat mata itu, Roy Suryo dan timnya merilis salinan ijazah S-1 Jokowi dari UGM yang digunakan untuk Pilpres 2019—dan disebut identik dengan dokumen yang selama ini dituding palsu. Tak pelak, polemik makin membuncah.

DIALOG IMAJINER
Jokowi: (mencairkan suasana) Piye kabare, Pak Prabowo? Hebat tenan pidato sampean di PBB. Si Donald Trump saja ikut memuji semangat demi tercapainya perdamaian dunia sampai mukul-mukul mimbar.
Prabowo: Cuma menegaskan, Masku, we wok de tok not only tok de tok (we walk the talk, not only talk the talk). Kita bukan bangsa yang cuma bisa omon-omon, tapi juga siap bertindak di sudut dunia mana saja yang membutuhkan perdamaian, politik nonblok.
Jokowi: Wah, makin giras presidenku, benar-benar terbukti julukan sebagai "Macan Asia".
Prabowo: Masku juga makin bugar dan masih sat-set.
Jokowi: Pengenya sih momong cucu aja. Tapi kok rasanya saya selalu kayak di-down-grade ya? Seolah ada political fight back dari lawan-lawan lama yang ingin menurunkan marwah saya.
Prabowo: Oalah, itu cuma perasaan Masku. Rakyat masih cinta kok. Masih banyak yang rela berdiri di depan rumah cuma buat nyalamin sampean dan pulang bawa souvenir dengan senyum lebar, dan masih banyak pejabat, polisi, TNI, dan tokoh yang sowan minta nasihat.
Jokowi: Tapi kenapa saya masih dioyok-oyok soal ijazah, tambang, oligarki, hutang negara, hingga ditarik-tatik dengan yang maling uang negara triliunan itu.
Prabowo: Yah, mungkin sebagian orang yang ngomongin masku itu masih suka lagu lama, lagu legendnya Bang Haji Rhoma Irama: “Penasaran”. Nah, Masku itu kayak “gadis manis” dalam lagu itu. Walau sudah pensiun, tetap saja jadi rebutan, jadi pembicaraan.
Jokowi: Syairnya seperti apa ya?
Prabowo: (tersenyum) Nih liriknya, biar saya nyanyikan dikit:
Kalau belum bisa aku mendapatkan
Oh gadis manis yang menjadi rebutan
Sungguh mati aku jadi penasaran
Sampai mati pun akan kuperjuangkan...
Jokowi: (tertawa) Oala, apik tenan, tapi amankan?
Prabowo: Aamaaan, Masku, uaamaaan pokoke.
Keduanya pun berpisah dengan tawa lepas. Jokowi meninggalkan Kertanegara dengan senyum khasnya, sementara Prabowo berdiri di gerbang, menatap mobil yang perlahan menjauh dari pandangan.
Sambil berbalik badan dan melihat Menhannya, sang jenderal bintang empat teringat kalimat: “Kill or be killed.” Refleksi bawah sadar sejak masuk tentara yang tak bakal hilang—meski kini yang dihadapi bukan lagi medan perang, melainkan panggung politik yang jauh lebih sunyi, tapi lebih mematikan.
* Koordinator Pemred Club
