Helo Indonesia

Saatnya Rakyat yang Pesta: Mirza, KDM, dan Sang Koboi Fiskal

Herman Batin Mangku - Opini
Jumat, 10 Oktober 2025 10:06
    Bagikan  
Herman Batin Mangku
Herman Batin Mangku

Herman Batin Mangku - Herman Batin Mangku

Oleh Herman Batin Mangku*

BEGITU Purbaya Yudhi Sadewa, sang Koboi Fiskal, mengumumkan pemangkasan anggaran transfer ke daerah (TKD) hingga ribuan triliun pada 2026, darah para gubernur seolah mendidih. Mereka berang, menuding pemerintah pusat telah “membunuh anak-anaknya”. Ada yang menjerit soal defisit, ada pula yang menuding pusat tak punya hati.

Rengek mereka, ada beban PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) yang besar dan segunung janji manis kampenye bangun jalan dan jembatan. "Aceh punya kebutuhan khusus, terutama pembangunan infrastruktur. Kalau program dipotong, banyak program tertunda," kata Gubernur Muzakir Manaf.

Namun, dua gubernur tampil beda.
Kang Dedi Mulyadi (KDM) dari Jawa Barat, dan Rahmat Mirzani Djausal (Iyay Mirza) dari Lampung. Alih-alih mengeluh, keduanya memilih menantang sang penjagal anggaran dengan tenang. “Kami hadapi dengan inovasi,” ujar KDM.
Sementara Mirza, tanpa banyak kata, menunjukkan sikapnya lewat statmen singkat: pembangunan infrastruktur dan pendidikan akan jalan terus.

Rakyat Lampung yang sempat sesak mendengar kabar pemotongan Dana Alokasi Umum (DAU) hingga Rp580 miliar, mendadak lega. Nada optimis gubernurnya terasa menyejukkan, meski “sakitnya tuh di sini” (sambil menepuk dada kiri). Tak banyak bicara, tapi jelas: ia siap. Di balik layar, Mirza pasti akan menyiapkan jurus-jurus cerdas bersama tim birokrat muda nan-cemerlang di Pemprov Lampung.

Di sisi lain, KDM yang terkenal blak-blakan memilih menatap badai dengan senyum. Ia tahu, dana transfer daerahnya juga disayat dalam jumlah mencengangkan: Rp2,458 triliun. Tapi seperti biasa, ia menjawab dengan ide dan gerak. “Kita hadapi dengan inovasi,” katanya mantap.

Sementara itu, di Jakarta, Purbaya yang ditugaskan Presiden Prabowo membenahi porak-porandanya warisan ekonomi—dari utang jor-joran hingga korupsi yang menggila—hanya cengengesan melihat kegaduhan para gubernur.

Dia tampak terkekeh melihat sikap berang para kepala daerah dari Aceh hingga Papua Pegunungan bak anaknya yang merengek akibat jatah jajannya dipotong. Bagi Purbaya, ini bukan sekadar pemotongan anggaran. Ini ujian kedewasaan fiskal.

Digodamnya, para gubernur yang protes. “Bapak-bapak bicara soal hak, saya bicara soal kewajiban,” katanya lantang. “Di sini saya lihat, anggaran untuk festival lebih besar dari irigasi. Tugu peringatan lebih mahal dari dana guru honorer. Anda mau uang lagi? Tunjukkan pertanggungjawaban Anda kepada rakyat.”

Tegas. Menyakitkan. Tapi masuk akal.
Purbaya bukan antek Bank Dunia, bukan pula algojo tanpa hati. Ia hanya menolak negara terus menambah beban tanpa memastikan uang rakyat benar-benar sampai ke rakyat, bukan ke kantong oknum. Ia ingin para kepala daerah mengubah cara berpikir: dari “bagi-bagi kue”, menjadi “bagi-bagi manfaat”.

“Enggak semua uang dipakai dengan betul,” katanya sambil tertawa kecil. Ternyata, itu salah satu yang bikin pusat gerah dengan gaya raja-raja kecil di daerah. 

Menurutnya, banyak daerah gagal mengoptimalkan dana untuk mendorong ekonomi lokal. Karena itu, ia menyiapkan pola baru: total dana pembangunan daerah tetap dinaikkan menjadi Rp1.300 triliun, meski porsi TKD murni turun ke Rp693 triliun. Jika penyerapan daerah pada triwulan I–II tahun 2026 membaik, alokasi bisa ditambah lagi.

“Kalau ekonomi daerah bergerak positif, saya tambah transfernya. Jadi, uang rakyat sebenarnya tak berkurang—asal dipakai benar,” ujarnya.

Inilah momentum penting bagi daerah untuk berbenah. Purbaya memberi pesan jelas: pemerintah pusat akan memberi lebih banyak jika daerah mampu membelanjakan anggaran secara bersih, efektif, dan berdampak langsung ke rakyat.

Artinya sederhana: berhenti pesta di atas meja birokrasi, mulailah pesta di hati rakyat. Karena sejatinya, yang berhak bersuka cita bukan pejabat, tapi masyarakat yang menanti perubahan nyata. Untuk Kang Dedi dan Iyay Mirza—dua kepala daerah yang memilih menatap badai dengan senyum—Om sih, yes!

Allah kuasa mahluk tak kuasa, Iyay Mirza sudah terbiasa berpuasa, dunia sementara ahirat selamanya. Insyaallah dengan kuasa Allah SWT, Lampung akan turun rahmad dan hidayah-Nya menjadi sejahtera. Aamiiin di Jumat Barokah (10/1/2025), jelang kedatangan jutaan majelis tabligh dari penjuru dunia di Kota Baru. 

Ikhtiar jalan, jalur langit juga ditempuh coy. 

Tabik,
HBM