Helo Indonesia

Buah Sawo Persatuan Umat

Annisa Egaleonita - Opini
Senin, 13 Oktober 2025 09:49
    Bagikan  
Buah Sawo Persatuan Umat

GAF

Oleh Ustadz Gufron Azis Fuandi

DALAM ingatan saya waktu kecil, dihalaman samping agak belakang rumah mbah saya berdiri pohon sawo kecik. Sekira lima puluh meter dari rumah mbah berdiri masjid Mujahidin dan didepannya juga ada pohon sawo.
Dulu dibeberapa masjid atau langgar dan halaman rumah ustadz sering kita jumpai berdiri pohon sawo kecik. Begitupun dibeberapa pesantren tua, juga tertanam pohon sawo kecik.

Ada banyak jenis buah sawo, tetapi yang umumnya dikenal di Indonesia adalah sawo kecik dan sawo manila.

Buah sawo (Manilkara zapota) berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah. Tanaman ini kemudian dibawa ke Filipina oleh penjajah Spanyol dan dari sana menyebar ke seluruh Asia Tenggara, termasuk Indonesia, di mana sekarang banyak dibudidayakan karena cocok dengan iklim tropisnya. Buah ini kemudian dikenal sebagai sawo Manila. Sedangkan sawo kecik (Manilkara kauki) dipercaya tumbuh menyebar di daerah tropis basah dari sekitar Indo-china, Indonesia sampai Queensland.

Untuk mudahnya dalam membedakan keduanya selain warnanya yang lebih oren, sawo kecik lebih kecil dibanding sawo manila.
Di Jawa, sawo kecik sering dimaknai secara filosofi sebagai "sarwo becik" yang berarti serba baik. Itulah mengapa buah ini disebut atau dinamai buah sawo, dari kata sarwo. Tetapi ada dugaan lain, bahwa nama buah ini berasal dari bahasa Arab, yaitu sawwu.
Bagaimana ceritanya?

Ini juga ada hubungannya dengan
pohon sawo yang dulu sering ditanam dihalaman pesantren, masjid dan rumah ustadz atau kiyai?

Hal ini terkait dengan perintah pangeran Diponegoro kepada para pengikutnya, agar terus merapatkan dan meluruskan barisan dalam perang melawan penjajahan Belanda. Penanaman pohon sawo menjadi "sandi" bahwa rumah, masjid dan pesantren tersebut adalah barisan pejuang pendukung pangeran Diponegoro.
Ini diambil dari hadis Sawwu Shufufakum (سوُّوا صُفُوفَكُمْ) artinya "Luruskan dan rapatkan barisan (shaf-shalat) kalian". Hadits ini merupakan bagian dari perintah Rasulullah SAW untuk menegakkan dan meluruskan barisan dalam shalat berjamaah. Perintah ini menekankan pentingnya merapatkan dan meluruskan shaf karena lurusnya shaf adalah kesempurnaan salat dan sebagai bentuk menegakkan shalat berjamaah. Meluruskan dan merapatkan barisan tidak hanya perintah dalam shalat berjamaah tetapi juga perintah perjuangan melawan musuh.
Merapatkan barisan adalah simbol persatuan dan kesatuan umat dan bangsa. Sedangkan umat dan bangsa yang tercerai berai adalah wujud kelemahan. Karena barisan yang tidak rapat, tidak rapih tidak satu komando akan memunculkan banyak celah yang memberikan peluang kepada musuh untuk mengadu domba.

Jadi Zapota manilkara (sawo manila) maupun manilkara kauki (sawo kecik) adalah sandi sekaligus simbol kesiap siagaan perjuangan melawan musuh-musuh yang terus mengintai.

Sebagaimana kita ketahui kerugian Belanda dalam Perang Diponegoro atau perang Jawa (1825–1830) adalah sekitar 8.000 tentara Belanda dan 7.000 serdadu pribumi tewas, serta biaya perang sebesar 20 juta gulden. Bila dihitung dengan kurs sekarang maka itu lebih dari dua triliun.
Perang ini menyebabkan kerugian ekonomi besar bagi Belanda dan memicu pengekangan yang lebih kuat terhadap penguasaan tanah Jawa. Sementara itu korban dari masyarakat Jawa diperkirakan lebih dari 200 ribu jiwa.
Perang ini juga menyebabkan Belanda kehilangan Belgia yang akhirnya merdeka dari Belanda pada 4 Oktober 1830.

Ada pepatah mengatakan, "bersatu kita teguh bercerai kita runtuh." Ini merupakan dalil aqli bagi 'wajibnya' persatuan seperti halnya "tongkat yang disatukan tak mudah dipatahkan".

Dalam beberapa ayat Alquran juga menegaskan tentang pentingnya persatuan, diantaranya:

“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103)

Menurut para ulama tafsir, kata i’tashimu hadir dalam bentuk perintah (‘amr) yang menunjukkan bahwa menjaga persatuan adalah suatu kewajiban, bukan sekadar anjuran semata. Untuk bisa bersatu kita bisa menggunakan rukun usrah sebagai panduannya. Dari mulai saling mengenal pasangan atau kawan seperjuangan kita, kemudian saling pengertian dan toleransi terhadap berbagai perbedaan kita dan akhirnya saling tolong menolong terhadap hal hal yang kita sepakati.
Karena perbedaan latar belakang, pengalaman dan pendidikan menyebabkan kota tidak bisa selalu sama dalam melihat dan mensikapi berbagai persoalan. Maka disinilah mita perlu mengembangkan terus rasa saling pengertian dan toleransi. Banyak hal yang bisa membuat kita berselisih, tetapi lebih banyak lagi hal yang membuat kita untuk bekerjasama. Hanya kebiasaan kita seringkali berkutat dengan perbedaan bukan dengan persamaan yang sesungguhnya lebih banya.

Seorang ulama mengatakan, Perselisihan dapat mengakibatkan hilangnya rasa solidaritas, kepercayaan, dan kerjasama di antara sesama manusia, yang pada akhirnya dapat berujung pada konflik dan kekacauan.

Sedangkan Imam Hasan Al Banna mengatakan:
"Kekuatan pertama adalah iman, buah dari iman adalah kesatuan, dan hasil dari kesatuan adalah kemenangan yang gemilang.”

Jadi bila kita melihat pohon atau buah sawo atau memakannya, ingat bahwa disitu ada perintah untuk selalu merapatkan barisan.
Sawwu shufu fakum!

Wallahu a'lam bi shawab
(Gaf)