Helo Indonesia

Belajar dari Prabowo dan Iyay Mirza, Komunikasi yang Mencerahkan

Herman Batin Mangku - Opini
Minggu, 19 Oktober 2025 09:14
    Bagikan  
-
HELO LAMPUNG

- - HBM

Oleh Herman Batin Mangku*

SETIAP pemimpin yang baru terpilih pasti ingin merangkul kawan maupun lawan. Lupakan kompetisi lalu, mari saatnya bersama membangun dan mensejahterakan rakyat. Kata-kata klise yang diharapkan mencegah rongrongan lawan politik sekaligus meninakbobokan rakyat agar tidur lebih lelap bersama mimpi-mimpi indahnya.

Tak hanya raja-raja kecil di kabupaten/kota, bupati dan wali kota, Presiden Prabowo Subianto pun mengatakan serupa dalam kalimat bak pujangga: 1000 kawan terasa kurang tapi satu musuh terasa banyak. Kalimat yang mengharapkan dirinya bisa merangkul semua pihak beserta gerbong kepentingannya masing-masing. 

Niat baik itu malah menuai badai, muncul tagar "Indonesia Gelap" dan nyaris tumbang oleh "kudeta senyap" yang membonceng aksi-aksi massa yang anarkis dari pusat kekuasaan hingga melebar ke berbagai daerah. Agaknya, lawan politik menyalahgunakan semangat rekonsiliasi yang dibuka lebar sang presiden pascakompetisi 2024 

Tapi, bukan bintang empat jika tak bisa membaca situasi ini. Sang jenderal yang berpengalaman dalam berbagai palagan langsung mengambil langkah kuda dari ranjau politisi dinasti dan oligarki yang sedang berpesta menyantap timah dan menegak BBM senilai ribuan triliun rupiah.

Kesabaran agaknya sudah berada di batasnya, kill to be killed, kabinet kocok ulang, suara peringatan dikumandangkan dengan sangat keras sambil memukul-mukul meja. Langkah-langkah sang jenderal bukan sekadar retorika, melainkan refleksi kepemimpinan tanpa kehilangan ketegasan arah.

Saat isu “Indonesia Gelap” bergulir di publik, Presiden tidak terpancing euforia atau kepanikan. Ia hanya menugaskan satu orang — Menkeu Purbaya — dan dalam waktu sebulan, narasi bangsa berbalik menjadi “Indonesia Terang” dan riang gembira penuh canda tawa.

Pada saat Indonesia menyorot penuh kenyelenehan "Sang Koboi", bos besarnya, "Sang Gemoy" pada saat yang tepat, dalam skala global, ketika dunia diguncang krisis Timur Tengah dan bayang-bayang Perang Dunia III, Presiden Prabowo justru memainkan diplomasi nonblok dengan penuh kebijaksanaan.

Indonesia tampil bukan sebagai pengikut, melainkan sebagai penengah yang disegani dunia. Ini bukti bahwa komunikasi yang baik tidak hanya menjaga stabilitas domestik, tapi juga meneguhkan posisi bangsa di mata dunia.

Raja-raja kecil harusnya belajar dari sini, ketertutupan, ketidaktranparasian malah memperdalam jurang pemimpin dengan rakyatnya.

Keterbukaan dan komunikasi publik yang kuat adalah benteng terakhir agar masyarakat tidak kehilangan arah, terutama di tengah arus informasi yang begitu deras dan kadang menyesatkan.

Dari pusat hingga daerah, kita belajar bahwa cara pemimpin berbicara kepada rakyat sering kali menentukan arah bangsa lebih cepat daripada keputusan politik itu sendiri.

Lampung dan Seni Mengelola Narasi

Refleksi dari kekuatan komunikasi ini juga bisa kita lihat di daerah, salah satunya di Pemerintah Provinsi Lampung. Dengan hanya empat figur kunci — Sekdaprov Marindo Kurniawan, Kadisdikbud Thomas Americo, Kadis Pendapatan Slamet, dan Kadis Kominfotik Ganjar Jationo — roda pemerintahan berjalan stabil di tengah efisiensi. 

Keempatnya punya gaya komunikasi berbeda namun saling mengisi: Marindo yang lugas dan terbuka, Thomas yang konsisten menyuarakan reformasi pendidikan, Slamet dan Ganjar yang memainkan peran diplomasi senyap yang menenangkan suasana.

Khusus Ganjar Jationo, pengalamannya sebagai aktivis membuatnya memahami ritme jurnalisme: ia tahu kapan harus berbicara, dan kapan harus mendengar. Dari situ kita belajar bahwa kebijaksanaan komunikasi sering kali lahir bukan dari banyaknya kata, tetapi dari kekuatan untuk menahan diri.

Keputusan yang tenang namun terukur itu menunjukkan bahwa komunikasi publik yang efektif bukan soal banyak bicara, melainkan tahu kapan harus bicara, dan kepada siapa harus berbicara.

Di balik harmoni komunikasi itu, ada sosok Iyay Mirza, yang layak disebut sebagai dirigen komunikasi publik Lampung. Ia tidak sekadar menabuh gendang kehumasan, tetapi menata iramanya agar seluruh unsur — birokrasi, media, dan masyarakat — dapat menari dalam lagu yang sama: Lampung Maju.

Semoga kita ikut arus besar "Indonesia Cerah" dan "Dunia Damai". Aamiin. 

Tabik
*Pemred Club

 -