Oleh Ustadz Gufron Azis Fuadi
DALAM Surah At-Taubah ayat 25–26, Allah memberikan gambaran kepada kita tentang perbedaan antara kader nukhbawi (inti) dan jamahiri (massa):
“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai orang-orang beriman) dalam banyak medan peperangan. Dan (ingatlah pula) pada Perang Hunain, yaitu ketika jumlahmu yang banyak menjadikanmu merasa bangga, namun jumlah yang banyak itu tidak memberikan manfaat sedikit pun kepadamu. Tanah yang luas terasa sempit bagimu, lalu kamu lari ke belakang bercerai-berai.
Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, serta menurunkan bala tentara yang tidak kamu lihat, dan Allah menimpakan azab kepada orang-orang kafir. Dan demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.”
Ayat tersebut mengisahkan Perang Hunain yang terjadi di lembah Hunain, antara Thaif dan Mekkah. Perang ini dipicu oleh kemarahan penduduk Hawazin dan Thaif atas keberhasilan Rasulullah SAW menaklukkan Mekkah.
Mereka kemudian bergerak untuk menyerang Mekkah. Namun Rasulullah SAW, demi menghindari pertumpahan darah di Kota Suci, memilih mendahului mereka dengan membawa pasukan menuju Thaif.
Pagi hari setelah Salat Subuh, ketika suasana masih gelap, pasukan kaum muslimin disergap secara tiba-tiba. Pasukan Rasulullah SAW yang berjumlah sekitar 12 ribu orang menjadi kocar-kacir dan lari tunggang-langgang. Padahal jumlah musuh hanya sekitar 5 ribu orang.
Dalam situasi genting itu, Rasulullah SAW berseru: "Wahai hamba-hamba Allah, kemarilah kepadaku! Aku adalah utusan Allah. Aku adalah Nabi yang tidak pernah berdusta. Aku adalah anak Abdul Muthalib!”
Kemudian seruan kepada kaum Muhajirin dan Anshar dikumandangkan. Dari ribuan pasukan tersebut, hanya sekitar seratus lelaki beriman yang kembali berkumpul. Mereka adalah para mujahidin yang setia dan taat. Dengan jumlah yang sedikit itulah Rasulullah SAW memimpin serangan balasan ke pusat pertahanan Hawazin, seraya berdoa:“Ya Allah, penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku…”
Akhirnya, bala tentara yang kecil itu berhasil membalikkan keadaan dan memenangkan peperangan dengan banyak rampasan dan tawanan.
Kisah serupa dikisahkan pula dalam Surah Al-Baqarah ayat 246–252, ketika pasukan Thalut yang awalnya berjumlah 80 ribu orang akhirnya hanya tersisa sekitar 300 orang. Namun justru kelompok kecil itulah yang mampu menaklukkan pasukan Jalut.
Maka, kelompok kecil yang tegar dan loyal inilah yang layak disebut kader inti.
Makna Kader
Kata kader berasal dari bahasa Prancis cadre, yang berarti “bingkai” atau “kerangka”, lalu berkembang menjadi makna “tulang punggung organisasi”.
Kader adalah sekelompok orang terlatih yang berkomitmen menjadi penopang utama dalam sebuah gerakan, baik itu gerakan politik, sosial, maupun dakwah.
Dakwah yang kita pahami bukan hanya tabligh dan taklim secara perorangan, tetapi juga amal jama’i (aktivitas kolektif) untuk menggeser dominasi kemaksiatan dan menghadirkan kebaikan.
Allah mengisyaratkan hal ini dalam Surah Yusuf ayat 108:“Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru kepada Allah dengan hujah yang nyata...”
Frasa أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي menegaskan bahwa dakwah memerlukan tim, kebersamaan, struktur, dan ketaatan.
Pelopor
Saya pernah bertanya kepada seorang teman anggota Brimob, mengapa pada seragam mereka terdapat label Pelopor. Ia menjawab: “Karena Brimob memiliki sejarah sebagai ranger, pasukan pembuka jalan dalam operasi berintensitas tinggi. Kami yang pertama menjadi pasukan anti-teror dan penjinak bom sebelum satuan lain memilikinya. Karena itu kami disebut pelopor."
Dari sini kita memahami bahwa kader pelopor adalah mereka yang:
- memiliki karakter jundiyyah muthi’ah (ketaatan dan kedisiplinan tinggi),
- mampu melangkah paling depan,
- siap mengambil risiko,
- tetap kokoh dalam situasi paling kritis.
Seperti seratus orang dalam Perang Hunain dan tiga ratus orang dalam pasukan Thalut. Maka, dalam gerakan dakwah ini, masing-masing dari kita dapat bertanya pada diri sendiri: Apakah aku termasuk kader pelopor atau hanya sekadar bagian dari kerumunan?
Wallahu a’lam bish-shawab.
(Gaf)
-
