Helo Indonesia

Sumbu Pendek, Mudahnya Nyawa Melayang

Herman Batin Mangku - Opini
Jumat, 13 Maret 2026 18:51
    Bagikan  
Khairudin
Khairudin

Khairudin - Khairudin

Oleh Khairuddin

Wartawan Heloindonesia.com
Alumni Lembaga Pers Dr. Soetomo Jakarta. 

KEMATIAN adalah kepastian paling sunyi dalam kehidupan. Ia tak pernah terlambat, tak pula datang terlalu cepat. Sejak manusia pertama menghirup napas di muka bumi, kematian telah menunggu dengan sabar di ujung perjalanan. Lahir, tumbuh, lalu mati—itulah takdir yang tak pernah bisa ditawar oleh siapa pun.

Tak peduli apakah seseorang lahir dari keluarga kaya atau miskin, menjadi pejabat atau rakyat jelata, orang terpelajar atau mereka yang tak sempat mengecap bangku sekolah. Sejak masih berada di rahim ibu hingga rambut memutih dimakan usia, semua manusia sedang berjalan menuju satu titik yang sama: ajal.

Cara kematian datang pun tak selalu sama. Ada yang dipanggil Tuhan dalam sunyi karena sakit yang panjang. Ada yang pergi tiba-tiba oleh bencana alam—longsor, banjir, atau gelombang laut yang murka. Ada pula yang menjadi korban kecelakaan, peperangan, bahkan bunuh diri.

Semua peristiwa itu sering kita sebut dengan satu kalimat pendek: takdir.
Padahal, di balik setiap kematian selalu ada cerita panjang yang ditinggalkan. Sesungguhnya kematian tidak perlu ditakuti. Ia hanyalah pintu menuju kehidupan lain yang diyakini banyak orang sebagai kehidupan yang lebih abadi.

Setiap orang tentu berharap mengakhiri hidup dengan baik—pergi dalam keadaan tenang, dalam doa, dalam kebaikan. Sebuah kematian yang oleh banyak orang disebut khusnul khotimah. Namun kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang kita harapkan.

Dua hari lalu, di kabupaten tempat saya tinggal, sebuah kabar datang seperti petir di siang hari. Seorang warga meninggal dunia. Bukan karena sakit. Bukan pula karena bencana.
Ia meninggal hanya karena sebuah permainan kartu bohongan.

Permainan yang seharusnya menjadi pengisi waktu senggang berubah menjadi pertengkaran. Pertengkaran berubah menjadi amarah. Dan amarah, dalam sekejap, menjelma menjadi peluru yang merenggut nyawa.

Diduga tersinggung, pelaku menembak rekannya sendiri.
Seketika kampung menjadi geger.
“Cuma cekcok gara-gara kartu mainan, nyawa harus melayang. Sadis amat,” kata seorang teman, setengah berbisik, seolah tak percaya pada kenyataan yang baru saja terjadi.

Peristiwa itu terasa begitu getir. Sebab nyawa manusia—yang begitu berharga—hilang hanya karena perkara yang nyaris tak bernilai.BDan sayangnya, kejadian seperti ini bukan sesuatu yang langka. Di layar televisi, di halaman media daring, atau di linimasa media sosial, kita kerap menyaksikan kabar yang serupa.

Orang bertengkar karena lahan parkir, karena utang, karena sengketa tanah, bahkan hanya karena kata-kata yang menyinggung perasaan. Pertengkaran kecil berubah menjadi dendam. Dendam berubah menjadi kekerasan. Dan kekerasan sering kali berakhir pada kematian.

Nyawa manusia seolah menjadi sesuatu yang murah. Mengapa hal ini bisa terjadi? Banyak yang menyebut penyebabnya berlapis-lapis: emosi yang tak terkendali, jiwa yang rapuh, tekanan hidup, pendidikan yang rendah, kesenjangan ekonomi, hingga iman yang kian menipis di tengah derasnya arus kehidupan modern.

Apa pun alasannya, satu hal tetap tak berubah: mencabut nyawa manusia lain tidak pernah dibenarkan. Baik oleh hukum negara maupun oleh ajaran agama mana pun. Membunuh adalah dosa besar. Ia bukan sekadar kejahatan terhadap seseorang, tetapi juga luka bagi kemanusiaan.

Memang benar, setiap makhluk hidup telah memiliki garis takdirnya masing-masing. Namun kematian yang lahir dari kemarahan, dari peluru, dari kebencian manusia kepada manusia lain, bukanlah sesuatu yang patut kita terima dengan mudah atas nama takdir.

Sering kali itu hanyalah kemenangan hawa nafsu—dan bisikan setan yang menjerumuskan manusia ke jurang gelap. Karena itu, di tengah dunia yang semakin keras ini, kita hanya bisa berharap dan berdoa. Semoga manusia masih diberi kelembutan hati untuk menahan amarah. Semoga pertengkaran tak lagi berubah menjadi kekerasan. Dan semoga tak ada lagi nyawa yang melayang hanya karena perkara sepele.

Sebab pada akhirnya, setiap manusia pasti akan mati. Dan ketika saat itu tiba, semoga kita dipanggil pulang dalam keadaan baik—khusnul khotimah. Pergi dengan tenang, bukan karena peluru, bukan karena amarah, melainkan karena waktunya memang telah tiba.

Amin.
Tabik.