Zhuge Liang yang Humble vs Jenderal Cao Cao yang Emosian dan Sat Set

Minggu, 17 Desember 2023 09:44
(Foto Ist)

Oleh Gufron Aziz Fuadi

SAYA pernah ditanya oleh teman ngobrol: Kamu anak IPS ya?
"Ya", kata saya.
Makanya saya tidak jadi tentara. Saya kurang pandai berhitung, menghitung arah angin dan kecepatan angin, sparasi warna, kimia, apa lagi asam sulfat dan asam folat.

Dulu saya tidak tahu, apa sih bahayanya kalau anak IPS kalau jadi tentara? Saya baru ngeh setelah beberapa tahun lulus SMA, setelah kuliah. Beberapa tahun kemudiannya, saya lebih paham setelah membaca beberapa kisah perang.


Gufron Aziz Fuadi

Misalnya, perang yang terjadi pada tahun 200-an Masehi antara Negara Wei yang sebelah utara sungai Yangtze dan gabungan Negara Shu dan Wu.

Dipimpin PM Jenderal Besar Cao Cao, Negara Wei berambisi menguasai wilayah Selatan. Negara Shu dan Wu terpaksa harus bersekutu untuk melawan bala tentara yang sangat besar Jenderal Cao Cao.

Baca juga: Garuda Indonesia dan The Pokémon Company Perkenalkan Design Livery Tematik “Pikachu Jet”


Kedua sekutu menunjuk Jenderal Zhuge Liang dari Negara Shu sebagai pemimpinnya. Tetapi penunjukan ini tidak disukai dan membuat iri para jenderal Negara Wu. Apalagi, lokasi perang ada di Negara Wu.

Rasa iri ini diwujudkan dengan membuat jebakan untuk Jenderal Zhuge Liang dengan memintanya menyediakan 100.000 anak panah dalam waktu sepuluh hari guna menghadapi perang yang sebentar tinggal lagi.

Tetapi pada saat yang sama para para jenderal Negara Wu juga menutup akses bahan baku pembuatan alutsista tersebut. Setelah berpikir cukup lama, Jenderal Zhuge Liang akhirnya menyanggupinya. Dia hanya minta disediakan sebuah rumah yang terpencil.

Karena Zhuge Liang tahu semua akses telah diblokir maka beberapa hari pertama, dia berdiam diri di rumah terpencil itu dan menghubungi jenderal kepercayaannya untuk menyediakan 20 kapal dan 30 prajurit di setiap kapal secara rahasia.

Baca juga: Dokter Tifa Nasehati Prabowo Jaga Kesehatan, Netizen: Segera Lempar Handuk Putih Saja!


Setiap kapal disediakan peralatan genderang perang serta kapal dipenuhi dengan orang-orangan sawah yang terbuat dari jerami. Dengan perintah untuk siap kapan saja diperlukan.

Jenderal Zhuge Liang kemudian membuat perhitungan astronomi, geografi dan perhitungan cuaca. Dia berusaha memprediksi arah dan kecepatan angin, perkiraan waktu turun dan hilangnya kabut serta ketebalannya. Setelah digatukkan dengan metode Yin dan Yang, dia memutuskan kapan hari pas untuk mendapatkan 100.000 anak panah, yang menurutnya cukup dengan tiga hari saja.

Pada dini hari yang sudah ditentukan, dia memerintahkan 20 kapal dan prajurit yang suda disiapkan untuk bergerak mendekat ke arah berkumpulnya pasukan Cao Cao di seberang utara (lor kali) Sungai Yangtze. Dua puluh kapal disusun berbaris memanjang dengan posisi jarak terkena tembakan anak panah dan bertahan disisi ini selama waktu tertentu.

Baca juga: DPR RI Akan Evaluasi Bawaslu Jika Tak Bisa Bongkar Dalang Banner Caleg


Menjelang mendekati Markas Negara Wei, para prajurit diminta mulai menabuh genderang perang dan terus sampai mereka meninggalkan wilayah tersebut. Mendengar genderang perang, prajurit pasukan Cao Cao menghujani dua puluh kapal itu dengan ratusan ribu anak panah. Dalam pandangan mereka yang tersamar kabut, prajurit terlihat tidak roboh sehingga terus dihujani anak panah.

Setelah dirasa cukup jumlah anak panah yang didapat dari musuh, Zhuge Liang memerintahkan kapal segera bergerak kembali ke sisi Selatan untuk mengumpulkan dan menghitung jumlah anak panah yang didapatkannya. Setelah dihitung ternyata lebih dari 100.000 anak panah. Melebihi target, dan dikerjakan hanya dengan waktu tiga hari.

Akhirnya banyak yang dengan geleng kepala bertanya: "Bagaimana Anda bisa membuat rencana se-brilian itu?”

Zhuge Liang menjawabnya dengan mengatakan: “Seorang jenderal harus benar-benar ahli bukan hanya dalam strategi perang, tapi juga dalam astronomi, geografi, ramalan cuaca, serta prinsip yin dan yang,”. Dan lanjutnya, “Saya sudah menghitung bahwa kabut tebal akan turun tiga hari lagi, jadi saya merancang rencana saya.”

Baca juga: Hasil Suara Tak Linear dengan Suara Ganjar-Mahfud di Pemilu 2024, Caleg PDIP Pemenang Pileg Diancam Tak Akan Dilantik


Dan pada perang Tebing Merah, dekat Hubei sekarang, 100 000 anak panah itu dikembalikan, yang menyebabkan pasukan Cao Cao mengalami kekalahan.

Dari sini, saya tahu, bila ada jenderal yang sering kalah, kemungkinannya karena dia ceroboh dan tidak memahami ilmu tentang cuaca termasuk pergerakan angin yang tidak punya KTP. Atau seperti Jenderal Cao Cao yang ambisius, gampang marah dan emosi-an.

Sementara Jenderal Zhuge Liang bawaannya humble, tenang dan penuh senyum. Tapi penuh perhitungan tidak sat-set apalagi grusa -grusu. Dia tahu bahwa dirinya bukan Avatar yang bisa mengendalikan angin, bahkan air dan api, tetapi dia bagaimana mengambil manfaat nya.

Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)

Berita Terkini