Oleh: H. A. Darwin Ruslinur. SE, MM.
PILKADA (pemilihan kepala daerah) secara nasional rencana digelar pada 27 November 2024, termasuk di Kota Bandarlampung. Namun, tampaknya pragmatisme masih terus mewarnai pesta akbar demokrasi kali ini.
Adu gagasan dan adu strategi untuk meraih kemenangan dalam kontestasi mulai dipertontonkan ke publik. Terutama oleh partai politik pengusung bakal calon kepala daerah (cakada), tak terkecuali para relawan yang kini mulai merambah ke semua lini.
Kerja politik dengan ragam kegiatan mulai dari tebar pesona, tebar kritik hingga tebar sembako mulai berseliweran. Kita tentu mahfum, tujuan semua itu adalah untuk mendulang suara guna menangkan hajatan politik.
Calon boleh melakukan apa saja, sejauh tidak dilarang oleh UU dan peraturan lainnya. Tetapi, yang lebih utama adalah adu gagasan. Karena, ide dan gagasan, bahkan mungkin janji politik merupakan hal yang banyak ditunggu oleh pemilih, kelak setelah terpilih apa prioritas kinerja awal.
Misalnya di Kota Bandarlampung, bagaimana membebaskan kemiskinan, meminimalisir birokrasi pelayanan kesehatan, memperhatikan ketepatan waktu bayar gaji, honorer, gaji Kaling, RT, guru ngaji, dsb. Artinya, mengarahkan sebagian besar proyek yang pro rakyat masih belum terdengar.
Sejauh ini belum juga terlihat janji-janji cakada yg berani mengarahkan proyek-proyek pemerintah yang pro rakyat. Termasuk bagaimana upaya yg akan dilakukan hadapi tingkat kemacetan di Kota Bandarlampung sebagai Ibu Kota Provinsi Lampung yang semakin kompleks.
Termasuk jerit tangis para pensiunan guru yang haknya tidak bisa diambil di Koperasi Betik Gawi. Sungguh, hal-hal yang kata orang remeh temeh ini, selalu terjadi dan sudah cukup lama tak terselesaikan. Bagaimana mungkin, hak guru yang puluhan tahun di tabung di Koperasi kok bisa raib?
"Saya heran juga bagaimana mungkin hak kami bisa raib? Setiap bulan gaji kami dipotong selama puluhan tahun bisa hilang. Mestinya, ketika pensiun, uang kami bisa diambil," ujar Martiana ketika demo para pensiunan guru di kantor Diknas Kota Bandarlampung beberapa hari lalu.
Terlepas dari semua yang telah diuraikan di atas, yang pasti pertarungan merebut kekuasaan untuk menjadi orang nomor satu di Kota Bandarlampung ber-motto "Ragom Gawi" ini harus bekerja ekstra keras, terarah pada titik sasaran.
Dua pasang kandidat yg akan bertarung sama-sama memiliki panggilan *bunda.* Bunda Eva Dwiana Herman. HN berpasangan dengan calon wakilnya Dedi Amarullah adalah Calon petahana di usung oleh partai koalisi Gerindra, Nasdem, PKB dan Demokrat.
Lalu Bunda Reihana, mantan Kepala Dinas Kesehatan Prov. Lampung tiga priode berpasangan dg Calon Wklnya Aryodhia. SZP yg di usung oleh partai PDI Perjuangan. Aryodhia. SZP adalah anggota DPD RI periode 2009-2014, putra kedua Komjen. Pol (Purn) Drs. H. Sjachroedin. ZP, SH yang juga mantan Gubernur Lampung dua periode: 2004-2009 dan 2009-2014.
Pertarungan melawan double bunda ini, diprediksi oleh banyak kalangan akan berlangsung seru. Pasalnya, kedua kandidat sama-sama memiliki basis dukungan kuat sampai ke akar rumput. Tinggal bagaimana masing-masing tim mampu meyakinkan pemilih dg komoditas dagangan politiknya.
Sejumlah praktisi politik mengatakan, pemilih di era kini meski cenderung pragmatis dan transaksional, mereka akan memilih pemimpin yg benar-benar merakyat. Artinya, pemimpin yg jauh dari kesan sombong, ramah, bertegur-sapa dan selalu memihak pada rakyat kecil.
Gaya kepemimpinan Rosul menjadi pilihan di masa kini. Sidiq (jujur), tabligh (terbuka), amanah (bekerja sesuai aturan) dan fatonah (cerdas). Inilah tipe pemimpin yang akan dipilih rakyat. Di beberapa daerah pun demikian.
-* jurnalis, politikus