Pemimpin Cermin Masyarakatnya

Jumat, 20 September 2024 14:18
GAF Helo Lampung

Oleh Gufron Azis Fuandi *

BEBERAPA tahun belakangan ini, kita terlalu sering mendengar menara pejabat atau pemimpin pilihan rakyat ditangkap KPK, kepolisian atau kejaksaan. Padahal sebelum mereka dipilih oleh rakyat, mereka terlebih dulu dinyatakan lulus tes kesehatan termasuk kesehatan jiwa dan dinyatakan berkelakuan baik yang dibuktikan dengan SKCK.

Sebelumnya, sang kepala daerah juga telah dinyatakanulus dalam fit and propertest dari partai pengusung.

Keberadaan pemimpin sangat penting. Karena adanya pemimpin suatu kelompok masyarakat akan memiliki aturan yang memungkinkan semua anggota hidup secara damai, tertib dan teratur. Tidak homo homo ni lupus, manusia tidak menjadi serigala bagi manusia yang lain. Sehingga ada ungkapan leluhur, Desa mawa cara, negara mawa tata" yang artinya setiap desa memiliki adat kebiasaan sendiri, sedangkan negara juga memiliki hukum tersendiri. 

Betapa pentingnya pemimpin hingga Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:

لَوْ كَانَ لَنَا دَعْوَةٌ مُجَابَةٌ لَدَعَوْنَا بِهَا لِلسُّلْطَانِ

Jika engkau hanya punya satu doa yang pasti akan dikabulkan Allah maka mintalah seorang pemimpin yang adil.”

Sedangkan Imam Al-Mawardi   mengatakan:

اَلْاِمَامَةُ مَوضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِى حِرَاسَةِ الدِّيْنِ وَسِيَاسِيَةِ الدُّنْيَا

Kepemimpinan itu berfungsi untuk menggantikan tugas kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia. (Al-Mawardi, Al-Ahkam as-Sulthaniyah, h. 4).

Tugas kenabian yang dilanjutkan itu tentu bukan untuk menerima wahyu, melainkan menjaga keberlangsungan dakwah Islam dan menegakkan hukum-hukum agama.

Selain itu, juga untuk mengatur kemaslahatan kaum muslimin dan warga negara lainnya dalam sebuah negara.

Oleh karena itu seriuslah dalam memilih pemimpin, termasuk dalam pilpres maupun pilkada.
Ketika seseorang memilih pemimpin hanya dengan pertimbangan material belaka (npwp), tentu ia berpotensi besar untuk terjerumus dalam kekeliruan. Sebuah kekeliruan yang akan mendatangkan musibah yang tidak kecil

Musibah berasal dari kata bahasa Arab, ashaba yang artinya mengenai, menimpa, atau membinasakan. Musibah juga berarti kemalangan (al-baliyyah) atau setiap kejadian yang tidak diinginkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia musibah berarti kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa, malapetaka atau bencana.

Musibah berbeda dengan bencana dari sisi faktor penyebabnya. Musibah terjadi karena faktor (kelalaian, kecerobohan atau tidak kompetensinya) manusia dalam suaru urusannya sedangkan bencana penyebabnya adalah alam. Meskipun tidak sedikit bencana alam yang terjadi karena kelalaian dan keserakahan manusia

Kebodohan dan atau kedzaliman seorang pemimpin adalah musibah yang mengancam umat. Musibah yang disebabkan oleh pemimpin yang tidak amanah jauh lebih berbahaya dari bencana alam.

Seorang pemimpin dikatakan amanah, bisa dipercaya, minimal dilihat dari dua hal memiliki kompetensi moral (jujur, setia, menepati janji, menjaga shalat , menjaga agama dan sejenisnya) dan kompetensi teknis atau kemampuan melaksanakan pekerjaan yang diamanatkan dengan baik.

Pemimpin yang tidak kompeten akan melahirkan musibah yang berat dan berkepanjangan sebagai akibat dari kebijakan (berupa aturan perundangan dan perda) yang tidak adil, tidak tepat bahkan salah.

Allâh sudah memberitahu kita bahwa penyebab musibah adalah kesalahan manusia:

"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allâh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). [As-Syûra/42:30]

Munculnya pemimpin bodoh, penipu atau dzalim, dalam negara dengan sistem demokrasi langsung, tidak bisa serta merta menjadi kesalahan pemimpin yang bersangkutan. Melainkan juga andil dari yang mencalonkan dan yang memilihnya dalam pilpres maupun pilkada.

Thurthusyi berkata, “Aku mendengar orang-orang senantiasa menyuarakan, “Amal perbuatan kalian adalah pemimpin kalian” juga “Sebagaimana kalian begitulah pemimpin kalian” sampai akhirnya saya menemukan ayat yang senada dengan dua perkataan ini, yaitu firman Allâh Azza wa Jalla
وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan
[al-An’âm/6:129]

Pemimpin korup lahir dari masyarakat pemilih korup (npwp). Pemimpin penipu lahir dari masyarakat pemilih yang juga penipu. Hal ini mengkonfirmasi bahwa sedikitnya pemimpin baik, jujur dan kompetens disebabkan karena sedikitnya masyarakat pemilih yang baik, jujur dan kompetens dalam memilih

Wallahua'lam bi shawab.
(Gaf)

 - 

Berita Terkini

Haji Mabur atau Haji Mardud?

Opini • 8 jam 35 menit lalu