Oleh Herman Batin Mangku*
KETIKA puncak kekuasaan diraih, setiap pemimpin ingin meninggalkan legacy yang monumental atau bermanfaat sepanjang masa kelak. Mereka akan dikenang melampaui usianya atau malah berlalu begitu saja bak angin lalu. Semua tergantung legacy yang ditinggalkannya.
Untuk negara kita, setiap pemimpin mendapatkan kesempatan lima tahun bahkan bisa berlanjut lima tahun lagi atau periode kedua peluang dirinya meninggalkan karya yang kelak menjadi legacy yang akan dikenang hingga cucu-cicitnya kelak.
Baca juga: Samsudin Guru Privat Para Cakada, Oase di Tanah Lado
Zainal Abidin Pagaralam (ZAP) dikenang sebagai penggagas Universitas Lampung (Unila) dan pendiri Bank Lampung. Putranya, Sjachroedin ZP kelak dikenang sebagai penggagas berdirinya Institute Teknologi Sumatera (Itera) dan Kota Baru Bandarnegara.
Masih banyak peninggalan karya kepemimpinan bapak-anak tersebut yang bermanfaat hingga kini. Karena Sjachroedin-lah, ragam hias masyarakat adat Lampung jadi tuan di rumah sendiri, Menara Sigers sebagai titik nol Gerbang Pulau Sumatera yang seakan menyambut semua tamu dengan riang gembira yang datang dari Pulau Jawa.
Baca juga: Buyan
Walau masih mangkrak selama Gubernur M. Ridho Ficardo (2014-2019) lanjut Arinal Djunaidi (2019-2024), Sjachroedin ZP yang jadi gubernur dua periode (2004-2008 dan 2009-2004) tetap akan meninggalkan legacy sebagai penggagas Kota Baru Bandarnegara.
Kerennya, Penjabat (Pj) Gubernur Lampung Samsudin, walau kepemimpinannya tak sampai setahun berdasarkan SK Presiden RI No.69/P Tahun 2024 (14 Juni 2024), sang guru sudah menang banyak sejak awal menjejakan kembali kakinya di Provinsi Lampung.
Sejarah akan mencatat, alumni Jurusan Pendidikan Kimia lulus tahun 1992 dan Magister Pendidikan FKIP Universitas Lampung lulus tahun 2006 ini adalah kepala daerah yang pertama kali berkantor di kawasan Kota Baru, sementara nebeng di Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Lampung.
Tak cuma satu, belum tiga bulan menjadi penjabat gubernur, mantan guru SMAN 2 dan perintis SMA Al-Kautsar di Kota Bandarlampung ini tercatat sebagai kepala daerah yang pertama kali pula menjadi inspektur upacara HUT Kemerdekaan RI dan Salat Jumat di Kota Baru.
Dilalah, bersamaan dengan HUT Kemerdekaan yang pertama di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Sejarah akan mencatat, Presiden Jokowi yang pertama eksis di IKN, Pj Gubernur Samsudin yang pertama eksis di Kota Baru Bandarnegara.
Jangan bayangkan masjidnya sudah berkilau dan sejuk dikelilingi AC, dia memulai Salat Jumat di Masjid Al-Hijrah yang masih berupa kerangka yang kotor setelah 10 tahunan mangkrak. Satu-satunya penanda itu masjid cuma kubah betonnya yang belum di finishing.
Samsudin kelak akan dikenang sebagai kepala daerah yang melanjutkan pembangunan Kota Baru bahkan yang pertama memulai memanfaatkannya walau penuh keterbatasan, sudah porak-poranda bak gedung horor.
Di sini privatnya, tak sampai tiga bulan, Samsudin berhasil mendapatkan legacy-nya, relatif tanpa modal, hanya senyum kepada semua pihak, termasuk sowan minta izin ke Sjahroedin ZP untuk melanjutkan Kota Baru-nya yang mangkrak 10 tahun.
Belajar dari Samsudin, tak perlu sampai dua periode berkuasa, menyedot anggaran hingga ngutang dana bagi hasil daerah (DBH), tak perlu membelah Taman Hutan Rakyat Wan Abdurahman buat ngintip Alien pake teropong bintang di langit.
Atau, menyerahkan kawasan publik ikonik dan penuh kenangan bagi masyarakat kota ini sejak zaman perjuangan kemerdekaan, tempat kunjungan Presiden Soekarno ke Lampung, kepada keluarga konglomerat buat masjid yang konon kelak akan bernama keluarga besarnya. Entah siapa yang akan dapat legacy-nya kelak.
Dalam buku The 8th Habit (2004) karya Stephen Covery mengatakan manusia memiliki empat dorongan, yakni to live (hidup), to learn (belajar), to love (mencintai), dan terakhir to leave a legacy (meninggalkan sesuatu yang kelak akan selalu dikenang generasi selanjutnya.
Niat untuk meninggalkan legacy itulah yang seringkali membuat seseorang, khususnya para pemimpin, berlomba-lomba melakukan gebrakan dan perubahan supaya khalayak semakin mahfum akan legacy yang kelak akan ditinggalkannya.
Semakin banyak perubahan yang dapat dilihat atau bermanfaat kemungkinan semakin harum pula melintas generasi seperti kalimat bijak: Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, dan manusia mati meninggalkan karyanya.
Apa pun niatnya, legacy adalah suatu tugas dan tuntutan yang sangat mulia dari seorang pemimpin. Legacy merupakan jejak sumbangsih yang dipersembahkan sang pemimpin kepada sekitarnya.
Sebelum Salat Jumat pertama di Masjid Al-Hijrah, Kota Baru, kalimatnya yang mungkin kelak menginspirasi banyak orang adalah "Kita lanjutkan Kota Baru dimulai dari masjid." Kota Baru yang kelak jadi kota green city dan smart city.
Untung belum terhapus dari HP saya, masuk SMS via whatsapp dari nomor yang tak dikenal pada 1 September jelang tengah malam lalu, kalimatnya begini: Assalamualaikum, Adinda Herman salam hormat, di malam malam menyapa. Semoga Allah SWT memberikan kesehatan dan semangat untuk terus berkarya membangun Lampung tercinta.
Salam hormat
Samsudin
Pj gub (tag tiga imoji kedua tangan sedekap)
Saya balik respon: Doa yang sama Pak Gub, semoga tak lelah buat Lampung. (Ikut pasang tag imoji kedua tangan sedekap)
Jawabnya, "Aamiin ... insya Allah, ini sebuah ibadah dalam karya memperbaiki dan membangun Lampung tercinta.
* Pimred Club
-