Palestina Hancur, Tapi Menang Sejak Serangan Pertama Taufan al Aqsha

Kamis, 3 Oktober 2024 13:33
GAF Helo Lampung

KAMIS, 18 September 2024, CNN Indonesia menulis: Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) mengatakan bahwa kerajaan tidak akan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel sampai negara Palestina terbentuk.

"Kami menegaskan kembali penolakan dan kecaman keras kerajaan atas kejahatan otoritas pendudukan Israel terhadap rakyat Palestina," kata MbS dalam sesi pembukaan Dewan Syura penasihatnya, Rabu (18/9) dikutip dari AFP.

Berita tersebut tentu menggembirakan kita, para pendukung kemerdekaan Palestina. Pasalnya sampai beberapa bulan yang lalu kemenlu Saudi dan MbS masih ngotot untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel yang digagas oleh Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab.

Ini merupakan salah satu buah dari aksi Taufan al Aqsha, aksi perang yang dilancarkan oleh Hamas untuk menggagalkan penjarahan Israel atas kompleks masjid al Aqsha serta untuk memberikan sindiran kepada negara Arab yang paling berpengaruh yang sedang melakukan pembicaraan diplomatik untuk normalisasi atau membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Selain itu, aksi 7 Oktober 2023 ini juga untuk membuka mata dunia bahwa Palestina masih ada dan Israel tidak berul-betul digdaya.

Terhentinya pembicaraan normalisasi Arab Saudi dan Israel dan terbukanya mata masyarakat dunia adalah kemenangan rakyat Palestina.

Memang Gaza hancur lebur tetapi mereka sudah terbiasa dengan hidup yang serba sangat kekurangan dan tetap melahirkan pejuang dan pahlawan. Namun, mereka ibarat serigala, meskipun tidak sekuat singa, tapi tak pernah menundukkan kepala kepada penjajah.

Taufan al Aqsha juga menyadarkan saudara mereka yang di Tepi Barat yang bertulang lunak bahwa Israel pada akhirnya juga akan menyerang Tepi Barat meskipun penduduk Tepi Barat sudah menerima Israel.

Perang ini juga membuka mata dunia bahwa Gaza Palestina, standing alone, karena semua bantuan internasional selalu mendarat di PLO atau Tepi Barat karena mereka mau "berdamai" dengan pemerintah penjajah Israel.

Termasuk bantuan dari negara negara tetangganya. Nyaris hanya bantuan dari masyarakat Indonesia yang masih terus mengalir ke Gaza Palestina. Itulah mengapa di Gaza bahasa Indonesia menjadi pelajaran sekolah, sebagai bentuk rasa hormat dan terimakasih penduduk Gaza Palestina kepada masyarakat bangsa Indonesia.

Kemerdekaan bangsa Palestina adalah hutang para negara anggota Konfrensi Asia-Afrika pada tahun 1955 di Bandung. Juga hutang negara OKI kepada bangsa Palestina.

Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang sekarang berganti nama menjadi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) adalah organisasi internasional yang beranggotakan negara-negara Islam yang didirikan pada 25 September 1969 di Rabat, Maroko sebagai reaksi terhadap pembakaran Masjid Al-Aqsa oleh Israel pada 21 Agustus 1969 saat Israel dipimpin perdana menteri Golda Meir.

Kemerdekaan suatu bangsa mungkin tidak bisa habya dengan perang tapi juga tekanan dunia internasional. Tetapi ketika dunia menutup mata dan telinga maka perang adalah cara untuk membukanya.

Sebagaimana yang terjadi saat bung Karno, Hatta dan Syahrir ditangkap dan Jogyakarta ibu kota RI diduduki oleh Belanda pada aksi polisionel/agresi ke-2 (Desember 1948), maka pembentukan Pemerintahan Darurat RI di Bukittinggi dan Serangan Umum 1 Maret 1949.

Meskipun hanya menduduki ibu kota Jogjakarta selama 6 jam mampu membuka mata dunia bahwa Republik Indonesia masih ada. Sehingga akhirnya mendorong terjadinya Konfirmasi Meja Bundar pada 23 Agustus 1949 yang memaksa Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia.

Ada sebagian orang yang tidak paham mengatakan seharusnya masyarakat Gaza tidak memaksakan diri untuk perang karena akan semakin menderita. Sebaiknya mereka hijrah sebagaimana nabi dulu hijrah untuk menhindari penindasan kafur Quraisy.

Masalahnya adalah adakah tanah kosong untuk tujuan hijrah?
Kalaupun ada, apakah ada jaminan bahwa tempat hijrah itu aman?
Wong untuk membuka perbatasan guna mengirimkan bantuan saja tidak bersedia apalagi menyediakan lahan untuk pengungsian.

Kita belum lupa dengan dibantainya 3500 pengungsi Palestina di Kamp p
Pengungsi Sabra dan Shatila di Lebanon oleh milisi Kristen Phalangist dan pasukan IDF dibawah pimpinan j
Jenderal Ariel Sharon pada 16 dan 18 September 1982.

Dulu, Pak Harto sering bilang, kita cinta damai tapi lebih cinta kemerdekaan. Begitupun Bangsa Palestina, mereka cinta damai tapi lebih cinta kemerdekaan!

Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)

 - 

Berita Terkini

Haji Mabur atau Haji Mardud?

Opini • 8 jam 50 menit lalu