Lebar dan Leburan ke Fitrah

Senin, 31 Maret 2025 05:48
Gufron Aziz Fuadi Gufron Aziz Fuadi

Oleh Ustadz Gufron Azis Fuandi

KITA telah mengakhiri pertemuan kita dengan bulan Ramadan yang mulia, penuh berkah dan ampunan. Selanjutnya umat Islam akan merasakan lebaran atau hari Raya Idul Fitri 1446 H.

Istilah lebaran yang sudah menasional digunakan, berasal dari bahasa Jawa. Dari kata lebar yang artinya sudah atau selesai atau sudah selesai.

Dalam hal ini tentunya adalah sudah selesai melaksanakan kewajiban berpuasa dan membayar zakat fitrah dibulan Ramadhan.

Ada juga yang mengatakan dari kata
leburan, yang dalam bahasa Jawa berarti menyatu, artinya, diharapkan selepas Ramadan kita mampu meleburkan diri kita kepada sifat-sifat kebaikan jauh dari sifat angkoro seperti serakah, menipudan mengikuti hawa nafsu.

Ada juga yang mengatakan dari kata laburan (mengecat) rumah atau tampilan baru yang lebih baik. Dan tidak sedikit yang mengatakan lebaran itu liburan alias tanggal merah bahkan cuti bersama.

Oleh karena itu, boleh saja semua umat Islam merayakan lebaran, namun tidak semuanya Idul Fitri. Karena Iedul Fitri artinya adalah kembali kepada Fitrah.   Sedangkan Fitrah  mempunyai makna asal kejadian, keadaan yang suci dan kembali ke asal.

Dari segi bahasa, kata fitrah berasal dari akar kata al-fathr yang berarti belahan, dan dari makna ini lahir makna-makna lain, seperti "penciptaan" dan "kejadian".

Idul Fitri adalah kembali kepada kemurnian, kesucian ke-asal kejadian, atau kembali ke visi misi untuk aoa manusia diciptakan dan dilahirkan ke dunia, serta tentang bekal apa setelah meninggal dunia.

Visi awal diciptakan manusia adalah sebagai abdun, sebagai hamba yang beribadah kepada Allah. Sebagaimana firman Nya, "...Wama khalaqtul jinna wal insa ila liya'budun..."

Adapun misinya adalah sebagai khalifatulah fil ard yang bertugas memakmurkan dan memelihara keseimbangan dan keselarasan semua makhluk hidup di dunia dengan menegakkan keadilan sesuai petunjukNya.

Keadilan dalam Islam adalah meletakkan sesuatu sesuai dengan semestinya.
Seperti misalnya, orang yang bersalah harus dihukum sesuai dengan kadar kesalahannya, orang tua harus dihormati, menikah harus dengan gender yang berbeda, lingkungan hidup (alam) harus dijaga dan sebagainya.

Jadi fitrah manusia tidak hanya dimaknai sebagai sekadar suci dan bersih tanpa dosa, tetapi fitrah sebagai manusia sebagaimana Allah menciptakan manusia hanya dengan tujuan agar kita beribadah kepada-Nya (Adz Dzariat: 56).

Dan kembali kepada pengakuan keesaan Allah sebagai satu satunya yang berhak disembah (di-ibadahi) sebagaimana yang telah kita ikrarkan sejak kita masih berada di alam ruh (Al Araf: 172).

Sehingga setiap manusia lahir, agama apapun orang tuanya, sesungguhnya dia telah mengakui Allah sebagai Tuhan nya. Itulah mengapa kita bisa memahami sabda nabi Saw: "Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Orangtuanya yang akan membuat dia yahudi, nasrani, atau majusi” (H.R. Muslim).

Dimana dalam sabdanya tersebut tidak disebut secara eksplisit kata "Islam" sebagaimana nama agama lain, karena fitrah disini adalah Islam.

Bila lebaran adalah perayaan atas telah selesainya bulan Ramadhan, maka Idul Fitri seyogyanya adalah perayaan atau rasa syukur atas keberhasilan dalam menjalankan perintah-Nya dengan penuh kesungguhan, dan menjadi momen kemenangan atas keberhasilan-nya melawan hawa nafsu dan meningkatkan amal shalih dan kedekatannya kepada Allah selama satu bulan penuh.

Karena dalam Islam orang yang paling dekat dengan Allah bukanlah orang yang paling tinggi jabatannya atau paling besar kekuasaannya tetapi yang paling dekat (taqwa) kepada Allah. Sebagaimana firman Nya dalam surat al Hujurat: "...inna akramakum 'indallâhi atqâkum..."
(Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa).

Rasa syukur itu diwujudkan dalam bentuk takbiran yang berisi takbir, tahlil dan tahmid serta pengakuan bahwa kemenangan itu dari dan atas pertolongan Allah walau karihal musyrikun, walau karihal kafirun, walau karihal munafikun...
Sebagaimana dilakukan oleh para sahabat Nabi saat merayakan Idul Fitri yang pertama kali pada tahun kedua hijriah yang bertepatan dengan kemenangan nabi Saw dan kaum muslimin pada perang Badar beberapa hari sebelumnya atas kaum musyrikin dan kafirin.

'Ala kulli hal, akhirnya kita berharap
semoga bulan Ramadhan tahun ini bisa mengantarkan kita menjadi lebih bertakwa dan membawa kita kembali kepada fitrah.

Di halaman depan, ada pohon jambu,
Di samping rumah tumbuh bunga melati,
Di hari Lebaran mungkin kita tidak bertemu, tapi tetap saling memaafkan setulus hati.

Wallahu a'lam bi shawab
(Gaf)


Berita Terkini