Oleh Hajim*
SEHARUSNYA, warga 12 rukun tetangga (RT) masih menikmati silaturahmi lebaran keempat Hari Raya Idul Fitri 1446 H di Campang Jaya, Kota Bandarlampung. Namun, akibat hujan deras dan bukit rusak, kebahagian lebaran berubah jadi bencana.
Maraknya pengerukkan bukit oleh para pengusaha mengakibatkan air hujan meluncur deras menggenangi permukiman warga di Campang Jaya kecamatan Sukabumi, Kota Bandarlampung, Kamis (3/4/2025).
Asyiknya, tak ada sanksi terhadap pengusaha yang merusak lingkungan hidup. Mereka cukup cengar-cengir, ngopi ngudut sebentar, banjir usai, alat berat dan truk pengangkut galian C kembali mengalirkan cuan ke kantongnya.
Padahal, ratusan rumah warga 12 rukun tetangga (RT) telah kebanjiran yang mengangkibatkan sejumlah perabotan rumah tangganya jadi rusak. Lebaran bersama para kerabat langsung poraj-poranda jadi bersih-bersih rumah dari lumpur
Jalan berubah jadi drainase. Ditambah jebolnya tanggul di belakang SDN 1 RT 03 Lk 2 Campang Jaya, lengkap sudah penderitaan rakyat kawasan tersebut. Menurut Dion, warga setempat, sebelumnya tak pernah banjir.
Setelah maraknya penggerusan bukit tiga tahun belakangan, banjir jadi langganan setiap hujan deras. Air tak tak terbendung lagi meluncur dari bukit yang sudah gundul akibat penambangan galian C.
Para pengusaha telah lama mengobrak-abrik perbukitan di Kota Bandarlampung (Balam). Seperti kebanjiran Perumahan Villa Bukit Tirtayasa dan Bahtera Bumi Indah di Campang Raya awal tahun lalu.
Ketua Komisi III DPRD Kota Bandarlampung Agus Jumadi sempat memberikan atensi kasus ini, termasuk di Bukit PJR tersebut. Namun, kembali, pengusaha seakan kebal hukum, para petugas yang bekerja keras agar rakyat tak marah.
Seorang warga perumahan mengatakan kebanjiran sejak tahun lalu. Warga kedua perumahan selalu kebanjiran air berlumpur dengan warna kecoklatan setiap hujan deras akibat galian C yang diduga tanpa izin.
Zamidin, warga RT 02, di luar perumahan, yang jaraknya sangat dekat dengan penggerusan, mengalami banjir dengan airkeruh kecoklat-coklatan bisa sampai selutut orang dewasa.
Entah sampai kapan pengerusakkan perbukitan akan berakhir? Para petugas juga tak ada yang bisa menjawabnya. Mereka fokus buat membantu warga mengatasi banjir.
Saya kebayang dengan Dedy Mulyadi, gubernur Jawa Barat, para pengusaha nakal pasti nyengir kuda.
* Sekretaris IWO Lampung