Oleh : khairuddin.***
TERPILIH nya Prabowo Subianto jadi presiden mengalahkan rivalnya pada Pemilu 2024, menaruh harapan besar bagi 250 juta jiwa lebih penduduk di republik ini. Tak tanggung-tanggung, putera begawan ekonomi tanah air, Soemitro Djoyohadikusumo itu sukses dalam satu putaran.
Saat kampanye, seabrek program yang ditawarkan mantan Danjen Kopasus tersebut. Pembangunan infrastruktur, perbaikan kualitas pendidikan dan kesehatan hingga pemberantasan korupsi. Diantara segudang program itu, yang menarik simpati rakyat adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski nantinya akan menghabiskan anggaran ribuan triliun, mungkin program itu dianggap bermanfaat bagi puluhan juta siswa hingga ibu hamil di republik ini.
Setelah dilantik, program yang satu ini bukan sekedar "omon-omon" sang presiden. Prabowo tanpa ragu meluncurkan program tersebut. Dengan membentuk berbagai lembaga kompeten seperti Badan Gizi Nasional (BGN), pihak pelaksana program, pihak yang bertanggung jawab mendistrubusikan piring sebagai salah satu properti hingga dapur umum yang di dalamnya ditunjuk puluhan pekerja didampingi ahli gizi.
Tidak menunggu waktu lama, program nasional itupun diluncurkan di sejumlah provinsi termasuk kabupaten tempat saya tinggal. Hiruk pikuk dan jerit kebahagiaan siswa penerima manfaat menyambut petugas dengan piring di tangan berisi menu siap santap. Ada nasi putih, buah, sayur serta lauk pauk meskipun cuma secuil. Karena gratis dan mungkin lapar, makanan ludes dalam sekejap. Karena program tersebut berlangsung tiap hari kecuali hari libur, petugaspun dengan sigap mengantar santapan ke sekolah yang ditunjuk. Dengan menu yang berubah-ubah dan (maaf) terkesan seadanya, selalu ludes masuk ke perut siswa.
Celakanya, di sejumlah tempat di republik ini, kita digegerkan puluhan hingga ratusan siswa harus mendapat perawatan di rumah sakit. Sontak, pihak yang dianggap paling bertanggung jawab, berkelit jika ratusan siswa itu mengalami mual, muntah hingga buang air besar bukan disebabkan usai menyantap menu program MBG.
Tak sampai di situ, insiden keracunan ratusan siswa dengan cepat merebak hingga jantung ibukota republik. Kembali alih-alih membela diri ditambah mimik wajah prihatin, pihak yang paling bertanggung jawab berjanji merawat para korban hingga pulih. Selain itu, petugas sok sibuk mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium.
"Pemerintah akan menuntaskan kasus ini dan mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium,"begitu kira-kira kata mereka membela diri.
Benar atau tidak ratusan siswa itu keracunan, sejatinya tidak perlu diperdebatkan. Yang jelas, nyawa korban harus diselamatkan. Jika keracunan itu memang betul disebabkan dari makanan seperti sayur mayur atau lauk pauk program MBG, maka negara atau pihak yang dipercaya wajib bertanggung jawab atas insiden itu. Apalagi, jumlah penerima program nasional itu nantinya mencapai ratusan juta. Dan, pada Agustus tahun ini saja paling tidak 20 juta siswa harus sudah menikmati program tersebut.
Kita berharap, makanan yang disajikan tentunya harus bersih dan bergizi sesuai dengan janji presiden atau para ahli gizi. Bukan sebaliknya, makanan tambahan bergizi dari negara untuk anak- anak kita, malah berubah jadi makanan beracun yang bisa mengancam nyawa. Apalagi, insiden ini sudah terjadi di sejumlah daerah dan sudah banyak korban terkapar di ranjang perawatan. "Makan Bergizi Gratis" bukan "Makan Beracun Gratis". Tabik!!!!
***Wartawan Helo.Indonesia.