Lampung sebagai Pusat Cassava Nasional dan Kesejahteraan Petani

Rabu, 20 Mei 2026 20:38
NRB HELO LAMPUNG

Penulis Prof. Dr. Nairobi
Guru Besar dalam Bidang Ekonomi Publik dan Dekan FEB Unila

LAMPUNG memiliki posisi strategis dalam ekonomi singkong nasional. Hingga 2025, Lampung masih menjadi salah satu pusat utama produksi ubi kayu Indonesia, dengan produksi sekitar 6,7 juta ton dan kontribusi besar terhadap pasokan nasional.

Provinsi ini juga menjadi basis penting industri tapioka, sehingga kebijakan singkong di Lampung tidak hanya berdampak pada petani lokal, tetapi juga pada rantai pasok pangan dan industri nasional.

Kepercayaan kepada Universitas Lampung sebagai salah satu simpul utama pengembangan Pusat Cassava Nasional merupakan langkah yang patut diapresiasi. Unila memiliki sumber daya akademik, peneliti, pengalaman pengabdian masyarakat, serta kedekatan langsung dengan sentra produksi singkong.

Posisi ini memungkinkan Unila menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan, kebijakan pemerintah, kebutuhan industri, dan kepentingan petani.

Pusat Cassava Nasional sebaiknya tidak hanya dipahami sebagai proyek peningkatan produktivitas. Bibit unggul, teknologi budidaya, laboratorium, dan riset tentu penting.

Akan tetapi, peningkatan produksi belum tentu otomatis meningkatkan kesejahteraan petani jika struktur tata niaga masih timpang.

Dalam pasar yang belum seimbang, petani bisa menghasilkan lebih banyak singkong, tetapi tetap menerima pendapatan rendah karena harga, potongan, dan standar mutu lebih banyak ditentukan oleh pihak pembeli.

Persoalan yang dihadapi petani singkong Lampung tidak hanya berkaitan dengan lahan dan produksi, tetapi juga kelembagaan.

Petani menanggung risiko besar sejak awal tanam, mulai dari biaya pupuk, tenaga kerja, modal, cuaca, hama, hingga ketidakpastian panen.

Namun saat panen tiba, posisi tawar mereka sering lemah karena hasil harus segera dijual, sementara akses terhadap informasi harga, pembiayaan, penyimpanan, dan pasar alternatif masih terbatas.

Pada tahun 2025, persoalan harga dan tata niaga kembali menunjukkan pentingnya pembenahan tersebut. Kesepakatan harga singkong pernah berada pada kisaran Rp1.350 per kilogram dengan rafaksi maksimal 15 persen.

Namun di lapangan, harga sempat turun ke kisaran Rp1.000 sampai Rp1.100 per kilogram, sementara potongan dilaporkan dapat mencapai 30 persen bahkan lebih. Akibatnya, harga bersih yang diterima petani menjadi jauh lebih rendah dari harga yang diharapkan.

Karena itu, hubungan petani dengan pabrik perlu diperkuat melalui mekanisme yang lebih transparan. Industri tapioka adalah mitra penting bagi petani karena menyerap sebagian besar produksi singkong.

Sebaliknya, industri juga bergantung pada keberlanjutan pasokan dari petani. Hubungan saling membutuhkan ini perlu ditata melalui standar kadar aci, kadar air, kotoran, dan rafaksi yang jelas, terukur, serta dapat diterima semua pihak.

Pusat Cassava Nasional dapat berperan sebagai penyedia standar ilmiah dan data objektif.

Universitas Lampung dapat membantu mengembangkan metode pengujian kadar aci, menyusun standar mutu, menghitung biaya produksi petani, dan memberi masukan bagi pemerintah dalam merumuskan harga acuan.

Peran ini bukan untuk menggantikan pemerintah atau industri, melainkan memperkuat dasar ilmiah agar keputusan lebih adil dan dapat dipercaya.

Hubungan petani dengan tengkulak juga perlu dilihat secara proporsional. Tengkulak sering menyediakan modal, angkutan, informasi pasar, dan pembelian cepat.

Namun ketergantungan yang terlalu besar dapat melemahkan posisi petani, terutama ketika mereka membutuhkan uang tunai segera setelah panen.

Solusinya bukan sekadar memutus peran perantara, tetapi memperbanyak pilihan bagi petani melalui koperasi, BUMDes, kelompok usaha bersama, dan pemasaran kolektif.

Relasi dengan importir juga penting diperhatikan. Impor pati ubi kayu atau produk turunannya dapat menekan harga lokal jika masuk ketika pasokan domestik sedang melimpah.

Oleh karena itu, kebijakan impor perlu mempertimbangkan kalender panen, stok dalam negeri, kebutuhan industri, dan keberlanjutan pendapatan petani.

Pusat Cassava Nasional dapat membantu menyediakan proyeksi produksi dan kebutuhan bahan baku agar kebijakan lebih tepat waktu.

Pemerintah memiliki peran penting sebagai fasilitator dan penjaga keseimbangan. Harga acuan sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan kemampuan beli pabrik, tetapi juga biaya produksi, produktivitas lahan, kualitas hasil, logistik, harga tapioka, dan margin wajar industri.

Dengan pendekatan ini, kebijakan tidak hanya menjaga keberlangsungan industri, tetapi juga memberi ruang bagi peningkatan pendapatan petani.

Hilirisasi singkong juga perlu dirancang secara inklusif. Singkong dapat diolah menjadi tapioka, mocaf, pakan, bioetanol, pangan olahan, gula cair, dan berbagai produk turunan lain.

Akan tetapi, petani jangan hanya ditempatkan sebagai pemasok umbi segar. Melalui koperasi, BUMDes, usaha mikro, dan unit pengolahan desa, petani dapat masuk ke aktivitas bernilai tambah sehingga manfaat ekonomi tidak berhenti di industri besar.

Keberhasilan Pusat Cassava Nasional tidak cukup diukur dari peningkatan produksi. Ukuran yang lebih penting adalah apakah pendapatan petani naik, harga lebih stabil, rafaksi lebih transparan, koperasi semakin kuat, akses pembiayaan membaik, impor lebih terkendali, dan nilai tambah lebih banyak dinikmati masyarakat Lampung.

Pusat Cassava Nasional membawa harapan besar. Harapan itu akan semakin kuat apabila produktivitas dan kesejahteraan ditempatkan sebagai dua agenda yang berjalan bersama.

Dengan dukungan Universitas Lampung, pemerintah, petani, dan industri, Lampung berpeluang menjadi contoh pembangunan pertanian yang tidak hanya mengejar hasil panen, tetapi juga memastikan petani hidup lebih baik dari komoditas yang mereka tanam.  ***

Berita Terkini