Prof. Sudjarwo, Puncak Ilmu Pengetahuan adalah Adab

Rabu, 20 Mei 2026 17:39
Prof Soedjarwo HELO LAMPUNG

Catatan Herman Batin Mangku
Kado Ulang Tahun ke-73 

PROFESOR Dr. Sudjarwo, M.S. memang telah memasuki usia kepala tujuh. Namun, soal semangat menulis dan ketajaman berpikir, banyak anak muda mungkin masih tertinggal jauh darinya.

Setiap ada persoalan sosial yang menjadi polemik, baik di daerah maupun nasional, pisau analisis sosiologisnya selalu hadir mengiris tajam. Menariknya, ketajaman itu tidak pernah terasa melukai.

Saya sering dibuat kagum. Baru saja saya berniat mengirim pesan WhatsApp untuk membahas isu yang sedang ramai, tulisannya sudah lebih dulu masuk ke redaksi Heloindonesia.com.

Kadang saya sampai berpikir, jangan-jangan beliau bukan manusia biasa, melainkan “AI” (artificial intellegence) sungguhan dalam dunia nyata, dunia literasi.

Meminjam penilaian penggiat literasi Gunawan Handoko, tulisan Guru Besar Universitas Malahayati itu setajam silet, tetapi tetap menjaga kesantunan. Kritik-kritiknya argumentatif, berbasis teori, tanpa harus menyebut nama atau jabatan pihak yang dikritik.

Bagi Prof. Sudjarwo, tampaknya bukan siapa orangnya yang penting dibedah, melainkan persoalannya. Ia bermain di wilayah konsep dan gagasan. Adab akademik selalu dikedepankan. Kritik disampaikan dengan pemikiran, bukan makian.

Penilaian itu rasanya tidak berlebihan. Lebih dari setengah abad hidup di dunia akademik telah menempa dirinya menjadi ilmuwan yang analitik sekaligus menjunjung tinggi etika.

Di Universitas Lampung (Unila), ia mendedikasikan diri selama 43 tahun sebelum melanjutkan pengabdiannya di Universitas Malahayati hingga hari ini.

Nilai-nilai itu sangat terasa saat beliau menyampaikan pidato valediktori atau pidato perpisahan sebagai guru besar dan aparatur sipil negara di Unila, di Aula K FKIP Unila pada 31 Mei 2023.Dalam pidatonya, beliau berkata:
Ilmuwan itu akan bermakna manakala lakunya menunjukkan akhlakul karimah, karena puncak ilmu itu pada adab yang didasari etika.”

Kalimat itu bukan sekadar nasihat. Prof. Sudjarwo menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Seberat dan serumit apa pun polemik di masyarakat, ia mampu membedahnya dengan tajam tanpa membuat siapa pun merasa dipermalukan.

Energinya dalam menulis pun seperti tak pernah habis. Rasanya beliau justru gelisah jika terlalu lama menyimpan gagasan di kepala. Dari era media cetak tahun 1980-an hingga zaman media online hari ini, tulisan-tulisannya terus mengalir. Dari masa artikel masih dihargai honor lumayan hingga era “media bokek”, semangatnya tetap sama: menulis untuk mencerahkan.

Kadang saya membayangkan, Prof. Sudjarwo baru bisa menikmati secangkir teh dengan tenang setelah gagasannya terbit di media. Adrenalin menulisnya masih sanggup diadu dengan anak-anak muda.

Karya-karyanya pun tidak sedikit. Saat memasuki masa purnabakti dari Unila, beliau meluncurkan buku berjudul Legacy, yang memuat kisah perjalanan hidup sejak masa kecil, kumpulan opini di berbagai media, hingga testimoni dari sahabat, kolega, dan para jurnalis.

Selama aktif mengajar dan meneliti, Prof. Sudjarwo dikenal sangat produktif menulis buku, terutama di bidang metodologi penelitian, ilmu sosial, dan pendidikan. Ia juga pernah dipercaya bergabung dalam Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) serta tim ad hoc sertifikasi guru demi pengembangan mutu pendidikan Indonesia.

Bagi beliau, seorang akademisi dan guru besar adalah ilmuwan yang seharusnya berada di wilayah ontologi—wilayah persepsi yang bebas nilai. Sebab ketika seorang ilmuwan terlalu larut dalam wilayah epistemologi dan aksiologi, penilaian subjektif akan mudah masuk dan mengaburkan kejernihan berpikir.

Karena itu, menurut Prof. Sudjarwo, laku seorang begawan adalah berusaha tidak menyakiti orang lain sambil terus memperbaiki diri sendiri. Sebab manusia tidak pernah tahu kapan hari terakhirnya di bumi.

Dengan sederhana ia menjelaskan:
“Ontologi adalah ilmu, epistemologi adalah otak, dan aksiologi adalah hati. Melayani dengan hati, berpikir dengan otak, dan bertindak dengan ilmu, maka kita adalah profesor kehidupan.”

Seorang jurnalis senior pernah menilai Prof. Sudjarwo memiliki kemampuan menulis di atas rata-rata, dengan mata yang jeli dan rasa ingin tahu yang besar—seorang pencari makna di balik realitas.

Dan memang, warisan pemikiran yang telah beliau tinggalkan begitu banyak. Entah sudah berapa ratus doktor lahir dari bimbingannya. Entah berapa gunung skripsi, tesis, dan disertasi yang mendapatkan sentuhan tangan dinginnya. Semua itu menjadi amal ilmu yang akan terus mengalir.

Pembaca tulisan-tulisannya pun tidak terhitung jumlahnya. Banyak orang mendapatkan inspirasi, wawasan, bahkan cara pandang baru tentang kehidupan dari gagasan-gagasan yang beliau tulis.

Setelah menguasai berbagai jurus dan melihat luasnya dunia persilatan, seorang pendekar sejati justru menyadari bahwa tidak ada lagi yang perlu disombongkan. Puncak tertinggi dari sebuah perjalanan bukanlah keangkuhan, melainkan kesadaran diri dan kerendahan hati.

Terima kasih, Pak Sudjarwo, atas semua pemikiran yang telah mengalir kepada publik. Tulisan-tulisan itu bukan hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membuka cakrawala dan dimensi kehidupan banyak orang.

Hari ini, 20 Mei 2026, Prof. Sudjarwo genap berusia 73 tahun. Tak ada hadiah istimewa yang bisa saya berikan selain doa: semoga Profesor selalu sehat, panjang umur, tetap bernas dalam berpikir, dan terus menyalakan cahaya ilmu bagi generasi berikutnya.

Selamat ulang tahun, Profesor idolaku.
Tabik puuun. ***


Prof. Dr. H. Sudjarwo, M.S. adalah guru besar tetap dalam bidang Ilmu Sosial/Pendidikan di Universitas Lampung (Unila) yang lahir di Lubuk Linggau pada 20 Mei 1953. Beliau telah memasuki masa purnabakti pada pertengahan tahun 2023 dan melanjutkan dedikasi ilmu pengetahuannya ke Universitas Malahayati.

Berikut adalah ringkasan profil dan riwayat perjalanan karier beliau:

Riwayat Pendidikan

S1 / Doktorandus: Universitas Sriwijaya (1980)
S2 / M.S.: Universitas Padjadjaran (1993)
S3 / Doktor: Universitas Padjadjaran (1997) [1, 2]

Riwayat Jabatan & Kariir

Guru Besar: FKIP Universitas Lampung (dikukuhkan sebagai profesor pada tahun 2006)

Direktur: Pascasarjana Universitas Lampung

Dekan: FKIP Universitas Lampung

Ketua Program Studi: Pascasarjana Magister Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Unila.

Berita Terkini