Helo Indonesia

Deni Ribowo: PRL 2024 Memalukan, Tak Paham Etika dan Adat Daerahnya

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
Jumat, 19 April 2024 11:31
    Bagikan  
PRL
Helo Lampung

PRL - Deni Ribowo

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Pekan Raya Lampung (PRL) 2024 tak memahami etika dan adat istiadat masyarakat daerahnya. Tebar iklan baleho besar-besar PRL laki-laki pakai celana renang dan lebih menonjolkan "cuan".

"Alangkah memalukannya acaranya Pemprov Lampung kali ini," kata anggota DPRD Lampung Deni Ribowo yang terpilih kembali pada Pileg 2024 lewat Partai Demokrat kepada Helo Lampung, Jumat (19/4/2024).

Iklan PRL 2024 yang tak paham etika dan adat masyarakatnya

Anggota Komisi V DPRD Lampung ini sangat menyesalkan sekali betapa rendahnya pemahaman pengelolanya, event organizernya (EO) terhadap substansi digelarnya PRL oleh Pemprov Lampung.

Ingat yang dikatakan Gubernur Arinal Djunaidi, katanya, PRL merupakan ajang pameran untuk menyebarluaskan informasi, promosi, dan publikasi yang mengedukasi masyarakat tentang berbagai capaian program atau aktivitas pembangunan.

Tentu saja, dalam pameran itu, ada semangat untuk mengeksplorasi muatan lokal, budaya, seni, UMKM, kerajinan, dan lain-lain. "Bukan malah menampilkan laki-laki bercelana renang/naik sepeda ngeceng di depan BMW lalu ngajak berburu cuan, astafirullahalazim," tandasnya.

Deni minta penyelenggara mengevaluasi kembali rencana kegiatan agar tak tercerabut dari akar substansi digelarnya acara tersebut. Dia berharap even itu melangit tapi tetap akarnya menghujam bumi.

Sebelumnya, anggota DPRD Lampung M Junaidi kecewa dengan penyelenggaraan PRL yang mengutamakan musisi luar daerah ketimbang ikut mengembangkan musisi daerahnya sendiri yang tak kalah hebat.

"Saya sangat kecewa, kenapa penyelenggara tidak memberdayakan musisi daerah untuk memotivasi generasi muda mengembangkan bakatnya," kata kader Partai Demokrat itu kepada Helo Indonesia, Rabu (17/4/2024).

Menurut M. Junaidi, PRL itu hajatnya orang Lampung yang mau melihat hasil pembangunan ya semestinya jadi ajang unjuk prestasi bagi musisi dan seniman asal Lampung atau yang seniman yang mencintai provinsi ini.

Dia menilai penyelenggara PRL tidak peduli terhadap seniman dan musisi Lampung. Boleh jadi, penyelenggaranya mengecilkan keberadaan musisi daerahnya. "Jika orientasinya bisnis, ya jadi EO independen saja seperti Si Ucup Pop Pesta Pora itu," tandasnya. (HBM)

 -