Helo Indonesia

Era Digital Tak Bisa Dihindari, Pemimpin Harus Adaptif dan Kuasai Kecanggihan Teknologi

Jumat, 5 Juli 2024 10:13
    Bagikan  
Era Digital Tak Bisa Dihindari, Pemimpin Harus Adaptif dan Kuasai Kecanggihan Teknologi

Tiga nara sumber dan moderator seminar berpose dengan ketua yayasan dan pimpinan di STIE Bank BPD Jateng. Foto: Aji

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Seorang pemimpin di era digital sekarang didorong menjadi digital leader dengan gaya kepemimpinan yang mampu beradaptasi, berkomunikasi dan ''melek'' atau menguasai kecanggihan teknologi ketika segala platform digital tersedia.

Melalui kemampuan dan pengetahuan di dunia digital, membuat seorang pemimpin memiliki sebuah pertahanan ketika terjadi problematika atau munculnya kejahatan digital seperti peretasan data.

Demikian benang merah dari Seminar Dies Natalis 28 Tahun STIE Bank BPD Jateng bertajuk ''Quo Vadis Kepemimpinan di Era Digital'' di Auditorium H Panoet Harsono, kampus STIE Bank BPD Jateng, Semarang, Kamis 4 Juli 2024.

Baca juga: Talkshow Kudengar di Radio USM Jaya, Putri Ayu Sebut Gender Berbeda dengan Kodrat

Seminar yang dipandu dosen STIE Bank BPD Jateng Untung Budiarso SH MH tersebut menghadirkan tiga pemimpin. Mereka adalah Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dr H Abdul Fikri Faqih, Bupati Pemalang Mansur Hidayat ST MLing dan Ketua PWI Jateng H Amir Machmud NS SH MH.

Selain diikuti ratusan mahasiswa, hadir hadir dalam kesempatan itu Ketua Yayasan Widjianto SE MM bersama jajarannya, dan Ketua STIE Bank BPD Jateng Prof Dr Taofik Hidajat SE MSi CRBC.

Amir Machmud yang diberi kesempatan pertama menyampaikan materi mengungkapkan, bahwa tanda-tanda era digital sudah diramalkan dalam pertemuan taipan media di Auckland, Selandia Baru, yang dimotori raja media Rupert Murdoch tahun 1993.

''Saat itu telah diprediksikan, akan tiba saatnya di era milenium keberadaan media mainstream akan menjadi dinosaurus yang langka, jika tidak diimbangi langkah-langkah yang tepat. Maka pekerja media diingat untuk melakukan reposisi dari sisi aktualitas,'' kata dosen jurnalistik dan penulis buku itu.

Baca juga: Luncurkan SNI dan Wifi Corner, KemenKopUKM Tingkatkan Kualitas Layanan PLUT

Dia menjelasakan, dua dekade lalu, para tetua menasihati bahwa untuk mendapatkan informasi aktual bacalah koran pagi. Namun pada era digital, media saat ini bisa menyajikan peristiwa secara realtime tanpa harus menunggu keesokan harinya seperti yang dialami koran. Jika tak melakukan reposisi aktualitas, media cetak akan selamanya bertekuk lutut.

''Dalam konteks kepemimpinan, seorang memimpin harus beradaptasi dengan era digital karena dunia digital menjadi bagian manajemen sistem. Kedua, kemampuan adaptasi digital inilah yang akan menentukan apakah seorang pemimpin mumpuni dalam profesi ataupun kontestasi misalnya,'' tambahnya.

Mitigasi dan Adaptasi

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menjelaskan, ada dua hal penting menghadapi era disrupsi di mana teknologi mengubah semua lini, yaitu mitigasi dan adaptasi. Untuk menghadapi era digital saat ini, sektor pendidikan memegang peran kunci.

Era disrupsi, kata dia, telah membuat revolusi industri demikian cepat. Semua berubah tak bisa dihindari. Dia lalu mencontohkan era ponsel Siemens dan Sony Ericsson yang mendominasi pasar, namun tergeser usai muncul teknologi baru yang orang-orang di belakangnya punya kemampuan adaptasi.

''Jasi ibarat kita mau terbang menuju keberhasilan, landasan pacunya ya pendidikan. Dengan pendidikan akan muncul SDM unggul, pemimpin bagus,'' ujar politisi PKS asal Tegal itu.

Baca juga: Afif Karateka Kalsel Raih Medali di University Games 2024

Di bagian lain, Bupati Pemalang Mansur Hidayat berbagi pengalaman. Dia mengatakan, pemimpin yang baik adalah yang memiliki sense of belonging dan sense of reality terhadap lingkungan sekitar, salah satunya perkembangan teknologi digital.

Dia lalu sharing tentang kesibukaannya menghadapi tumpukan dokumen di mejanya, sementara sebagai pemimpin harus berkeliling menemui warganya. Suasana seperti ini mendorongnya untuk melakukan digitalisasi.

''Dengan digitalisasi, di mana pun kita berada akan melakukan tugas-tugas administrasi. Misalnya ada disposisi, ya tinggal klik tanpa harus datang ke kantor. Digital mendorong kita melakukan perubahan-perubahan. Ada laporan misalnya jalan rusak, bisa dicarikan solusi secara cepat,'' ungkapnya.

Dalam seminar yang dinamis tersebut, muncul beragam pertanyaan, diantaranya soal bagaimana sikap seorang pemimpin ketika mencegah dan mengantisipasi kasus-kasus peretasan data. Selain itu, bagaimana mengatasi judi online dan pinjaman online.

Menurut Fikri Faqih, siapapun pemimpinnya harus melakukan mitigasi. Salah satunya adalah pertahanan diri dengan menyiapkan back up. Jika pusat datanya jebol, maka punya cadangan data. ''Kita harus menyiapkan SDM yang kompeten,'' katanya.

Baca juga: Putri Pertamina Enduro Bikin Kejutan, Bekuk Jakarta BIN di Laga Pembuka Final Four Proliga 2024

Ketua STIE Bank BPD Jateng Prof Tofik Hidajat dalam sambutannya mengatakan, seminar ini penting karena era digital memungkinkan media sosial dan suara-suara nitizen memiliki dampak besar. Di sinilah diperlukan gaya kepemimpinan yang tepat ketika seorang pemimpin menghadapi dunia yang serba digital.

Sebelumnya dia menerangkan STIE Bank BPD Jateng bakal beralih status dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi menjadi Universitas. Dengan demikian, kampus ini ke depan bakal membuka sejumlah prodi dan fakultas baru di luar ilmu ekonomi.

"Kesiapan untuk gedung pasti, yang penting masih dalam satu kecamatan. Begitu pula perluasan tanah yang harus kami penuhi. Kami ingin mengembangkan prodi di luar ekonomi. Berkas-berkas sudah kami kumpulkan, dan secara persyaratan sudah terpenuhi. Mudah-mudahan tahun depan," tambahnya. (Aji)