Oleh H.A. Darwin Ruslinur*
AWAL Tahun 2004, periode pertama Komjen Pol (Purn) Drs. H. Sjachroedin, ZP, SH menjabat sebagai Gubernur Lampung (2004-2009), saya diminta menemuinya di kantor. Sempat berpikir, ada apa ya seorang kepala daerah ingin berbincang dengan saya yang berprofesi sebagai wartawan.
Jelang makan siang, pukul 11.45 WIB, saya dipersilahkan melangkah masuk ke ruangannya dan pandangan mata langsung disergap beragam gulai di sudut meja ruang kerja Bang Oedin (panggilan akrabnya). Mau tak mau, perut ikut memberontak.
Sambil santap siang, Bang Oedin berbicara banyak hal. Terselip, soal masuknya usulan tiga nama anggota PWI Lampung ikut liputan haji pada tahun 2004. Persoalannya bukan tidak oke, selama demi kebaikan tak ada masalah.
Namun, saat itu, anggaran sangat terbatas di awal pemerintahannya. APBD hanya berdasarkan Pergub akibat adanya SK-15 DPRD Prov. Lampung yg tidak mengakui terpilihnya beliau sebagai gubernur yang sah secara hukum.
Karena minimnya anggaran, Bang Oedin meminta saya ikut Tim Pemantau Haji Daerah (TPHD) Lampung. Saya sempat berpikir berangkat atau tidak menjadi tamu Allah.
Dia tahu ada keraguan, Bang Oedin langsung sikat: "Sudah Win, bismillah berangkat saja. Ini kesempatan melebur dosa di Tanah Suci," tandasnya sambil tertawa hingga langsung meluluhlantahkan keraguan saya.
Akhirnya saya mengiyakan. "Baik Bang, karena ini perintah, saya siap ke Tanah Suci". Tak lama kemudian, Bg Oedin minta ajudannya memanggil Kabiro Binsos Akmal Djahidi.
Hanya hitungan menit, Akmal muncul dan langsung diperintahkan segera mengatur segala sesuatunya untuk keberangkatan saya.

HAJI JURNALIS
Sambil menunaikan ibadah haji, meliput, dan jadi TPHD bukanlah pekerjaan mudah. Selain harus ikuti tahapan haji, saya harus mengontrol semua maktab/pondokan jamaah haji asal Lampung dari Sief Amir sampai Aziziah.
Alhamdulilah, hampir keseharian saya tugas sebagai wartawan acapkali ditemani Bang Helmi Machmud (pj Bupati Peringsewu) dan dr. Ramdhani (petugas medik).
Bang Helmi kerap bayar sewa Land Cruiser untuk keliling dari maktab ke maktab kontrol para Calon Jema'ah Haji (CJH) Lampung.
Saya harus tahu berapa CJH sakit/meninggal sbg bahan berita untuk di kirim ke Indonesia hari itu juga. Termasuk peristiwa tragis di depan mata saya, runtuhnya maktab CJH Malaysia di Pasar Seng Mekkah.
Dengan seorang sahabat setelah salat Dzuhur di Masjidil Haram, Dr. Edy Irawan, sempat lari menjauh dari bangunan yang runtuh. "Ngeri saya lihat bangunan runtuh itu. Sepertinya banyk korban," ucap Edy Irawan sambil bergegas ke Maktabnya.
Saya terus memotret peristiwa mengerikan itu dengan kamera. Celakanya, saat saya memotret, seorang askar/keamanan setempat menghardik saya untuk menghentikan pemotretan dan meminta kamera saya.
Tak ada cara lain menyelamatkan dokumentasi foto, lari dan bersembunyi di sisi kanan toko dekat Masjid Jin. Agar luput dari perhatian, saya beli kaos ganti baju koko agar luput dari pantauan askar.
Alhamdulilah usaha saya berhasil. Aturan Arab Saudi ketika itu sangatketat. Apalagi menyangkut peristiwa, hrs ijin Pemerintah Kerajaan.
Demikian pula tragedi Mina yang menewaskan 251 CJH dari berbagai negara, 54 orang diantaranya asal Indonesia. Tragedi Mina 20 th silam, 1 Februari 2004, sy berada di tengah lautan manusia yg terinjak-injak saat hendak/setelah lempar jumroh.
Lempar jumroh ritual dalam ibadah haji, masing-masing dilemparkan ke tugu/tiang Ula, Wustho, dan Aqobah. Dalam catatan saya ketika itu, korban asal Indonesia terbanyak dibandingkan negara lainnya.
Dari Lampung sendiri, nyaris jadi korban Mina adalah Alhajar Sahyan. SH (ketua DPRD Kabupaten Tanggamus saat itu) dan Dandim Tanggamus (lupa namanya).
Sahabat saya, Alhajar dan Dandim Tanggamus selamat dalam peristiwa Mina ini. "Syukur kami selamat Bang, meski sempat terinjak-injak dil autan manusia," kata Alhajar lirih saat ditemui di maktabnya
"Jurnalis senior mantan anggota DPRD Lampung
