PEMALANG, HELOINDONESIA.COM - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji didampingi Tim Baznas dan Rumah Zakat membuat pemandangan tak biasa di jalanan Kabupaten Pemalang, pada Kamis 23 April 2026.
Tanpa bermobil dan pengawalan, memilih mengendarai sepeda motor biru operasional Penyuluh KB untuk menyisir gang-gang sempit di Desa Bantarbolang. Dia tidak sedang bergaya, melainkan sebuah aksi nyata untuk memastikan bantuan intervensi stunting benar-benar mendarat tepat di pintu rumah warga yang membutuhkan.
Baca juga: Pesilat Jateng Safira Dwi Meilani Sabet Emas di Belgium Open 2026
Menteri Wihaji menegaskan bahwa keputusannya menggunakan motor operasional adalah bentuk apresiasi dan upaya merasakan langsung militansi para Penyuluh KB di lapangan.
"Saya ingin merasakan langsung keseharian teman-teman Penyuluh KB. Mereka adalah ujung tombak, juru penerang bagi keluarga untuk membawa perubahan nyata menuju perubahan," tegas Wihaji.
Langkah ini sekaligus menegaskan peran strategis Penyuluh KB melalui 10 langkah kerja PLKB dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selanjutnya, Wihaji bersama bupati Pemalang, jajaran Bazna, Dinas Dalduk KB Kabupaten Pemalang, Rumah Zakat, serta Kemendukbangga/Perwakilan BKKBN Provinsi Jateng meninjau langsung keluarga risiko stunting (KRS) di Desa Bantarbolang.
Di sana, dia menyoroti kondisi keluarga yang masih menghadapi keterbatasan akses air bersih dan sanitasi.
Baca juga: Puluhan Tahun Lumpuh, Mbah Kasnadi Kini dalam Pantauan Pemkab Rembang
Di RW 4 Desa Bantarbolang, bantuan bedah rumah diberikan kepada keluarga Mbah Darsun/Ibu Tarsiyah dan Ibu Irmawati. Program ini menjadi jawaban atas faktor non-gizi yang selama ini menghantui tumbuh kembang anak.
"Rumahnya kita bangunkan agar layak huni, jambannya kita sediakan, aliran sanitasinya kita perbaiki. Setelah lingkungannya sehat, baru asupan gizinya kita optimalkan," jelas Wihaji.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevalensi stunting nasional tercatat sebesar 19,8%, sementara Kabupaten Pemalang berada di angka 15,4%. Meskipun lebih rendah dari angka nasional, upaya percepatan penurunan stunting tetap menjadi prioritas. Hal ini karena stunting tidak hanya dipengaruhi asupan gizi, tetapi juga faktor lingkungan dan edukasi, termasuk pernikahan dini serta pola asuh keluarga.
Baca juga: Lantik 27 Pejabat Pemprov Jateng, Gubernur Luthfi: Birokrasi Itu Melayani, Bukan Mempersulit
Sebagai tindak lanjut, Kemendukbangga/BKKBN menginisiasi Program GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting), yang melibatkan berbagai pihak untuk membantu keluarga risiko stunting. Program ini menargetkan intervensi kepada satu juta anak Indonesia melalui empat menu utama, yaitu nutrisi, air bersih, rumah layak huni, dan edukasi.
“Kami punya empat menu untuk program gerakan orang tua asuh cegah stunting, ada menu nutrisi, ada air bersih, ada rumah layak huni, dan edukasi,” jelas Wihaji, seraya menambahkan bahwa pada tahun 2026 program difokuskan pada bedah rumah dan jambanisasi.
Selain itu, dalam kegiatan Temu Kader Tim Pendamping Keluarga di Balai Desa Bantarbolang, Wihaji bersama Bank Jateng juga menyerahkan bantuan pembuatan jamban secara simbolis kepada tiga keluarga risiko stunting, yaitu keluarga Setia Irawan, Yuliana, dan Sri Handayani.
Upaya ini menjadi bagian dari komitmen nyata pemerintah untuk memastikan bantuan tidak hanya tersalurkan, tetapi juga berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat serta percepatan penurunan stunting di Indonesia. (Aji)
