Helo Indonesia

Perlu Dievaluasi, Dispar Pesawaran Abaikan Masyarakat Adat

Annisa Egaleonita - Nasional -> Peristiwa
Sabtu, 27 Mei 2023 11:04
    Bagikan  
Farifki Zulkarnayen Arif gelar Suntan Junjungan Makhga

Farifki Zulkarnayen Arif gelar Suntan Junjungan Makhga - (Foto Helo Indonesia Lampung)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Ketua Umum Majelis Punyimbang Adat Lampung (MPAL) Kabupaten Pesawaran Farifki Zulkarnayen Arif menyayangkan kedatangan Menteri Pariwisata Sandiago Uno tak dimanfaatkan optimal Dinas Pariwisata setempat.

Seharusnya, kata Farifki Zulkarnayen Arif gelar Suntan Junjungan Makhga, Dinas Pariwisata melibatkan para tetua masyarakat adat dapat pula mempresentasikan bagaimana meningkatkan pariwisata lewat kekayaan adat "Bumi Andan Jejama".

Dari penyambutannya saja, Dinas Pariwisata Pesawaran bisa menunjukkan bahwa kabupaten ini masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan kearifan lokal sebagai kekayaan buat mendongkrak pariwisata dan ekonomi warganya.

"Seandainya diundang dalam acara tersebut, kami selaku tokoh adat akan memberikan usulan yang natobene untuk peningkatan parawisata di Bumi Andan Jejama ini," ujar Farifki Zulkarnayen Arif kepada Helo Indonesia Lampung, Sabtu (27/5/2023).

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahudin Uno dialog dan pemaparan tentang pentingnya pembangunan pariwisata untuk mendongkrak ekonomi masyarakat di GSG Pemkab Pesawaran, Jumat (26/5/2023).

Ketua Harian MPAL Kabupaten Pesawaran Erland Syofandi gelar Suntan Penatih meminta Bupati Dendi Ramadhona mengevaluasi kepala OPD yang dinilai tidak mampu bekerja dengan baik.

"Demi kemajuan Kabupaten Pesawaran, jangan dipakai lagi pejabat yang egois dan mau hebat sendiri, kalau kita membangun secara bersama-sama tentu akan lebih cepat pembangunan itu," lanjut Erland.

Sedangkan Sekretaris Umum MPAL Kabupaten Pesawaran Rama Diansyah gelar Paksi Sejati berpendapat tidak dilibatkannya masyarakat adat dalam beberapa even menandakan Dispar Pesawaran tidak serius dalam upaya pengembangan Pariwisata dan ekonomi kreatif.

"Masyarakat adat itu aset kabupaten, bukannya diberdayakan ini malah terkesan dihilangkan, cara berfikir mundur seperti itu tidak bisa dipakai," ujarnya.

"Banyak program MPAL dalam kaitan pelestarian adat dan budaya yang dapat menjadi poin plus bagi dunia pariwisata Pesawaran, kok malah seakan alergi dengan masyarakat adat," timpalnya.

Kepala Dispar Kabupaten Pesawaran Anggun Saputra berdalih bahwa pihaknya telah berupaya mengundang perwakilan masyarakat adat, namun Anggun menuding Kementrian Pariwisata tidak memberikan akses untuk mengundang masyarakat adat karena dalam kegiatan tersebut Kabupaten Pesawaran hanya ketempatan acara.

"Sudah kita usulkan, tapi kita kesulitan karena kementrian memiliki vendor sendiri, ada kesulitan bagi kami untuk memberikan undangan," tandasnya.

"Masih banyak program lanjutan setelah ini, nanti di kegiatan lainnya kami akan melibatkan masyarakat adat," pungkasnya. (Randy)