Helo Indonesia

Peratin Dian Setiawan Wafat, Air Mata Jatuh di Way Haru

Annisa Egaleonita - Nasional -> Peristiwa
Sabtu, 3 Mei 2025 09:35
    Bagikan  
Peratin Dian Setiawan Wafat, Air Mata Jatuh di Way Haru

DIAN SANG PENERANG - Mirza di Tejang, Pulau Sebesi dan Jihan di Way Haru (kiri), mendiang Peratin Way Haru, Dian Setiawan dan Davit Kurniawan 29 Agustus 2025. | dok. IDC/SEDESA RMD/Muzzamil/Helo Indonesia

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun. Warta merta, kali ini dari keluarga besar dan masyarakat Pekon (Desa) Way Haru, Kecamatan Bangkunat, Kabupaten Pesisir Barat. Peratin (Kades) Way Haru, Dian Setiawan, yang juga Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kecamatan Bangkunat, dikabarkan wafat, Jumat (2/5/2025) circa pukul 09.10 WIB.

Keterangan pihak keluarga, mendiang Dian telah mengeluh sesak napas, nyeri pada dada dan bagian ulu hati, sejak pukul 2 dini hari.

Kepala Puskesmas Bangkunat, Maria Susanti, menjelaskan, almarhum dinyatakan meninggal dunia usai serangkaian pemeriksaan fisik dan medis dilakukan. Maria bilang, almarhum Dian yang dalam kondisi tidak sadarkan diri tiba di ruang UGD sekitar jam 09.05 WIB.

Berdasar pemeriksaan medis, di tubuh Peratin dua periode itu tidak ditemukan aktivitas denyut jantung maupun respons pupil. "Hasil pemeriksaan EKG menunjukkan tidak adanya aktivitas kelistrikan pada jantung. Almarhum dinyatakan meninggal dunia pada pukul 09.15," ujarnyi.

Penelusuran, info duka selain dikonfirmasi sejawat mendiang sesama Peratin, juga turut dibenarkan Masnur, perwakilan keluarga.

"Telah berpulang ke Rahmatullah, adik kami Dian Setiawan bin Mukhtar, pukul 09.00 WIB. Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT dan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya," kutipan info duka.

"Atas nama Pemerintah Kecamatan Bangkunat, kami sampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya. Almarhum merupakan figur yang dikenal baik dan berdedikasi tinggi bagi masyarakat,” tutur Plh Camat Bangkunat, Darul Hisan, Jum'at.

Sang camat, turut membersamai untuk yang terakhir kali, turut serta dalam rombongan enam kapal nelayan yang mengantar pulang jenazah mendiang dari Pelabuhan Kota Jawa melalui laut menuju ke rumah duka Way Haru hingga dimakamkan di TPU setempat.

Kabar kontan merebak, sejawat kompatriot Dian Setiawan di jejaring komunitas 25 desa pejuang listrik desa di Lampung yang sampai detik ini belum dialiri listrik karenanya terus berhimpun perjuangkan diri, serta jejaring FGD Desa Kawasan Hutan (DKH) Lampung pimpinan Koordinator Presidium Abu Hasan sejak 2022 silam, turut terpukul. Turut amat kehilangan. Ramai-ramai berbelasungkawa. Termasuk senator Lampung Bustami Zainudin.

"Allah sayang dengan almarhum. Semoga beliau husnul khotimah. Kami akan terus perjuangkan cita-cita rakyat Way Haru," tutur Koordinator Presidium FGD DKH Lampung Abu Hasan, jelang salat Jum'at, pilu.

Semasa hidupnya, sosok Peratin Dian yang lahir di Kampung Baru, 15 Agustus 1986 silam, seperti sesuai dengan nama, terbukti menjadi "dian", menjadi penerang, tidak saja bagi Way Haru nun juga bagi sekitar.

Senasib sepenanggungan, menjadi landasan kekuatan jiwa dan ikhtiar bersama, mengejar pemajuan dan membungkus ketertinggalan.

Way Haru --takdir bentang alamnya notabene termasuk daerah tertinggal, terpencil, terluar senada wilayah kecamatannya Bangkunat, pun senada wilayah Pesisir Barat yang juga kabupaten muda termuda Lampung.

Di Kecamatan Bangkunat yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tanggamus ini, selain Way Haru, tiga desa lainnya: Pekon Bandardalam, Pekon Way Tiyas, Pekon Siring Gading, juga masih terisolasi.

Keempatnya belum terakses infrastruktur jalan, listrik, pun internet memadai. Lokasi keempatnya: meletak dekat hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) hingga menyulitkan berbagai layanan dasar tersebut bisa masuk, adalah kendala utama.

Mengutip ulang rilis Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat, melalui Kadiskominfotik Suryadi dua tahun lalu itu, masih ada 71 desa di Pesisir Barat mengalami nirsinyal (blank spot). Sebab itu, Pemkab sini terus berupaya meningkatkan jaringan telekomunikasi dengan ragam jalan atasi area nirsinyal (penguatan jaringan), agar rakyat Pesibar nikmati koneksi telko lancar.

Pemkab Pesibar antara lain mengusulkan ke Kemkominfo (kini Kemkomdigi) dan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI), juga ke provider telko Telkomsel guna sediakan layanan sinyal agar rakyat setempat bisa menikmati jaringan internet dan tak ada lagi daerah yang mengalami susah sinyal.

Way Haru sedikit beruntung. 2023 lalu, proyek pengadaan internet inisiasi Kemkominfo yang berada di desa ini, diresmikan.

Memoar epik lainnya, bagian cuplikan ilustrasi keberpihakan, wabil khusus Pekon Way Haru ini yakni saat (saat itu masih berstatus calon gubernur dan wakil gubernur Lampung pada Pilgub 2024) duet Rahmat Mirzani Djausal dan Jihan Nurlela (Mirza-Jihan) menjadikan Way Haru sebagai bagian entitas konten utama kampanye politik Pilkada.

Istimewa bahkan, dengan cagub Mirza berada dan menginap di rumah warga Pulau Sebesi Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, dan Jihan berada dan menginap di rumah warga Pekon Way Haru dalam rangka kampanye hari pertama dari kawasan 3 T di Lampung, profil Way Haru turut semakin meroket menjadi isu arus utama daerah bahkan nasional.

Perjuangan Way Haru --berikut pula dengan kepemimpinan "smooth" nan egaliter Peratin Dian, tak ayal menjadi makin mengharu biru.

Melalui aktivis digitalisasi desa sejak 2014, pentolan Inkubator Desa Cerdas (IDC), yang juga anggota Bidang Penggerak Desa TPT Mirza-Jihan, Davit Kurniawan, memimpin langsung uji coba layanan internet desa di sini, akhir Agustus 2024 lalu. Dan, berhasil.

Penyelia, IDC ini lembaga vokasi bergerak di bidang penyediaan fasilitas, sumber daya dan pengembangan usaha baik manajemen pun teknologi serta mendorong kolaborasi dengan pemerintah desa untuk beri dampak kepada ekosistem digital desa. Tujuan IDC, membina desa melalui mentoring sebagai dukungan mewujudkan perubahan peradaban digital di desa yang signifikan menuju Indonesia Emas 2045.

Gabungan reportase Admin Web Desa Pekon Way Haru, juga pewarta LKBN Antara, Riadi Gunawan, saat itu mengilustrasikan capaian akses internet, kebahagiaan baru Way Haru.

"Di sebuah desa terpencil yang tersembunyi di balik hijaunya hutan dan hamparan lautan, hari ini menjadi momen bersejarah bagi anak-anak Desa Way Haru. Koneksi internet yang selama ini hanya jadi impian akhirnya resmi tersedia, membawa perubahan besar yang menyentuh hati banyak pihak," tulis Admin Web Desa ini, melaporkan.

"Pagi ini, suasana ceria memancar dari setiap sudut desa. Warga desa, yang terdiri dari perangkat desa, dan anak-anak, berkumpul di samping pelataran kantor pemerintahan desa dengan penuh antusias. Mereka merayakan peluncuran koneksi internet yang baru saja terhubung," sambungnya.

"Anak-anak yang sebelumnya harus puas dengan kegiatan luar ruangan dan membaca buku di perpustakaan desa kini dapat merasakan sensasi dunia digital. Dengan tatapan penuh keajaiban, mereka duduk di depan komputer yang baru dipasang, mengakses informasi, belajar online, dan berinteraksi dengan dunia luar yang selama ini hanya bisa mereka bayangkan."

Sang Admin mewarta, koneksi internet ini hasil kerja keras dan dedikasi berbagai pihak, mulai dari Inkubator Desa Cerdas (IDC) dan Relawan SEDESA RMD yang peduli dengan pendidikan anak-anak daerah terpencil.

"Setiap tetes keringat, setiap usaha yang dilakukan, akhirnya membuahkan hasil yang sangat menggembirakan," admin impresif.

Peratin Way Haru, Dian Setiawan, tidak bisa sembunyikan rasa haru. "Ini adalah hari yang sangat bersejarah untuk kami. Kami tahu betapa pentingnya akses informasi dalam dunia yang terus berkembang ini. Dengan adanya internet, anak-anak kami memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang seperti anak-anak kota besar."

Selain itu, imbuh Peratin Dian, koneksi internet ini bisa memberi harapan baru bagi perbaikan layanan publik, layanan pemerintahan desa, serta perekonomian desa agar dapat lebih menyesuaikan dengan perkembangan digital.

Di sisi lain, internet dan media sosial sangat berpeluang dimanfaatkan secara positif untuk rakyat. Banyak hal bisa dilakukan, dari kemudahan akses informasi pendidikan, hingga pengembangan UMKM digital.

Ketua IDC, Davit Kurniawan, mengingatkan pentingnya koneksi internet di daerah 3T karena dapat beri akses informasi maupun pendidikan setara ke seluruh anak yang tinggal di pedalaman.

"Koneksi internet bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang memberikan akses yang setara kepada semua anak. Kami percaya bahwa setiap anak, di mana pun mereka berada, berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Dengan adanya internet, kami berharap anak-anak di Desa Way Haru dapat mengejar impian mereka dan berkontribusi pada masyarakat yang lebih luas," tutur Davit, Presiden BEM PT Darmajaya 2004–2005 silam, mantan caleg DPD RI dapil Lampung nomor urut 7 pada Pemilu 2024 lalu.

Pemasangan jaringan internet di desa ini menggunakan teknologi yang beroperasi melalui frekuensi Ku-band dan Ka-band untuk komunikasi data. Untuk memasang piranti di desa ini, warta Riadi, teknisi harus naik ojek.

IDC akui pemasangan internet ini mempunyai tantangan tersendiri: lokasi desa terpencil, warga harus menempuh jalan terjal, tiga jam, untuk menuju kawasan listrik memadai.

"Kondisi ini tak mematahkan semangat untuk mendapatkan sinyal internet yang optimal, melalui pemasangan tiang, router, kabel, dan kabel tenaga, dengan sumber energi utama berasal dari mesin disel," imbuh warta Riadi.

Koneksi ini juga diharapkan dapat bekerja selaras dengan proyek pengadaan BTS 4G yang telah pemerintah siapkan guna dorong pemerataan infrastruktur digital nasional.

Kabar naas Way Haru pernah terdengar saat musibah kebakaran melanda Balai Pekon setempat diduga akibat arus pendek panel listrik tenaga surya, Kamis (29/2/2024) jam satu siang. Tak ada korban jiwa, hanya saja ATK, laptop kantor hingga ratusan kursi plastik ludes terbakar. Kegurian materiil ratusan juta.

Pengingat, Way Haru juga Dian pernah turut ramai diperbincangkan publik nasional, saat beberapa waktu lalu sempat viral salah satu warganya, seorang ibu hamil harus dibawa dengan ditandu bergantian oleh puluhan warga lainnya menyusuri kawasan pantai menuju ke Puskesmas Bangkunat, demi untuk dapat menjalani persalinan. Video amatirnya, menyentak naluri kemanusiaan sesiapapun yang menontonnya. Nurani, tercabik.

Pun kembali sama viral, saat video amatir menunjukkan sejawat Dian Setiawan, yakni Peratin Bandardalam, Kecamatan Bangkunat, Rudi Meilano, yang mengeluhkan sakit perut kelewat parah hingga harus dibawa keluar dari wilayah Way Haru; terpaksa dievakuasi puluhan warganya senada cara dengan digotong menggunakan tandu dari susunan papan dan bambu sekadarnya, menempuh empat jam perjalanan kaki hingga sekitar 12,2 kilometer dengan rute melewati jalan darat, bibir pantai, hingga menyeberangi beberapa sungai besar menuju Puskesmas Bangkunat, pada Jum'at pagi, 18 April 2025 lalu.

Peratin Dian, sontak turut jadi "jubir dadakan" lantaran keterangannya diburu awak media ikut menjelaskan, "Jika ditotal jarak tempuh Bandardalam menuju Sumberrejo mencapai 12,2 kilometer dengan perkiraan perjalanan butuh hingga 4 jam. Maka dari itu evakuasi memang mengharuskan melibatkan banyak warga bergantian," jelas Dian, lelagi menitip harapan agar upaya membuka keterisoliran Way Haru dapat segera terwujud, sehingga kejadian serupa tak lagi terjadi dan warga setempat dapat lebih mudah mendapatkan layanan kesehatan yang terbilang mendesak.

Way Haru, sebagian besar dihuni masyarakat adat Marga Belimbing, telah mengalami lebih dari dua abad masa-masa sulit: terisolasi.

Sejak penduduk mulai bermigrasi ke sini pada 1918, populasinya terus berkembang nun tidak dengan infrastrukturnya. Jalan utama menuju sini bahkan tak pernah dibangun sejak itu.

Gerobak sapi dan trail modifikasi yang mampu menembus medan sulit menuju sini, dua moda transportasi 'termewah' Way Haru, desa seluas 12.661 meter persegi ini.

Sulitnya medan, bayangkan: ada tujuh muara yang harus dilewati untuk mencapai jalan lintas Lampung-Bengkulu, lima di antaranya tak ada jembatannya. Saat musim hujan tiba, muara-muara ini kerap banjir, menjadikan perjalanan warga sini jadi tak mungkin dilalui.

Bahkan di titik paling berbahaya seperti Tebing Batu Krokos (menjorok ke laut), warga harus berani hadapi deburan ombak yang dapat mengancam nyawa. Kehidupan di sini bukan hanya tentang mencari nafkah, tetapi juga tentang bertahan hidup dari alam yang kadang-kadang bersikap ganas.

Kaya hasil bumi, harga keekonomiannya kalah dengan ongkos angkut. Harga kelapa di Way Haru misal, bisa jauh lebih murah dibanding biaya angkutnya ke pasar terdekat, Way Heni.

Terisolir fisik, berimbas terisolir ekonomi. Petani Way Haru terpaksa jual hasil panennya jauh lebih rendah dibanding pasar-pasar di kota besar seperti Krui. Ongkos angkut tinggi tak hanya menambah biaya produksi mereka, tetapi juga membuat mereka rentan terhadap fluktuasi harga komoditas seperti pisang.

Peratin Way Haru, Agustus 2024 lalu tegas menyatakan, mereka tak ingin hanya dijadikan komoditas politik jelang Pemilu, tetapi mereka menginginkan solusi konkret berkelanjutan atas problem dua abad keterisolasiannya.

Cercah harapan mulia itu membuncah salah satunya dengan terentaskannya kendala soal akses internet tersebut. Kini terus berproses, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal juga Bupati Pesisir Barat Dedi Irawan, baik bersamaan maupun terpisah, terus sama berjuang mendekatkan upaya dibangunnya akses infrastruktur jalan dan jembatan serta akses listrik ke desa simbol perjuangan lawan ketertinggalan belahan barat Lampung ini.

Sang kedua pemimpin, terkonfirmasi sama sekali menjauhkan Way Haru dari sematan komoditas politik alih-alih pampasan perang, keduanya lebih jauh mengharu-birukannya, menjadikan masa depan Way Haru yang tak lagi terisolasi, datang lebih cepat. Keduanya, mendekatkannya: tereksekusi, pecah di kaki.

Belum terlantik, baru berstatus gubernur terpilih, Rahmat Mirzani Djausal telah terbang ke Jakarta bersua Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melobi anggaran khusus program pembangunan tiga unit fasilitas kesehatan sekaligus: RSUD Tulang Bawang Barat, RSUD Pesisir Barat, dan Puskesmas Rawat Inap Pekon Way Haru!

Gubernur terpilih Mirza, Menkes dua periode Budi Gunadi Sadikin pun sama berkomitmen. Mewujudkannya, dengan sinergi kolaborasi. Lewat pertemuan hangat 16 Januari lalu itu.

"Mirza-Jihan berkomitmen untuk menjadikan pembangunan desa-desa 3T sebagai prioritas utama dalam program kerja kami. Guna memastikan seluruh masyarakat Lampung, terutama yang berada di wilayah terpencil, dapat menikmati hasil pembangunan yang adil dan merata. Harapan kami, melalui program strategis yang kami usung ini, Lampung dapat menjadi provinsi yang lebih inklusif dan sejahtera bagi seluruh warganya," rilis kampanye hari pertama Pilgub lalu, Mirza dari Desa Tejang di Pulau Sebesi, dan Jihan dari Pekon Way Haru. Kampanye tematik.

Hingga kini seperti terpantau, Way Haru yang berpopulasi sedikitnya 1.162 jiwa: 648 laki-laki dan 514 perempuan yang tersebar di 11 dusun antara lain Atar Sikuk, Citta Mulya, Kappung Baru, Pengekahan, Titi Jati, Way Batang, Way Batu, Way Binjai, Way Haru Induk, Way Kandis, Way Napal, dan Way Nebak; ini, masih terus menjadi pelototan mata republik.

Sejenak terjeda lara batin, warta merta kepergian Dian Setiawan, sang Peratin.

Bila lalu-lalu, terakhir 18 April lalu, Dian turut jadi penyaksi betapa perih jerih upaya luar biasa menyelamatkan nyawa manusia sekitar sekelilingnya. Kini, pada Jum'at 2 Mei kemarin, giliran dunia yang jadi penyaksi kepergiannya kembali kehadirat Sang Ilahi. Hari terakhirnya, menyapa Bumi.

Selamat jalan pejuang peretas keterisolasian, selamat jalan Peratin Dian Setiawan. Banyak yang bersaksi, engkau orang baik. (Muzzamil)