Helo Indonesia

Obituari KH Ismail Zulkarnain, Rahasia 40 Tahun Antara Saya Dengannya

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
Minggu, 29 Juni 2025 22:02
    Bagikan  
-
HELO LAMPUNG

- - Saya dan Ismal ketika menghadiri perayaan perkawinan keponakannya, putra Ir. Ahmad Zaini

Oleh Herman Batin Mangku*

DI ANTARA ribuan pelayat yang datang bergelombang, melintas sekilas, perjalanan panjang saya yang beririsan dengan KH Ismail Zulkarnain, SH (53) bin Kiagus Zainap Arifin sekitar 40 tahun. Ya, saya sudah mengenalnya sejak dirinya masih anak-anak yang tumbuh dari dekat Sungai Kaliawi sejak tahun '80-an.

Alhamdullilah, saya bersyukur dan bangga menyaksikan prosesi pemakaman Abah Ismail di Pondok Pesantren Yatim Piatu Tahfizdzul Qur’an Riyadhus Sholihin di Jl. Harun II, Gg. Agus Salim, Kotabaru, Kota Bandarlampung, Minggu (29/6/2025). Mereka datang dari berbagai kalangan. 

undefined

Bersyukur dan bangga, KH Ismail Zulkarnain merangkak dari bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa kemudian bisa dekat dengan para jenderal, pejabat, pengusaha, ormas, LSM, wartawan, seniman, sampai pedagang ikan di Pasar Smep.

KH Ismail Zulkarnain menjadi tokoh besar, penting, dengan meninggalkan jejak karya besarnya pondok bagi anak-anak yatim piatu dan kaum dhuafa penghapal Alquran yang elite bahkan berhasil mengantarkan mereka jadi sarjana, TNI, kepolisian, dll.

Semuanya dimulai dari nol tahun 2005. Kini, pondok Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) tumbuh melesat jadi pondok yatim piatu termegah. Setelah kelar pembangunan masjid besar, dia baru saja memulai pembangunan gedung sekolah lima lantai buat anak-anak yatim piatu.

undefined

TAHUN 80-AN

Bersyukur dan bangga telah mengenalnya sejak kecil. Ketika masih SMP, dia jalan kaki bergantian dengan kakaknya kerap bermain ke rumah uwaknya, Om Rusdi dari Kaliawi ke Perumahan Kompleks Dolog di Jl. Dr. Susilo, depan Rumah Dinas Gubernur Lampung. Pulang, dia tersenyum bawa uang jajan dari  uwaknya yang sangat baik hati. 

Rumah uwaknya, orangtua saya, dan keluarga Wakil Rektor Bilang PKTIK Unila Prof. Dr. Ayi Ahadiat, SE, MBA bertetangga sehingga membuat kami berkawan sejak kecil. Kami sebaya kakaknya, makanya saya dan Ayi tetap memanggil Abah Ismail dengan hanya nama saja hingga kini. 

Bahkan, kadang cukup dua huruf akhir namanya. Walau sosoknya kemudian sempat "disegani" karena keberaniannya terutama saat muda masih mencari jati diri, namun luar biasanya, dia tetap hormat dan santun dengan orang-orang yang telah dianggapnya kakak. Ketika bapak saya pulang, dia hadir ke pemakaman. 

Takdir pula, saya satu angkatan kuliah dengan kakak iparnya, yakni Ir. Ahmad Zaini yang menikah dengan ayunya bernama Yanti, guri SMPN 9 Goro. Ibu isterinya, kembali "kebetulan", masih kerabat asal Kabupaten Lampung Barat yang kemudian dimekarkan jadi Kabupaten Pesisir Barat.

Ketika keluarga saya pindah dari Kota Palembang ke Tanjungkarang, jelang tahun 70-an, kami tinggal sementara di rumah kakek istrinya Ismail di Pakiskawat. Saat melayat, saya bertemu dengan paman istrinya Ismail.

undefined

AWAL TAHUN 2000

Saat memulai kehidupan, ada kenangan jelang tahun 2000-an, sekelompok massa menggeruduk SKH Trans Sumatera, pecahan SKH Lampung Post. Sekretariat perusahaan dan redaksi panik melihat massa yang sangar-sangar siap mengobrak-abrik kantor.

Ketika itu, saya sendirian di redaksi. Mau tak mau, sebagai redaktur, saya yang harus menerima gerombolan tersebut. Ternyata, komandannya Ismail Zulkarnain. Entah terpengaruh apa, dirinya tampil sangar seolah tak mengenal saya sama sekali.

Saya persilahkan duduk bersama gengnya di meja rapat. "Ya, ada apa?" tanya saya. Ismail langsung nyerocos pakai muka merah sambil menghentak meja yang intinya tak terima pemberitaan dugaan ketidakberesan pelaksanaan proyek pemerintah.

undefined

Baca juga: Tutup Usia, KH. Ismail Zulkarnain Ponpes Riyadhus Sholihin

Tapi, Ismail tak bisa mengklarifikasi dan menjelaskan tulisan mana yang keliru dari berita pelaksanaan proyek tersebut. Mau tak mau, dia kemudian memberikan nomor konteks bosnya agar tanya langsung apa yang menjadi keberatannya.

Saya tersenyum, Ismail ternyata lagi dapat order mengintimidasi media dari pengusaha yang cukup dikenal hingga kini. "Bang jago" kemudian semakin eksis dalam dunia "backing membacking" hingga dikenal kalangan elite daerah ini. 

Dengan keberanian dan bekal ilmu bela dirinya, Ismail semakin mentas di dunia "kahe". Dirinya sempat diorder BUMN bertaruh nyawa untuk menghalau massa dengan parang di tangan yang hendak menguasai lahan perkebunan pascarefornasi.

Bersama anak buahnya, mereka aksi mendaratkan golok tajam berkali-kali ke dada dan tangan yang akhirnya membuat ciut mereka yang hendak merangsek menduduki lahan perusahaan perkebunan milik negara. Ismail berhasil memukul mundur dan kehidupannya terus bergulir menyerempet bahaya. 

undefined

Sampai-sampai, Ismail pernah memberitahu saya teknik posisi dan kuda-kuda menaklukan lawan sang musuh dengan cepat saat sang lawan baru saja berpikir hendak memulai serangan.

Saya mengangguk-angguk sambil meminum ramuan kesehatan herbalnya. Mau bilang gak zamannya lagi adu otot dan kebal golok, gak enak, saya yakin  adik yang satu ini tengah berproses untuk survival sebelum menemukan jati dirinya. 

Terkonfirmasi soal "abang jagonya", dalam buku KH Lukman Hakim dan Abu Mansyur Al Asy'ari yang terbit pada 6 April 2021, kisah Ismail dengan judul "Mantan Preman Jadi Kiai".

undefined

TAHUN 2005-2025 

Benar saja, "Bang Jago" ternyata kemudian bermetamorfosa dengan keberanian dan kecerdasan memilih kembali ke jalan agama. Setelah lulus dari IAIN Raden Intan, Ismail pernah mengatakan terinspirasi dengan keberanian dan relijiusitas Almarhum Zubaidi Mastal, dosen dan tetangganya di Kaliawi. 

Rumahnya yang berada di seberang Sungai Kaliawi pas berada di belakang sekolah milik Almarhum Zubaidi Mastal, jadi inspirasinya tumbuh sebagai sosok sang "anak nakal" yang akhirnya memilih kembali ke jalan relijiusitas (hijrah) 

Zubaidi Mastal adalah akademisi IAIN (sekarang UIN) Raden Intan, yang tertarik pada integrasi agama dan budaya lokal, serta perkembangan teologi modern, dengan perhatian terhadap tantangan modernisme, sekularisme, dan local wisdom.

Pada masa Orde Baru, sosoknya berani menyatakan sikap sampai dianggap radikal terhadap Presiden Soeharto yang dinilainya otorism dan sekuler. Perguruannya dan gerak-geriknya dibayangi intel semasa Rezim Orde Baru. 

Meski bukan lahir dari lingkungan pesantren, dengan gigih, Ismail terus mendalami agama. Semuanya dimulainya dari nol dengan membuat tempat untuk penampungan anak-anak yatim piatu dan kaum dhuafa sampai kemudian dirinya mulai berdakwah di berbagai mimbar pengajian. 

Pernah diundang keluarga besar saya, dia ceramah dengan penuh semangat, diselingi ayat-ayat dan joke-joke tipis, memukau para undangan, terutama emak-emak. Usai ceramah, dia mendekati saya dan berbisik: Gimana, sudah bisakan? "Sip," bisik saya pula. 

Tahun 2010-an, saat saya berkunjung ke pondoknya, dia sempat mengungkapkan visi, misi, hingga mimpinya punya tempat bagi anak yatim piatu sekelas hotel bintang 5 dan ingin dimakamkan dekat musola kecil komplek pondoknya. 

Dan, saya menyaksikan semua mimpinya dijabah Alloh SWT bahkan mungkin meleset di atas ekspektasinya. Minggu (29/6/2025), dirinya dimakamkan di taman depan masjid yang megah dalam komplek pondoknya, Masjid Nur Rahmah.

Dia sempat bercerita tak menyangka walau penuh perjuangan akhirnya diizinkan Alloh SWT bisa menyelesaikan masjid yang sangat dibanggakannya.

undefined

KH Ismail Zulkarnain, SH kembali bermimpi membangun sekolah lima lantai VIP dari SD-SMK untuk anak-anak yatim piatu dan kaum dhuafa tanpa bayar dari berbagai daerah. Pembangunan baru dimulai, 50 tiang dengan diameter cakar ayam 2 meter sejak 2 Mei 2025.

"Insya Alloh, Alloh Maha Kaya, Alloh mudahkan segalanya," ujarnya. Mimpinya kali ini belum sempat disaksikannya terwujud. Alloh SWT berkehendaK lain, dirinya dipanggil pada Sabtu (28/6/2025), pukul 19.07 WIB. 

Saya bersyukur campur bangga menyaksikan perjalanan 40 tahunnya dengan amal jariah yang luar biasa. Banyak anak-anak yatim piatu dan kaum dhuafa asuhannya yang tak hanya hapal Alquran tapi juga berhasil diantarkannya jadi sarjana, anggota TNI, polisi, dan berbagai profesi lainnya.

undefined

Ada yang juga ditinggalkannya, dirinya telah membuktikan bahwa dengan kekuatan soliditas berbagai pihak ternyata bisa mengantarkan anak-anak yatim piatu dan kaum dhuafa memeroleh kesempatan yang sama meraih bintang di langit dengan tetap selalu bersujud.

Selamat jalan Dinda Ismail. Innalilahiwainnalilahirojiun, sesungguhnya kami milik Alloh dan kepada-Nya lah kami kembali. Allohummaghfirlahu warhamhu wa'afini wa'fu anhu. Saya bersaksi kamu orang baik sebagaimana diakui ribuan pelayat dari berbagai kalangan.

Insya Alloh anak-anak yatim piatu dan kaum dhuafa, keluarga, kerabat selalu mengirimkan doa dan merindukanmu bisa berkumpul kembali bersama umat Muhammad SAW di jannah-Nya. Aamiin ya Rob. 

*Pemred Club

undefined


 -